smamda
Kisah

Nabi Syu’aib AS (2)

Pasir

Oleh: Yunahar Ilyas

Dakwah Nabi Syu’aib

Sebagaimana para Nabi sebelumnya, Nabi Syu’aib AS pertama dan utama sekali menyeru kaumnya untuk menyembah Allah SWT semata. Allah SWT berfirman:

وَإِلَىٰ مَدۡيَنَ أَخَاهُمۡ شُعَيۡبٗاۚ قَالَ يَٰقَوۡمِ ٱعۡبُدُواْ ٱللَّهَ مَا لَكُم مِّنۡ إِلَٰهٍ غَيۡرُهُۥۖ قَدۡ جَآءَتۡكُم بَيِّنَةٞ مِّن رَّبِّكُمۡۖ

“Dan (Kami telah mengutus) kepada penduduk Madyan saudara mereka, Syu’aib. ia berkata: “Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada Tuhan bagimu selain-Nya. Sesungguhnya telah datang kepadamu bukti yang nyata dari Tuhanmu…”. (Q.S. Al-‘Araf 7: 85)

Semua Nabi baik sebelum maupun sesudah Syu’aib, mulai dari Nabi Adam AS sampai kepada Nabi Muhammad SAW mengemban misi yang sama yaitu mengajak umat manusia untuk menyembah Allah SWT semata. Bedanya hanya pada mad’unya, sasaran dakwahnya. Kalau Nabi-Nabi sebelum Nabi Muhammad SAW diutus kepada umat atau kaum masing-masing, seperti Syu’aib diutus kepada kaum Madyan, tetapi Nabi Muhammad SAW sebagai penutup para nabi diutus kepada seluruh umat manusia untuk sepanjang masa sampai hari kiamat nanti.

Tauhidullah sangat penting, menjadi dasar dari segala-galanya. Dasar dari ibadah, akhlaq dan mu’amalat. Jika tauhid seseorang benar, maka ibadah, akhlaq dan mu’amalatnya juga akan benar. Maka sebelum meluruskan prilaku menyimpang kaum Madyan dalam mu’amalat maka Syu’aib terlebih dahulu meluruskan dan mengokohkan aqidah mereka.

Dalam ayat di atas  disebutkan kepada kaum Madyan telah diberikan bukti (bayyinah) kebenaran dakwah Syu’aib. Bukti apa yang telah diberikan? Mukjizat apa yang diberikan Allah SWT kepada Syu’aib untuk membuktikan kenabian dan kerasulannya? Al-Qur’an tidak menceritakan mukjizat apa yang diberikan. Menurut Quraish Shihab dalam Tafsir Al-Mishbah (V: 162) boleh jadi bukti itu keterangan lisan yang menjadi dalil dan bukti kebenaran yang membungkam lagi tidak dapat mereka tolak.

Menurut Hamka dalam Tafsir Al-Azhar (VIII:296) bukti itu adalah ancaman Syu’aib kepada kaumnya, bahwa kalau mereka tetap menentangnya, azab Allah akan turun membinasakan mereka seperti dahulu  Allah membinasakan kaum Nuh, Hud dan Shaleh sebagaimana disebutkan dalam Surat Hud ayat 89. Allah SWT berfirman:

وَيَٰقَوۡمِ لَا يَجۡرِمَنَّكُمۡ شِقَاقِيٓ أَن يُصِيبَكُم مِّثۡلُ مَآ أَصَابَ قَوۡمَ نُوحٍ أَوۡ قَوۡمَ هُودٍ أَوۡ قَوۡمَ صَٰلِحٖۚ وَمَا قَوۡمُ لُوطٖ مِّنكُم بِبَعِيدٖ ٨٩  

“Hai kaumku, janganlah hendaknya pertentangan antara aku (dengan kamu) menyebabkan kamu menjadi jahat hingga kamu ditimpa azab seperti yang menimpa kaum Nuh atau kaum Hud atau kaum Shaleh, sedang kaum Luth tidak (pula) jauh (tempatnya) dari kamu.” (Q.S. Hud 11:89)

Azab Allah tidak akan diturunkan apabila mereka mau menghentikan kemunkaran yang mereka lakukan, antara lain kecurangan dalam berdagang.

Orang-orang Madyan pada masa itu terkenal dengan prilaku curang dalam bisnis. Misalnya dalam jual beli yang mengunakan timbangan dan sukatan, mereka memiliki dua timbangan yang sudah direkayasa demikian rupa. Satu timbangan untuk menjual dan satu lagi timbangan untuk membeli. Timbangan untuk menjual direkayasa demikian rupa sehingga berat barang yang ditimbang akan kurang dari yang sebenarnya. Tapi tatkala membeli mereka gunakan timbangan lain yang sudah direkayasa juga sehingga berat barang yang ditimbang lebih berat dari yang semestinya. Demikian juga mereka lakukan dalam sukatan. Karena prilaku curang mereka tersebut, banyak pedagang-pedagang dari negeri lain tidak mau lagi berbisnis dengan penduduk Madyan kecuali apabila sangat terpaksa. Oleh sebab itu Nabi Syu’aib mengingatkan kaumnya. Allah SWT berfirman:

 فَأَوۡفُواْ ٱلۡكَيۡلَ وَٱلۡمِيزَانَ وَلَا تَبۡخَسُواْ

“…maka sempurnakanlah takaran dan timbangan dan janganlah kamu kurangkan bagi manusia barang-barang takaran dan timbangannya…(Q.S. Al-‘Araf 7:85)

Kejujuran dalam berbisnis adalah bukti iman yang benar. Seorang pedagang yang beriman yakin bahwa apapun yang dilakukannya pasti diketahui oleh Allah SWT karena Allah Maha Melihat dan Maha Mendengar. Kesadaran akan muraqabatullah inilah yang mengontrol dirinya dan mendorongnya untuk selalu berbuat jujur dan menjauhi segala macam bentuk penipuan.

Kejujuran dalam berbisnis tentu akan mendatangkan kebaikan bagi semua, bagi pembeli dan pedagang itu sendiri. Dalam ayat lain Syu’aib meyakinkan kaumnya bahwa rezki yang halal—sekalipun tidak untung banyak lebih baik bagi mereka. Allah SWT berfirman:

بَقِيَّتُ ٱللَّهِ خَيۡرٞ لَّكُمۡ إِن كُنتُم مُّؤۡمِنِينَۚ وَمَآ أَنَا۠ عَلَيۡكُم بِحَفِيظٖ ٨٦

“Sisa (keuntungan) dari Allah adalah lebih baik bagimu jika kamu orang-orang yang beriman. dan aku bukanlah seorang penjaga atas dirimu” (Q.S. Hud 11:86)

Memang untuk apa memburu dan mengumpulkan harta sebanyak-banyaknya jika didapatkan dengan perbuatan curang. Lebih baik sedikit tapi halal, akan memberikan berkah dan mendatangkan rahmat. Tapi sayangnya kaum Madyan lebih memilih perbuatan curang.

Perbuatan curang dalam berdagang disamping merugikan orang lain juga akan menghilangkan kepercayaan, padahal kepercayaan itu sangat penting dalam perdagangan dan transaksi apapun. Perekonomian akan rusak dan menimbulkan kerugian bagi semua pihak. Bayangkan apa yang akan terjadi pada kaum Madyan apabila penduduk negeri lain tidak mau lagi berdagang dengan mereka. Sistem yang sudah diatur demikian rupa akan rusak. Maka selanjutnya diingatkan kepada kaum Madyan:

 وَلَا تُفۡسِدُواْ فِي ٱلۡأَرۡضِ بَعۡدَ إِصۡلَٰحِهَاۚ ذَٰلِكُمۡ خَيۡرٞ لَّكُمۡ إِن كُنتُم مُّؤۡمِنِينَ ٨٥

“…dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi sesudah Tuhan memperbaikinya. Yang demikian itu lebih baik bagimu jika betul-betul kamu orang-orang yang beriman.”(Q.S. Al-‘Araf 7:85)

Sebagian penduduk Madyan tentu ada yang beriman dan mau mendengarkan nasehat yang disampaikan oleh Syu’aib, tetapi sebagian yang lain—biasanya bagian yang terbesar—menentangnya. Kelompok yang menentang itu berusaha menghalangi anggota masyarakat yang ingin menemui Syuaib. Allah SWT berfirman menggambarkan hal itu:

وَلَا تَقۡعُدُواْ بِكُلِّ صِرَٰطٖ تُوعِدُونَ وَتَصُدُّونَ عَن سَبِيلِ ٱللَّهِ مَنۡ ءَامَنَ بِهِۦ وَتَبۡغُونَهَا عِوَجٗاۚ وَٱذۡكُرُوٓاْ إِذۡ كُنتُمۡ قَلِيلٗا فَكَثَّرَكُمۡۖ وَٱنظُرُواْ كَيۡفَ كَانَ عَٰقِبَةُ ٱلۡمُفۡسِدِينَ ٨٦

“Dan janganlah kamu duduk di tiap-tiap jalan dengan menakut-nakuti dan menghalang-halangi orang yang beriman dari jalan Allah, dan menginginkan agar jalan Allah itu menjadi bengkok. Dan ingatlah di waktu dahulunya kamu berjumlah sedikit, lalu Allah memperbanyak jumlah kamu. Dan perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang berbuat kerusakan. “(Q.S. Al-‘Araf 7:86)

Tindakan mereka menghalangi orang dari jalan Allah itu bisa dimaknai secara harfiah, memang benar-benar mereka duduk dipinggir jalan menuju kediaman Syu’aib dan menghalangi siapa saja yang akan datang menemui beliau. Tetapi bisa juga dalam pengertian yang lebih luas, segala tindakan yang mereka lakukan dalam rangka menghalangi orang untuk dapat menerima dakwah Nabi Syu’aib. Jalan Allah SWT disimbolkan dengan jalan yang lurus, sementara  jalan-jalan lain yang menentangnya disimbolkan dengan jalan yang bengkok.

Syu’aib juga mengingatkan mereka akan karunia Allah SWT yang harusnya mereka syukuri dan menjadikan mereka lebih tunduk kepada perintah Allah SWT. Salah satu karunia Allah yang disebutkan dalam ayat adalah populasi mereka yang bertambah banyak dari sebelumnya. Nabi Syu’aib mengingatkan mereka untuk tidak melupakan sejarah kaum yang durhaka pada masa yang lalu, bagaimana akhirnya mereka dibinasakan.

Kepada kaum Madyan yang sudah beriman Syu’aib memintanya untuk bersabar menghadapi gangguan orang-orang yang tidak beriman yang terus menghalangi mereka menempuh jalan yang benar. Biarlah Allah SWT yang memutuskan, karena Allah lah sebaik-baik hakim yang memutuskan. Dalam hal ini Allah SWT berfirman:

وَإِن كَانَ طَآئِفَةٞ مِّنكُمۡ ءَامَنُواْ بِٱلَّذِيٓ أُرۡسِلۡتُ بِهِۦ وَطَآئِفَةٞ لَّمۡ يُؤۡمِنُواْ فَٱصۡبِرُواْ حَتَّىٰ يَحۡكُمَ ٱللَّهُ بَيۡنَنَاۚ وَهُوَ خَيۡرُ ٱلۡحَٰكِمِينَ ٨٧

“Jika ada segolongan daripada kamu beriman kepada apa yang aku diutus untuk menyampaikannya dan ada (pula) segolongan yang tidak beriman, maka bersabarlah, hingga Allah menetapkan hukumnya di antara kita; dan dia adalah hakim yang sebaik-baiknya. (Q.S. Al-‘Araf 7:87)

Pada bagian selanjutnya dibahas bagaimana reaksi kaum Madyan terhadap nasehat saudara mereka sendiri Syu’aib (bersambung).

1 Komentar

Klik disini untuk memberikan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *