smamda
Kolom

Sudirman Kader Militan Muhammadiyah

Dok SM
Dok SM

Oleh: M Muchlas Abror

PENULIS pada tahun 1978 sering ke Surabaya antara lain bersama H Muhammad Mawardi. Bukan berwisata, tetapi untuk melaksanakan tugas Muhammadiyah. Tugas mempersiapkan Muktamar Muhammadiyah ke-40 di Kota Pahlawan. Sebab, kami ditunjuk PP Muhammadiyah menjadi Panitia Pusat Muktamar ke-40 dan penulis sebagai Sekretaris. Maka rapat koordinasi dengan Panitia Penerima Muktamar ke-40 di Surabaya harus sering dilakukan. Agar Muktamar ke-40 berlangsung sukses.

HM Mawardi adalah putera kelahiran Kalibening, Banjarnegara yang kemudian menetap di Yogyakarta sampai akhir hayat. Ia yang aktif di Muhammadiyah pernah menjadi Direktur Madrasah Mu’allimin Muhammadiyah Yogyakarta, Ketua Majelis Hizbul Wathan (HW) PP Muhammadiyah, dan Anggota PP Muhammadiyah. Ia dekat dan bersahabat dengan Sudirman. Apalagi mereka sama-sama aktif dan menjadi Pimpinan Pandu HW. Kalau Sudirman ke Yogyakarta sering bermalam di rumahnya.

Penulis pernah bertanya kepada HM Mawardi tentang Sudirman. Pemuda kelahiran Rembang, Purbalingga ini pendidikan terakhirnya di HIK Muhammadiyah Solo. Ia pernah menjadi guru HIS Muhammadiyah. Selain itu, ia aktif dalam kepanduan dan Pimpinan HW Kabupaten Cilacap. Bahkan sampai Karesidenan Banyumas. Ia pernah memimpin perkemahan Pandu HW se Karesiden Banyumas di Batur, Banjarnegara. Batur adalah daerah dingin dan banyak hujan. Perkemahan itu menanamkan peneguhan mental serta banyak memberi pelajaran dan pengalaman berharga.

Ada ceritera menarik yang disampaikan oleh HM Mawardi kepada penulis. Waktu itu, Ibu Kota Negara Republik Indonesia sudah pindah dari Jakarta ke Yogyakarta. Kepindahan itu atas jasa baik Sultan Hamengku Buwono IX. Karena Belanda hendak kembali menjajah Indonesia. Ketika pasukan Belanda hendak masuk Yogyakarta dari arah Semarang berhasil dilawan dan dikalahkan oleh TKR (Tentara Keamanan Rakyat) bersama para pejuang dari berbagai kelaskaran lainnya. Terutama dalam pertempuran di Ambarawa. Kemenangan Palagan Ambarawa itu melambungkan nama Sudirman.

Pada suatu hari, Sudirman menerima telpon dari Gedung Negara Yogyakarta. Pemerintah menunjuk dan mengangkat Sudirman menjadi Panglima Besar TKR/TNI. “Atas penunjukan dan pengangkatan itu, saya mengucapkan terima kasih. Tetapi, saya minta waktu untuk berpikir”, kata Sudirman. Sebagai kader dan warga Muhammadiyah yang setia, ia konsultasi kepada PP Muhammadiyah untuk minta nasehat. Pada Hari Raya ‘Idul Fithri, setelah acara silaturrahim, PP Muhammadiyah mengadakan rapat kilat untuk membahas permintaan Sudirman. Secara ringkas, PP Muhammadiyah menasehati Sudirman untuk menerima penunjukan dan pengangkatan terhadap dirinya menjadi Panglima Besar TKR/TNI sebagai amanah dan laksanakanlah amanah itu secara baik, bertanggungjawab, dan ketulusan. Barulah setelah itu, Sudirman menjawab kepada Pemerintah menyatakan menerima penunjukan dan pengangkatan dirinya sebagai Panglima TKR/TNI. Demikian ceritera HM Mawardi kepada penulis.

Jenderal Sudirman, di zaman revolusi fisik, menetap di Yogyakarta. Meski sudah berpangkat jenderal, setiap Senin malam setelah Isya’, ia rajin menghadiri Pengajian Malam Selasa di Gedung Pesantren Aisyiyah, Kauman, Yogyakarta bersama para tokoh dan warga Muhammadiyah lainnya. Suatu waktu, ia menjadi mustami’ yang baik untuk mencari ilmu dan pada waktu lain ia menjadi pengisi. Ia, menurut Suparjo Rustam, salah seorang ajudannya yang di zaman Orde Baru pernah menjadi Mendagri, setelah selesai pengajian tidak langsung pulang. Tetapi masuk Masjid Gedhe, Kauman, untuk shalat lail.

Dalam agresi militer Belanda II (19 Desember 1948), Belanda berhasil menduduki Yogyakarta. Bung Karno dan Bung Hatta serta para pemimpin Indonesia lainnya diasingkan Belanda ke Bangka. Jenderal Sudirman dalam keadaan sakit dan paru-parunya tinggal sebelah keluar kota Yogyakarta dengan ditandu sampai Pacitan, Jatim untuk memimpin perang gerilya dan mempertahankan kemerdekaan. Berhasil, sukses.

Jenderal Sudirman, Bapak TNI,telah meninggalkan keteladanan yang baik sebagai kader militan Muhammadiyah. Para kader penerus perjuangan Muhammadiyah dapat meneladaninya bagi kemajuan dan kejayaan bangsa dan negara. Semoga.•

* Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah Periode 2005-2010

___

Tulisan ini pernah dimuat di Majalah Suara Muhammadiyah edisi 20 tahun 2018

Baca juga

Muchlas Abror: Semangat Berdakwah Nyai Walidah Luar Biasa

Menyiapkan Kader Politik dan Profesional

Battle of Surabaya, Barisan Tempur Semua Unsur

Tambah Komentar

Klik disini untuk memberikan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *