Berita

Hargai Kepakaran, Pakar jangan Arogan

Buya Syafii Maarif dan Muchlas Abror menyampaikan kultum di Grha Suara Muhammadiyah (Foto: rbs/SM)
Buya Syafii Maarif dan Muchlas Abror menyampaikan kultum di Grha Suara Muhammadiyah (Foto: rbs/SM)
Shares

YOGYAKARTA, Suara Muhammadiyah-Ketua Umum PP Muhammadiyah 1998-2005 Prof Ahmad Syafii Maarif mengajak warga bangsa untuk menyadari realitas yang berubah. Saat ini, dunia dijangkiti suatu era pasca kebenaran secara massif.

Asalkan sesuai dengan kecenderungan pribadi dan dekat secara emosi, akan dianggap sebagai kebenaran, tanpa dikonfirmasi lagi. “Pasca kebenaran, orang tidak lagi berpegang pada kebenaran, fiksi lebih dipercaya,” tuturnya di Grha Suara Muhammadiyah.

Buya Syafii merekomendasikan buku The Death of Expertise karya Tom Nichols yang mengulas tentang matinya kepakaran di era ini. “Kepakaran atau otoritas itu perlu dihargai. Tapi para pakar jangan sombong dan arogan, apalagi bersekongkol dengan penguasa,” ungkapnya. Ketika para pakar arogan, maka publik menjadi tidak percaya.

Dalam Qur’an, dikatakan, “Bertanyalah pada ahlinya jika kamu tidak tahu.” QS. An-Nahl [16] ayat 43 ini menjadi legitimasi bahwa Islam menghargai otoritas dan kepakaran. Orang yang ahli di bidang tertentu harus didengarkan. “Kita harus critical. Jika tidak punya ilmu, jangan ikut-ikutan. Jangan taklid,” ulasnya. Apalagi menelan mentah-mentah informasi di media sosial.

Kadang ketika berkaitan dengan syahwat kekuasaan, orang menjadi tidak waras, dan menghalalkan segala cara untuk membela kepentingannya. Bahkan memaksa Tuhan berpihak padanya. “Otoritas kebenaran menjadi kacau. Saya khawatir lama-lama orang sudah tidak lagi percaya dokter, lebih percaya google, percaya dukun,” katanya.

Dalam kondisi seperti ini, kebenaran menjadi seolah kabur. Terlebih ketika kebohongan yang diulang-ulang, kelak dipercaya sebagai kebenaran. “Dalam agama, ada ayat bahwa kalau kebenaran sudah datang, maka yang batil itu menjadi lenyap,” ujarnya. (ribas)

Ulasan selengkapnya tentang: era pasca kebenaran, infobesitas, dan matinya kepakaran, bisa disimak di Majalah Suara Muhammadiyah edisi nomor 2 tahun 2019

Baca juga:

Dakwah Digital: Narasi Alternatif Muhammadiyah

Narasi Alternatif di Dunia Virtual

Shares
aplikasi_suara_muhammadiyah

Tambah Komentar

Klik disini untuk memberikan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *