Agar Otak Tak Kalah Cepat dengan Jempol

By Suara Muhammadiyah

- Advertisement -

Berita Terbaru

UMS Kembali Menjadi Kampus Swasta Terbaik di Indonesia

SURAKARTA, Suara Muhammadiyah - Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) kembali menjadi perguruan tinggi swasta terbaik di Indonesia. Berdasarkan lembaga perangkingan perguruan tinggi internasional,...

UMY Kampus Swasta Terbaik DIY

YOGYAKARTA, Suara Muhammadiyah - Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) kembali berhasil menempati peringkat pertama sebagai Perguruan Tinggi Swasta (PTS) Terbaik se-Daerah Istimewa Yogyakarta.

Keputusan Menteri Agama Tidak Memberangkatkan Jamaah Haji Indonesia Tahun 2020

JAKARTA, Suara Muhammadiyah – Tahun 2020 ini tidak akan ada pemberangkatan jamaah haji dari Indonesia. Hal ini telah diputuskan oleh pemerintah melalui...

Siswi SMK Ahmad Dahlan Pinrang Juara Kultum Provinsi Sulsel

PINRANG, Suara Muhammadiyah - SMK Ahmad Dahlan (AD) Muhammadiyah Pinrang sukses mengakat nama baik Pinrang di tingkat provinsi. Dalam...

Gelar Silaturrahmi Idul Fitri, Pimpinan UHAMKA Optimis Hadapi Covid-19

JAKARTA, Suara Muhammadiyah-Civitas akademika Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. Hamka melaksanakan silaturrahmi Idul Fitri 1441 H. Dalam acara yang dilaksanakan secara daring ini,...
- Advertisement -

MALANG, Suara Muhammadiyah – Minatnya pada kajian media sosial dan media massa umumnya mendorong Nurudin untuk menelurkan banyak buku. Buku teranyarnya Media Sosial: Agama Baru Masyarakat Milenial menyajikan ulasan menarik dan tuntas seputar kemunculan media baru satu ini. Salah satu perkembangan yang menarik untuk dikaji dari media sosial, menurutnya adalah semakin marak beredarnya berita bohong atau hoaks.

Media sosial telah tumbuh dan sangat menentukan sikap dan perilaku masyarakat milenial. Bahkan, dijelaskan Nurudin, ia berkembang atau sengaja dikembangkan seolah sebagai agama. Karenanya, masyarakat cenderung mengaca pada media sosial, layaknya ajaran agama itu. “Padahal sebagian pesan media sosial perlu diyakini sebagai sebuah kebohongan yang dilegalkan,” kata dosen program studi (Prodi) Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Selasa (16/1).

Tentu saja, sambung Nurudin, dampak carut-marut pesan media sosial tidak hanya Hoaks dimana-mana, tetapi juga suasana saling membenci, mencaci, dan menghujat antar sesama. “Melihat perkembanganya, media sosial nyata telah mengancam disintegrasi bangsa. Media sosial telah menciptakan komunikasi di masyarakat berjalan dengan tidak tulus,” ungkapnya yang telah menerbitkan belasan buku ini.

Buku Media Sosial: Agama Baru Masyarakat Milenial mengeksplorasi mengapa itu terjadi, bagaimana dampaknya dan apa yang harus dilakukan agar media sosial tidak dijadikan kambing hitam semua sebab. Buku yang ditulis berdasar penelitian dan tulisan-tulisannya di media massa ini merekam jejak pasang surut pengguna media sosial dan dampaknya di masyarakat serta solusi yang harus dilakukan.

Penyebaran hoaks, ternyata bisa dilakukan siapapun. Tak dipungkiri masyarakat tengah dimabuk dan dimudahkan dengan teknologi. Mereka kebanyakan menyebar berita, bukan berdasarkan benar-salahnya. Melainkan sesuai dengan kecenderungan dirinya. “Otak kita seringkali kalah cepat dari jempol kita. Apalagi di tengah situasi politik saat ini, tidak bisa dipungkiri hoaks menjadi sangat politis,” ungkapnya.

Media sosial menjadi lahan paling subur penyebaran Hoaks. Sementara di media mainstream hoaks dapat ditekan karena terduri dari sistem kemediaan yang dituntut profesional. “Mereka punya karyawan, punya pembaca, punya penonton, sehingga kalau menyebar hoaks, ya, mesti hati-hati. Kalau tidak, akan diingatkan oleh aparat hukum. Konsekuensi terberatnya, media itu bakal bubar,” bebernya.

Sementara hoaks, biasanya disebarkan oleh aktor individual. Jika terindikasi akun yang dikelolanya terbukti melakukan aksi penyebaran hoaks, mudah saja, yang lantas dilakukan adalah menghapus akunnya. “Masalahnya di manapun dan kapanpun, hemat saya media itu lebih banyak menginduk kepada penguasa. Kita tidak usah mengkritik fenomena sekarang, memang sejak dulu sudah seperti itu,” ungkapnya.

Tugas mencerdaskan masyarakat tentang melek media, tegas Nurudin, bukan cuma tugas para akademisi seperti dirinya. ”Kalau saya sendiri, dalam setiap perkuliahan, pergaulan dan diskusi saya selalu menekankan untuk selalu melek media. Melek media itu adalah kita sadar media selalu punya dampak negatif. Kalau sudah sadar, orang cenderung berhati-hati. Inilah yang kita sebut dengan praktik media literasi,” sebutnya.

Perhatian besarnya pada gerakan literasi media yang akhirnya mangantarkan Nurudin mendapat ganjaran ketua Prodi terbaik dari Kopertis Jawa Timur saat menjabat sebagai Ketua Prodi Ilmu Komunikasi beberapa tahun silam. “Beberapa kali kami lakukan kegiatan literasi media ke SMP-SMA yang menurut kami jadi sasaran empuk Hoaks. Meskipun disadari, menangkal penyebaran hoaks itu sangat sulit,” tuturnya. (Humas UMM)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -
- Advertisement -

More articles

- Advertisement -