smamda
Berita

Jangan Sampai menjadi Era Matinya Hati Nurani

Para narasumber menyampaikan materi dalam Dialog Kebangsaan tentang Tantangan Agama dan Kebangsaan di Era Post Truth
(Foto: Anom Prihantoro)
Para narasumber menyampaikan materi dalam Dialog Kebangsaan tentang Tantangan Agama dan Kebangsaan di Era Post Truth (Foto: Anom Prihantoro)

JAKARTA, Suara Muhammadiyah-Dialog Kebangsaan Lintas Agama dengan tema “Tantangan Agama dan Kebangsaan di Era Post Truth” digelar oleh Gerakan Suluh Kebangsaan bekerja sama dengan PP Muhammadiyah, pada Kamis, 10 Januari 2019.

Dialog yang berlangsung di Gedung PP Muhammadiyah Jakarta ini dihadiri oleh para tokoh nasional lintas agama. Di antara yang menjadi narasumber adalah tokoh Katolik Romo Benny Susetyo, Ketua Gerakan Suluh Kebangsaan Prof Mahfud MD, Ketua PP Muhammadiyah Prof Dadang Kahmad, Sekum PP Muhammadiyah Abdul Mu’ti, dan para tokoh lintas agama lainnya. Dialog ini dipandu oleh Staf Khusus Presiden, Siti Ruhaini Dzuhayatin.

Dalam kesempatan itu, Abdul Mu’ti menyampaikan kekhawatirannya di era post truth. Jika Tom Nichols menyebutnya sebagai era matinya kepakaran, Mu’ti melihat lebih jauh tentang fenomena matinya nalar sehat yang ditandai dengan hilangnya daya kritis. Publik tidak lagi berpikir dan berbuat secara kritis. Padahal, berpikir kritis sebenarnya bagian dari kehidupan manusia yang sangat alamiah. “Yang sangat mengkhawatirkan matinya hati nurani, ini yang menurut saya menjadi pangkal semua yang sekarang dikhawatirkan,” ujarnya.

Mu’ti mengutip Qur’an Surat Al Hajj Ayat 46, “Maka, apakah mereka tidak berjalan di muka bumi, lalu mereka mempunyai hati yang dengan itu mereka dapat memahami atau mempunyai telinga yang dengan itu mereka dapat mendengar? Karena sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta ialah hati yang di dalam dada.”

Berdasarkan ayat ini, kata Mu’ti, hati manusia tidak hanya berhubungan dengan perasaan. Namun, hati juga berkelindan dengan akal. Qur’an menjelaskan bahwa yang membuat manusia buta bukan karena matanya tidak bisa melihat, tapi karena hatinya buta. “Kalau hati nurani sudah mati, orang akan menolak semua kebenaran. Kebenaran ilahiyah ditolak, kebenaran agama ditolak, karena hatinya sudah tertutup terkunci,” tuturnya.

Mu’ti mengaitkan matinya hati nurani dengan fenomena matinya kepakaran yang terjadi saat ini. Sekarang banyak orang yang berbicara mengenai sesuatu tanpa dituntun oleh ilmu tetapi dituntun oleh nafsu. Sehingga, kepakaran menjadi mati. Ketika hati sudah kotor, maka sulit menerima kebenaran. “Sebab kalau hati nurani sudah kotor, maka semua cahaya tidak akan bisa meneranginya,” tegasnya.

Menurutnya, teknologi merupakan alat. Manusia dengan potensi nuraninya harusnya bisa melampaui benda-benda itu. Manusia tidak boleh dikontrol oleh benda yang semakin pintar itu. Mu’ti juga menyoroti fenomena orang-orang yang tidak lagi menggunakan nalar kritis saat ini. Menurutnya hal tersebut terjadi karena ada culture lag. Terjadi ketika teknologi belum pas dengan tingkat pengetahuan masyarakat penggunanya.

“Saya melihat bangsa ini, kekuatan yang dimilikinya adalah kekuatan hati nurani. Menurut saya, bagaimana merawat kehidupan kebangsaan itu, kita harus merawat apa yang sudah kita miliki sebagai warisan budaya Indonesia. Budaya orang Indonesia yang saya tahu dan pelajari adalah kelembutan hati, hati yang lembut itulah yang dimiliki oleh bangsa Indonesia,” ulasnya.

Kekuatan bangsa ini juga adalah dalam hal kemajemukan yang tertata dengan harmoni. Bahkan, munculnya gejala sinkretisme dalam praktik beragama di Indonesia di antaranya adalah karena untuk menghindari konflik dan ketegangan.  “Munculnya sinkretisme untuk mencari harmoni di antara yang sudah eksis di masyarakat dengan keyakinan baru yang dibawa oleh masyarakat atau ke dalam suatu masyarakat,” tukasnya. (ribas)

Tambah Komentar

Klik disini untuk memberikan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *