Dok Riz/SM
Dok Riz/SM
Berita

Nilai Ta’awun dari Sampah

SLEMAN, Suara Muhammadiyah – Sampah menjadi sebuah persoalan tersendiri pada saat ini. Terutama sampah plastik yang tak dapat diurai secara alami. Bencana ataupun musibah dapat terjadi akibat dari sampah yang tak dapat diolah.

Upaya untuk mengelola sampah dalam rangka pelestarian lingkungan digaungkan oleh Universitas Aisyiyah Yogyakarta (UNISA). Melalui talkshow pengelolaan dan Shadaqah Sampah di Kampus Unisa Yogyakarta Jl Ringroad Barat, Sleman, Selasa, (29/1).

Menghadirkan Founder Gerakan Shadaqah Sampah Kampung Brajan, Ananto Isworo. Gerakan Shadaqah Sampah Kampung Brajan ini bermarkas di Masjid Al Muharram, Tamantirto, Bantul yang telah dimulai sejak 2013 bersamaan dengan gerakan eco masjid. Sementara itu Majelis Ulama Indonesia (MUI) bersama Dewan Masjid Indonesia (DMI) baru mencanangkannya pada 2017.

Ananto mengatakan jika sampah dikelola dengan baik dapat menjadi berkah. Jika mampu mengelolanya, sampah mempunyai nilai ekonomi. Selain itu, yang lebih penting adalah nilai-nilai sosial dan agama.

Dari shadaqah sampah yang terkumpul dapat bermanfaat bagi kaum dhuafa mustadzafin. Seperti memberi bantuan beasiswa pendidikan, santunan, hingga memberikan bantuan biaya pengobatan masyarakat. Prinsip shadaqah sampah beda dengan bank sampah karena ada kerelaan dan semoga bernilai ibadah.

Gerakan Shadaqah Sampah memiliki banyak relawan dari masyarakat sekitar maupun para mahasiswa berbagai kampus. Setiap Ahad yang ditentukan mereka memilah sampah maupun menjemput hasil pengumpulan sampah dari daerah Yogyakarta dan sekitarnya.

Berbagai jenis sampah dipilah dan dipilih karena memiliki nilai yang berbeda-beda. Ada sampah botol plastik, televisi, kulkas, pendingin ruangan, hingga motor rongsok. Untuk sampah plastik memiliki bermacam-macam kategori yang kemudian diidentifikasi oleh relawan. “Semakin detail memilah semakin banyak kaum yang bisa dibantu,” tandas Ananto.

Berkat perjuangan para relawan gerakan ini mampu membeli mobil pikap dan motor yang dapat digunakan untuk operasional. Bahkan ada sekolah yang menerapkan shadaqah sampah dapat membangun sarana prasarana sekolah. “Ada nilai ta’awun dan takaful disitu,” imbuhnya.

Menurutnya dari gerakan shadaqah sampah dirinya diundang ke berbagai daerah dan institusi untuk menyampaikan gagasannya. Sekretaris Eksekutif Majelis Tabligh PP Muhammadiyah ini terkadang disebut “ustadz sampah”.

Dok Riz/SM
Dok Riz/SM

Sementara itu, talkshow tersebut juga menghadirkan Wiwit Probowati sebagai narasumber. Dosen Bioteknologi Unisa Yogyakarta ini sangat prihatin dengan sampah kantong plastik yang dapat mencemari lingkungan.

Oleh karena itu, Wiwit yang juga seorang peneliti mengubah sampah kantong plastik untuk dijadikan media tanam tumbuhan pengganti tanah. Mula-mula kantong plastik dibentuk menjadi bulatan kemudian diolah melalui proses perendaman di air yang dicampur pupuk kompos cair atau air seni sapi atau kambing.

Media tanam ini juga memiliki nilai ekonomis yang dijual lewat kelompok binaan Wiwit di salah satu kampung di Yogyakarta. Akan tetapi pengurangan sampah plastik seharusnya menjadi prioritas seperti halnya Jepang dan masyarakatnya yang memiliki kesadaran tinggi terhadap hal ini.

Kepala Program Studi Bioteknologi UNISA, Dwi Susilowati Soyi berharap masyarakat dapat mengambil pelajaran. Bagaimana cara mengolah sampah sehingga menjadi barang-barang yang bermanfaat.

“Semoga apa yang dipersembahkan hari ini dapat bermanfaat dan kedepannya. Kelihatannya masalah yang sepele, sesungguhnya pengelolaan sampah itu menjadi sangat penting mengingat isu global warming, sampah yang semakin menumpuk, tidak bisa diatasi sehingga mencemari lingkungan,” ungkap Wiwit.

Dalam talkshow tersebut diikuti berbagai kalangan seperti ibu-ibu PKK, para takmir masjid, mahasiswa dan dosen Unisa. Acara dimeriahkan oleh penampilan grup Harmoni Musik Unisa serta digelar pemeriksaan kesehatan gratis. (Riz)

Baca juga

Haedar Nashir: Etos Muhammadiyah itu Beramal dan Taawun

‘Aisyiyah Gencarkan Eco Masjid dan Shadaqah Sampah

Gapai Berkah, Dari Sampah Jadi Gedung Sekolah