24 C
Yogyakarta
Minggu, Agustus 9, 2020

Hayya ‘Ala Al-Falah

By Suara Muhammadiyah

- Advertisement -

Berita Terbaru

Berita Hoax Covid-19 Lebih Cepat Menjangkiti Dibanding Virusnya

YOGYAKARTA, Suara Muhammadiyah – Sudah beberapa kali ini berita hoax terkait Covid-19 terus bermunculan dan meresahkan masyarakat luas. Berita hoax Covid-19 justru...

Salurkan KUR Syariah, Menko Perekonomian Dukung UMKM Pemuda Muhammadiyah

YOGYAKARTA, Suara Muhammadiyah - Dampak dari Pandemi Covid-19 tidak bisa dipungkiri menghantam semua sendi dan aspek kehidupan masyarakat, semua lapisan tanpa pandang...

Sinau Manajemen Humas bersama Komunikasi UNISA Yogyakarta

YOGYAKARTA, Suara Muhammadiyah - Program Studi Komunikasi UNISA Yogyakarta menggelar Dibkom (Diskusi Bersama Komunikasi UNISA) seri keempat dengan mengangkat tema  Sinau Manajemen...

Ketua PWM Sulsel Resmi Lantik Mudir Darul Arqam Muhammadiyah Gombara

MAKASSAR, Suara Muhammadiyah - Prof. DR. KH. Ambo Ase, M.Ag. Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Sulawesi Selatan resmi melantik KH. Ahmad Tawalla...

Memaknai Kebersamaan Idul Adha MI Muhammadiyah Garongan

KULON PROGO, Suara Muhammadiyah - Dalam rangka memperingati perayaan Idul Adha 1441 H, MI Muhammadiyah Garongan, Panjatan, Kulon Progo melakukan kegiatan silahturahmi...
- Advertisement -

Oleh: Haedar Nashir

Setiap manusia ingin hidupnya bahagia, menang, dan sukses. Tidak ada orang yang tidak menginginkan ketiganya, kecuali mereka yang tidak normal. Bahkan untuk bahagia, sukses, dan menang ada yang menggunakan segala cara yang tak halal. Sebutlah para  koruptor, penjahat, dan siapapun yang perangainya  suka menghalalkan segala cara yang kotor.

Kebahagiaan, kemenangan, dan kesuksesan dalam rujukan Islam disebut “al-falah”. Dalam Al-Quran terdapat 40 kata “al-Falah” dalam berbagai variasi ujaran. Sebelas kata di antaranya dirangkaikan dengan “la’allakum tuflihun”, artinya  agar kamu atas karunia Allah memperoleh keberuntungan. Sedangkan duabelas kata  “al-muflihun” dan satu kata  “al-muflihim”, yaitu “orang-orang yang menang, bahagia, dan berhasil”. Artinya, betapa penting memaknai kemenangan, kesuksesan, dan kebahagiaan dalam spirit “al-falah”.

Kata “al-falah” diambil dari kata “fal-hu”. Dalam “Al-Munjid” antara lain disebutkan beberapa arti kata “al-falah” yaitu   “sya-qa-ha” (falhu al-ardl)  yaitu mengolah bumi, membelah tanah atau membajak. Arti lain ialah  “na-ja-ha” yaitu berhasil dengan baik atau sukses. Arti yang ketiga ialah “dha-fa-ra bima thalaba”,  yaitu memperoleh sesuatu yang dicari. Banyak orang yang mencari sesuatu tidak memperoleh dan memperoleh sesuatu yang justru bukan yang dicari.

Kata  al-fallah yaitu petani yang mengolah pertaniannya sehingga tumbuh dan berbuah. Artinya mereka yang ingin menang, sukses, dan bahagia perlu perjuangan seperti petani yang mengolah tanah dan menanam tanamannya hingga berbuah manis. Tidak ada kemenangan, keberhasilan, dan kebahagiaan itu datang tiba-tiba, semuanya memerlukan ikhtiar plus berdo’a. Di luar ikhtiar memang ada anugerah Allah, namun anugerah itu tentu diberikan kepada mereka yang berjuang.

Setiap lima kali sehari setiap muslim diajak untuk berburu “al-falah” sebagaimana ajakan dalam iqamah pada shalat wajib. Ajakan tersebut selain bermakna syariat dalam rangkaian ajakan untuk bershalat. Pada saat yang sama mengandung arti pentingnya meraih kebahagiaan, kemenagan, dan kesuksesan yang hakiki. Manusia setiap harinya disibukkan dengan mengejar kebahagiaan, kemenagan, dan kesuksesan yang duniawi sehingga sering lupa yang ukhrawi.

Banyak pula orang yang mengukur kebahagiaan, kemenagan, dan kesuksesan dari segi lahir belaka seperti harta dan tahta. Tahta dan harta memang penting tetapi manakala tidak membawa kemaslahatan dan diraih dengan cara tak halal maka tidak akan membuahkan “al-falah” yang sejati. Manusia bahkan bisa terjebak pada masalah dan fitnah ketika mengejar kebahagiaan duniawi degan cara yang haram.

Bagi setiap muslim, kebahagiaan-kemenangan-kesuksesan itu selain caranya harus benar, baik, dan pantas juga memiliki makna yang penting yakni  bersifat lahir dan batin atau duniawi  dan ukhrawi. Menurut Raghib al-Ashfahani; kebahagiaan duniawi ialah kehidupan di dunia yang nyaman seperti kelanggengan hidup, kekayaan, dan kemuliaan. Sedangkan kebahagiaan ukhrawi yaitu wujud yang langgeng tanpa kepunahan, kekayaan tanpa kebutuhan, kemuliaan tanpa kehinaan, dan ilmu tanpa ketidaktahuan.

Jika setiap muslim memakna kemenangan, kesuksesan, dan kebahagiaan  secara hakiki maka itulah yang disebut dengan al-fauz al-‘adhim. Agar meraih kemenangan yang sejati maka semua aktivitas muslim haruslah bernilai ibadah dan kebaikan” (QS Al Hajj: 77). Kegiatan berdakwah bahkan dapat membawa kebahagiaan, kesuksesan, dan kemenangan. Allah berfirman, yang artinya: “Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang maruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung” (QS Ali Imran: 104). Maka, berorganisasi pun harus mengejar “al-falah”, bukan berebut jabatan dan kesenangan duniawi.


Tulisan ini pernah dimuat di rubrik Ibrah Majalah Suara Muhammadiyah Edisi Nomor 4 tahun 2015

- Advertisement -

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -
- Advertisement -
- Advertisement -

More articles