30 C
Yogyakarta
Sabtu, Juli 4, 2020

Menghadirkan Dinamika Gerakan Baru

By Suara Muhammadiyah

- Advertisement -

Berita Terbaru

Inovasi Mahasiswa FT UM Magelang, Ciptakan Cetakan Gula Jawa Ergonomis

MAGELANG, Suara Muhammadiyah - Pandemi Covid-19 tidaklah menghalangi kreativitas mahasiswa Fakultas Teknik Universitas Muhammadiyah Magelang. Terbukti mereka mampu membuat sebuah terobosan teknologi...

Download Logo Milad IPM ke-59

YOGYAKARTA, Suara Muhammadiyah - Ikatan Pelajar Muhammadiyah memperingati Milad ke-59 pada tanggal 18 Juli 2020. Pimpinan Pusat IPM telah...

Bantuan FKIP Unismuh untuk Masyarakat Terdampak Banjir Luwu Utara

LUWU UTARA, Suara Muhammadiyah – Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Muhammadiyah (Unismuh) Makassar menyalurkan bantuan untuk korban banjir di Kabupaten...

Kolaborasi dengan BEM, FAI UMY Bantu Mahasiswa Terdampak Pandemi

YOGYAKARTA, Suara Muhammadiyah - Fakultas Agama Islam Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) memberikan bantuan donasi kepada mahasiswa terdampak pandemi Covid-19.  Wakil Dekan II...

Nelayan Aceh, Pahlawan Kemanusiaan

LHOKSEUMAWE, Suara Muhammadiyah - Dunia kembali dihebohkan dengan peristiwa para nelayan yang membantu para pengungsi ditengah lautan bebas. Kejadian ini terjadi pada...
- Advertisement -

 

Muhammadiyah dikenal sebagai organisasi keagamaan dan kemasyarakatan yang mengakar dan meluas di masyarakat Indonesia. Mengakar karena keberadaan gerakan Islam ini basisnya jama’ah, yakni umat atau masyarakat yang memiliki ikatan sosial tertentu, yang sadar akan kemajuan dan terdiri dari golongan menengah.

Keberadaan Muhammadiyah juga menyebar di banyak kawasan di seluruh tanah air. Meski masih minoritas secara jumlah dibanding mayoritas masyarakat tradisional, penyebaran anggota dan pergerakan Muhammadiyah terdapat di seluruh pelosok negeri.

Menurut sejarah setempat, di Aceh Muhammadiyah sudah menyebar sejak 1921, sedangkan di Merauke tahun 1926. Di kawasan Kalimantan, Sulawesi, Nusa Tenggara Timur, dan pulau-pulau terjauh juga menyebar pada fase sekitar 1922-1927. Padahal kala itu gagasannya banyak ditentang dan sarana transportasi masih sangat terbatas.

Muhammadiyah juga mampu menerobos multikelompok sosial, lebih-lebih pada kelompok menengah ke atas, kaum terdidik, wirausahawan, profesional, dan kelompok lainnya. Pada sebagian kawasan juga terdiri para petani, nelayan, dan lain-lain meski tidak sebanyak kelompok pertama. Temuan disertasi Prof Munir Mulkhan di Jember menunjukkan keragaman itu, meskipun di Pare temuan Clifford Geertz menunjukkan strata sosial menengah perkotaan yang dikenal kelompok santri modern.

Hingga pada era Orde Baru banyak elite bangsa di berbagai lembaga pemerintahan dan yang bergerak di sektor modern berlatarbelakang Muhammadiyah. Kondisi ini menyebabkan mobilitas sosial-vertikal orang yang memiliki basis sosial Muhammadiyah cukup tinggi dan menyebar. Proses ini berlangsung alamiah, bukan rekayasa politik Muhammadiyah, yang sering membuat kelompok lain “cemburu” dan menuding Muhammadiyah bersekongkol dengan penguasa meminggirkan mereka.

Integritas dan peran sosial warga maupun organisasi Muhammadiyah cukup baik, sehingga basis sosial umat dan daya jelajah gerakan Islam ini menjadi soko guru kekuatan civil soviety atau masyarakat madani yang cerdas dan mandiri. Muhammadiyah tidak menempatkan diri sebagai oposisi, jika ada yang bertentangan meluruskan dengan cara elegan. Sebaliknya Muhammadiyah juga tidak terkooptasi.

Dengan keragaman latarbelakang anggota dan simpatisannya, maupun posisinya selaku organisasi dakwah, Muhammadiyah menjadi lebih leluasa dalam bergerak mengembangkan jamaah atau komunitas yang dibinanya serta  dalam menjalankan peran keumatan dan kebangsaan. Komunitas Muhammadiyah lebih sentrifugal atau meluas secara heterogen dan tidak sentripetal atau memusat secara homogen.

Kini seiring dengan berjalannya waktu dan proses perubahan sosial yang cepat dan masif, basis komunitas Muhammadiyah mulai longgar atau abu-abu. Di sejumlah area bahkan mulai kehilangan pengaruh dan daya jelajah dakwah dan pergerakannya. Organisasi-organisasi keagamaan lain mulai masuk dan merambah dengan progresif, sampai batas tertentu mengambil alih peran Muhammadiyah. Kelompok komunitas baru pun lahir di sekitar Muhammadiyah baik di tingkat bawah dan menengah maupun atas, yang mungkin banyak tidak tergarap dakwah Muhammadiyah.

Pertanyaannya apakah dakwah dan pergerakan Muhammadiyah masih memiliki tempat spesial di kalangan komunitas sosial baru? Misalnya di berbagai komunitas masyarakat kota besar dan metropolitan, di samping di pedesaan dan daerah-daerah terpencil dan terjauh? Begitu pula pada generasi baru yang lahir dalam kultur media sosial. Mampukah Muhammadiyah berfastabiqul-khairat secara lebih unggul?

Muhammadiyah wajib hadir di tengah dinamika sosial baru dengan menampilkan alternatif gerakan dakwah yang berkemajuan. Jangan berjalan di tempat dan puas diri. Di sinilah Majelis Tabligh, Tarjih, organisasi otonom, dan seluruh institusi Muhammadiyah yang semuanya bermisi dakwah tengah diuji dan dinanti pergerakannya yang dinamis! (hns)


Tulisan ini merupakan Tajuk Majalah Suara Muhammadiyah Edisi Nomor 3 tahun 2017

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -
- Advertisement -

More articles