Pangkas Kesenjangan dengan Pemberdayaan

By Suara Muhammadiyah

- Advertisement -

Berita Terbaru

Majalah Suara Muhammadiyah Kembali

https://www.youtube.com/watch?v=aVUV2i1xMD0 YOGYAKARTA, Suara Muhammadiyah - Dua bulan ternyata terlalu lama untuk ditunggu, ketika setiap hari hanya menumpuk...

Teliti Parenting Kecerdasan Majemuk, Dosen Unmuh Ponorogo Raih Gelar Doktor

YOGYAKARTA, Suara Muhammadiyah - Anak adalah amanah Allah SWT yang wajib dijaga dan diasuh dengan sebaik-baiknya. Sejak pertama kali dilahirkan seorang anak...

Rektor UNMUHA: PTMA Harus Punya Branding yang Kuat

BANDA ACEH, Suara Muhammadiyah – Unmuha adalah salah satu perguruan tinggi yang merupakan penyumbang pemikiran pendidikan di Indonesia. Universitas Muhammadiyah Aceh memproritaskan...

Saatnya Melangkah Berjamaah

Sudah lelah kita berwacana…Sudah lelah kita berdebat……Sudah lelah kita saling bersaing antar sesama…..Sudah lelah kita saling bermain sendiri-sendiri… KINI...

Lima Poin Pernyataan PP Muhammadiyah terkait New Normal

YOGYAKARTA, Suara Muhammadiyah – Pimpinan Pusat Muhammadiyah mengeluarkan pernyataan sikap terkait dengan pemberlakuan New Normal. Berbagai pemberitaan dan pernyataan Pemerintah tentang “new...
- Advertisement -

YOGYAKARTA, Suara Muhammadiyah – Ketua Majelis Pemberdayaan Masyarakat (MPM) Pimpinan Pusat Muhammadiyah M Nurul Yamin mengungkapkan bahwa setiap kali momentum politik persoalan kesenjangan masih menjadi probem bangsa Indonesia.

“Politik yang memiliki makna ideal untuk pemberdayaan dan kesejahteraan masyarakat nampaknya masih menjadikan rakyat miskin sebagai retorika politik,” kata Yamin dalam Outlook MPM for Indonesia 2019 di Grha Suara Muhammadiyah, Selasa (8/1).

Menurutnya, jika diamati dari para kandidat, dari Pemilu ke Pemilu berikutnya isu tentang kemiskinan, isu tentang kelompok marjinal selalu menjadi isu yang dikemukakan. “Bahkan ditambah dengan angka-angka statistik,” imbuhnya.

Oleh karena itu menurut Yamin, MPM menyadari penuh tentang kesenjangan tersebut dan mengidentifikasi dimana titik-titik masyarakat yang termarjinalkan.

Hal tersebut ada dalam masyarakat petani, nelayan, buruh, disabilitas, kelompok marjinal perkotaan, pemulung, tukang becak, dan juga kelompok masyarakat di daerah 3T (terdepan, terpencil, dan tertinggal).

“Sejak tahun 2005 ketika MPM ini dibentuk oleh Pimpinan Pusat Muhammadiyah sebagai akselerasi dari Lembaga Buruh Tani dan Nelayan kita fokus pada isu-isu itu,” ungkap Yamin.

Dalam agenda tersebut menghadirkan Ahmad Ma’ruf (Wakil Ketua MPM PP Muhammadiyah), Amir Panzuri, Arni Surwanti (Koordinator Divisi Difabel) dan Suadi (Divisi Pertanian Terpadu). (Riz)

Baca juga

Inspirasi Ahad Pagi MPM, Belajar Semangat dari para Difable

Majelis Tarjih dan MPM Adakan Workshop Fikih Difabel

MPM Dampingi Petani Berantas Hama Tikus

Teologi Integrated Farming System

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -
- Advertisement -

More articles

- Advertisement -