Mengelola PTM harus dengan Integritas dan Kompetensi

By Suara Muhammadiyah

- Advertisement -

Berita Terbaru

Langkah Strategis MCCC Kalsel, Bantu Masyarakat hingga Tenaga Medis

BANJARMASIN, Suara Muhammadiyah - Muhammadiyah Covid-19 Comand Center (MCCC) Kalimantan Selatan telah jalankan beberapa program di beberapa daerah di Kalimantan Selatan, sejak...

Jenazah Covid-19 Harus Diterima dan Diperlakukan dengan Baik

YOGYAKARTA, Suara Muhammadiyah - Pasien yang meninggal akibat Covid-19 harus diperlakukan dengan penghormatan yang baik. Menurut Putusan Tarjih Pimpinan Pusat Muhammadiyah, pasien Covid-19 yang...

Menumbuhkan Semangat Berbagi di Tengah Wabah

YOGYAKARTA, Suara Muhammadiyah - Dalam rangka membantu masyarakat yang terdampak virus Corona, Suara Muhammadiyah menyelenggarakan kegiatan berbagi sembako. Kegiatan ini ditunjukkan...

Bantu Pemerintah, Muhammadiyah Pinrang Bentuk Tim MCCC

PINRANG, Suara Muhammadiyah - Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kabupaten Pinrang membentuk tim Muhammadiyah Covid-19 Command Center (MCCC). Tim tersebut dibentuk dalam rangka...

Ikhtiar 35 Rumah Sakit Muhammadiyah – ‘Aisyiyah Rawat Pasien Covid-19

YOGYAKARTA, Suara Muhammadiyah - Setelah hampir satu bulan melaksanakan tugas penunjukan Rumah Sakit Muhammadiyah dan Aisyiyah (RSMA) tempat perawatan pasien Covid-19, secara...
- Advertisement -

YOGYAKARTA, Suara Muhammadiyah-Ketua Majelis Diktilitbang PP Muhammadiyah Prof Lyncolin Arsyad menyatakan bahwa pengelolaan perguruan tinggi telah memasuki babak baru. Di era revolusi 4.0, tata kelola perguruan tinggi tidak bisa lagi mengandalkan cara-cara konvensional. Era keterbukaan juga membuat persaingan dalam bidang perguruan tinggi semakin ketat.

Perguruan Tinggi Muhammadiyah merupakan bagian penting dari pilar keunggulan Muhammadiyah yang harus segera berbenah. Sementara itu, PTM masih menghadapi berbagai problem. Di antaranya berupa lemahnya manajemen, kurangnya pemahaman nilai-nilai dasar persyarikatan di kalangan pimpinan, masih belum selarasnya relasi antara pimpinan PTM dengan pimpinan persyarikatan, serta belum terciptanya budaya organisasi yang baik.

“Kunci untuk mampu bersaing dan bertahan adalah pemimpin. Transformational leadership,” tutur Lyncolin dalam acara Leadership Training Pimpinan Perguruan Tinggi Muhammadiyah (PTM) Angkatan Ke-3 di Hotel Jayakarta, Yogyakarta, pada Senin malam, 14 Januari 2019.

Pemimpin PTM harus sejalan dengan nilai-nilai Muhammadiyah. Menurutnya, para pimpinan Perguruan Tinggi harus memiliki kompetensi mumpuni. “Jujur dan baik saja tidak cukup, tapi butuh kompetensi. Selain amanah juga harus fathanah. Punya ilmu. Kalau tidak punya ilmu, tidak bisa,” ungkapnya.

Inovasi-inovasi teknologi di bidang pendidikan seperti Massive Open Online Course (MOOC) dan Artificial Intelligence (AI) telah mampu menjadikan pendidikan semakin terbuka dan dapat diakses dengan sangat mudah. Keberadaan pengajar dan kelas secara fisik semakin tidak relevan. Jika tidak berbenah, maka akan tersingkir.

Hal lain, Lyncolin mengutip pesan Ketua Umum PP Muhammadiyah Haedar Nashir, bahwa para pimpinan harus menjadi teladan dalam laku cinta ilmu. “Pimpinan Perguruan Tinggi harus senang membaca, senang berdialog, senang ilmu. Jangan pernah berhenti belajar. Perguruan Tinggi adalah pencipta peradaban. Maka bagaimana bisa mencipta peradaban jika pimpinannya tidak cinta ilmu,” ujarnya.

Mengelola PTM itu mengelola aset umat. Para pimpinan harus punya ketrampilan dan daya tahan dalam menghadapi masalah. “Pimpinan Perguruan Tinggi juga harus punya daya tahan dan tidak cengeng, punya daya komunikasi dan negosiasi,” imbuh guru besar ekonomi Universitas Gadjah Mada ini. (ribas)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -

More articles