Jejak Persyarikatan

Revolusi Komunikasi di Muhammadiyah

Cover SM Tahun 1915 (Dok SM)
Cover SM Tahun 1915 (Dok SM)

Oleh: Muhammad Yuanda Zara

Sebagai sebuah gerakan pembaruan, Muhammadiyah tidak hanya modern dalam penafsiran terhadap agama Islam maupun penerapannya, tapi juga dalam penyesuaiannya terhadap teknologi komunikasi terkini di zamannya. Dalam seabad terakhir, teknologi komunikasi mengalami revolusi berkali-kali. Dampaknya pun besar dan segera terasa bagi umat manusia di seantero bumi. Dan, dalam berbagai perubahan itu, Muhammadiyah turut menjadi bagiannya.

Di awal kelahirannya, salah satu tindakan paling strategis yang diambil Muhammadiyah adalah mengadopsi teknologi komunikasi termutakhir di zamannya: percetakan. Percetakan melahirkan surat kabar, majalah, buku, dan brosur. Kala itu, masyarakat terobsesi dengan media cetak, seiring dengan kian tersedianya mesin cetak dan semakin meningkatnya literasi publik. Hampir setiap organisasi sosial, keagamaan dan politik di tiga dekade awal abad ke-20 mempunyai sayap publikasinya sendiri. Muhammadiyah pun tak ketinggalan. Di samping seorang ulama, pendiri Muhammadiyah, KH Ahmad Dahlan, sebenarnya juga merupakan seorang wartawan mumpuni. Ia mendirikan dan mengelola Suara Muhammadiyah (SM) bersama Haji Fachrodin, AD Haanie, dan lain-lain.

Hingga kini, SM tidak pernah berhenti terbit, kecuali di zaman pendudukan Jepang. Media cetak seperti SM membantu Islam, Muhammadiyah, Indonesia dan dunia hadir di pelosok Nusantara. Ramuan suksesnya setidaknya terdiri atas harganya yang terjangkau, isinya yang menggabungkan antara berita dan analisis, antara keislaman, kemuhammadiyahan dan keindonesiaan, serta jangkauannya yang luas. Dalam bahasa redaksi SM sendiri tahun 1987: “Memang SM majalah ummat, majalah rakyat banyak yang masuk ke desa-desa.”

Muhammadiyah dan pers tidak terpisahkan. Di era berikutnya, pers tetap menjadi ujung tombak komunikasi Muhammadiyah. Pada awal era 1930an, sebuah surat kabar harian dilahirkan oleh Muhammadiyah. Namanya Adil, terbit di Solo, dan dipimpin oleh M. Mulyadi Djojomartono. Tiga dekade kemudian, tepatnya tahun 1965, Muhammadiyah menginisiasi terbitnya koran lain, Mercu Suar, di Jakarta.

Dalam muktamar-muktamar Muhammadiyah senantiasa ditekankan perlunya menggunakan berbagai macam media untuk memperluas dakwah Islam serta penyebaran informasi kemuhammadiyahan. Ini tampak dalam salah satu keputusan Muktamar Muhammadiyah ke-36 di Bandung tahun 1965. Di Seksi Da’wah, ada beberapa kesimpulan yang diambil, mulai dari perlunya organisasi dakwah yang teratur, tenaga yang militan dalam berdakwah, dana dakwah yang luas serta yang tak kalah penting, “perlu adanja Media Da’wah jang lengkap.” Tidak dijelaskan arti kata “lengkap” di sini, namun menengok perkembangan teknologi komunikasi di pertengahan 1960-an itu jelas yang dimaksud adalah melanjutkan pemakaian media lama seperti via ceramah tatap muka serta memaksimalkan penggunaan media yang mengandalkan teknologi seperti media cetak, radio, dan membuka kemungkinan untuk menggunakan media yang tergolong masih baru dan eksklusif di era itu, televisi.

Satu penekanan khusus di muktamar tersebut ialah memperkuat dakwah di antara kaum wanita, antara lain dengan “mengeluarkan brosur-brosur jang bertema agama jang berhubungan dengan wanita” serta “meningkatkan Suara ‘Aisjijah dan meluaskan penjebarannja.” Muhammadiyah yakin bahwa sudah semakin banyak anggota ‘Aisyiyah yang bisa membaca aksara latin serta butuh bahan bacaan yang lebih berbobot.

Media cetak adalah primadona di era itu. Era 1960an itu, sebagaimana kata Romzy S. Romlie dalam sebuah tulisannya tahun 1965, merupakan “abad nuclear dan ruang angkasa.” Artinya, era ketika teknologi tinggi memengaruhi umat manusia di seluruh dunia, termasuk di bidang komunikasi. Tapi, bagi Romlie, media cetak belum terkalahkan lantaran sudah teruji di berbagai zaman sebagai media dakwah dan perjuangan politik, baik di Indonesia maupun di Barat. Pemerintah RI sendiri di era 1960an itu mendorong agar setiap unsur Nasakom, termasuk kalangan Islam, menerbitkan medianya sendiri. Tak heran bila Muhammadiyah menggarisbawahi arti penting media cetak untuk sarana dakwah dan komunikasi publiknya.

Ada perkembangan baru di periode 1970-an. Media cetak masih tetap dipertahankan dan dikembangkan, namun muncul gagasan agar Muhammadiyah lebih banyak menggunakan media komunikasi yang kian populer di masa itu: radio. Ini bahkan ditekankan dalam keputusan Sidang Tanwir Muhammadiyah tahun 1970 di Yogyakarta. Ada dua keputusan sidang yang berkaitan dengan radio. Pertama, menyelidiki usaha untuk mendirikan pemancar radio Muhammadiyah. Kedua, agar Muhammadiyah lebih banyak memanfaatkan radio amatir yang dikelola warga Muhammadiyah untuk dakwahnya. Bahkan, bila perlu radio amatir ini mesti diperbanyak hingga ke berbagai daerah basis Muhammadiyah. Selain radio yang dijalankan warga Muhammadiyah, lahir pula harapan agar dakwah Muhammadiyah juga bisa disiarkan melalui stasiun radio pemerintah yang jaringannya amat luas, RRI.

Di luar radio, Sidang Tanwir juga mendorong agar media komunikasi lainnya jangan dilupakan: “Muhammadijah agar dapat memanfa’atkan segala matjam saluran (lisan, tulisan, visuil dan audio visuil) sekurang-kurangnja jang telah dimiliki dan diselenggarakan oleh Muhammadijah.” Tapi ada syarat agar penggunaan multimedia ini maksimal namun tetap terkendali, yakni harus “sesuai dengan kepribadian Muhammadijah[,] untuk kepentingan da’wah Islam menurut keadaan, ruang dan waktu.”

Di akhir 1980-an, ada atensi baru di kalangan Muhammadiyah, yakni agar film dipakai sebagai medium untuk menyebarkan dakwah Islam. Ini didorong oleh kemunculan sejumlah film bertema Islam yang sukses di masyarakat. Di luar negeri ada film The Message (tentang biografi Nabi Muhammad saw) yang visualnya banyak dipuji penonton sementara di dalam negeri ada film Sunan Kalijaga dan Titian Serambut Dibelah Tujuh yang tak kalah menarik. Nur Iswantara, dalam sebuah artikel sepanjang 2 halaman di SM tahun 1987, berharap agar para sineas Muslim “mengabdikan karya-karya mereka di atas jalan yang diridhai Allah SwT.” Kuncinya, terang dia, adalah cerita yang baik, penyutradaraan yang bagus, tema yang sesuai selera publik, menggunakan aktor terkenal, dan “tanpa dijejali khutbah-khutbah yang seringkali membosankan penonton.”

Dewasa ini, Muhammadiyah kembali beradaptasi dengan revolusi komunikasi yang berlangsung. Sejak medio 1990an, televisi adalah salah satu media komunikasi massa yang paling banyak menarik minat publik. Muhammadiyah segera meresponnya. Dakwah melalui televisi mesti menjadi perhatian Muhammadiyah, demikianlah salah satu amanat dalam Muktamar Muhammadiyah tahun 1995 di Banda Aceh. Belakangan, Universitas Ahmad Dahlan pernah mempunyai stasiun televisi sendiri, walau, sebagaimana dicatat Zuly Qodir (2010), respon masyarakat jauh dari memuaskan. Meski begitu, Muhammadiyah tak patah semangat; PP Muhammadiyah pada tahun 2013 meluncurkan sebuah televisi satelit bernama TVMu.

Perkembangan cepat terjadi dalam beberapa tahun terakhir. Media komunikasi lama tetap dipakai, namun kini ditambah dengan penggunaan media komunikasi baru yang difasilitasi oleh internet, mulai dari Twitter, Facebook hingga YouTube. Kini, setiap ortom dan warga Muhammadiyah bisa mempunyai akun media sosialnya sendiri guna menyebarkan pemikirannya. Berita terbaru tentang Muhammadiyah sampai ke tangan warganya dengan segera, bahkan secara langsung.

Tentu masih ada kekurangan di sana-sini. Muhammadiyah, misalnya, walau sangat adaptif dengan teknologi komunikasi, sejauh ini lebih banyak berperan sebagai pengguna dan bukan pencipta. Sebagian konten—serta penyajiannya—di media-media komunikasi Muhammadiyah juga masih kurang atraktif bagi audiensnya.

Kendati begitu, Muhammadiyah, sesuai namanya, adalah pengikut Nabi Muhammad saw. Dan, sebagaimana pernah diutarakan oleh Djarnawi Hadikusuma tiga dekade silam, dilihat dari ilmu komunikasi, Nabi Muhammad adalah seorang “komunikator yang suci.” Sebagai komunikator, Nabi adalah sosok yang adaptif dengan zamannya, menyampaikan wahyu Allah sesuai media komunikasi yang ada di eranya, yakni secara lisan dan tulisan (dengan menyuruh sahabat yang bisa baca tulis). Itu artinya, penguasaan metode dan teknologi komunikasi mutakhir adalah kunci bagi dakwah Islam. Dan, sepanjang sejarahnya, Muhammadiyah tampaknya benar-benar telah menyadari hal ini.

Tulisan ini pernah dimuat di Majalah Suara Muhammadiyah Edisi 2 tahun 2018

Tambah Komentar

Klik disini untuk memberikan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *