Jejak Islam

Hejaz Railway: Mempermudah Haji, Memperkuat Turki Usmani

Doc Harald Doornbos
Doc Harald Doornbos

Oleh: Azhar Rasyid*

Si Roda Besi, atau kereta api, benar-benar kuat seperti namanya. Ia sudah eksis setidaknya sejak abad keenam belas hingga masa kini, suatu masa yang sangat panjang untuk sebuah sarana transportasi yang di awal kelahirannya hanya dipakai para pekerja tambang guna menempuh jarak beberapa kilometer saja. Dari yang awalnya hanya berupa kereta dengan rel kayu yang didorong dengan tangan, kini kereta api sudah berhasil mencapai kecepatan ratusan km per jam. Dunia Islam kini bukanlah kawasan yang infrastruktur kereta apinya tergolong maju seperti Eropa, Amerika dan Asia Timur. Namun, di masa lalu kereta api pernah menjadi teknologi transportasi yang memainkan peran krusial dalam perkembangan sejarah Islam. Bahkan, membicarakan sejarah kereta api di dunia tidak bisa mengabaikan sebuah proyek besar perkerataapian di Dunia Islam dulu: Hejaz Railway (Hicas Demiryolu) atau Jalur Kereta Api Hejaz.

Adalah Sultan Abdul Hamid II (memerintah tahun 1876- 1909) dari Kesultanan Turki Usmani yang menggagas megaproyek Hejaz Railway ini. Ia ingin agar kereta api, sebagai salah satu teknologi transportasi termutakhir kala itu, dipakai untuk perjalanan haji. Bagi calon jamaah haji dari tempat yang jauh dari Hejaz, memakai jalur darat dengan hewan sebagai alat angkut menguras tenaga dan mengonsumsi banyak waktu. Sang Sultan berkeinginan untuk memangkas jarak dan waktu ini via jalur kereta api. Ia memang tengah memodernisasi kesultanannya, dan kereta api adalah salah satu bentuknya. Rencananya, jalur ini akan menghubungkan Damaskus hingga Makkah-Madinah.

Di sisi lain, menurut sejarawan Universitas Istanbul Murat Ozyuksel dalam bukunya, The Hejaz Railway and Ottoman Empire (2014), proyek Hejaz Railway ini juga merupakan bagian dari kebijakan Islamis Abdul Hamid II. Di tengah disintegrasi yang melanda Usmani, Sang Sultan ingin memperkuat ikatan di antara negeri-negeri Arab Muslim di bawah kekuasaannya. Jalur kereta api adalah jawabannya.

Pembuatan Hejaz Railway, yang dimulai sejak tahun 1900, dilakukan dengan profesional. Komisi khusus dibentuk untuk menanganinya. Para insinyur menjadi tulang punggung proyek ini. Tanggung jawab teknis proyek ini ada pada insinyur ternama Jerman yang sudah lama bekerja dengan Usmani, Heinrich August Meissner. Tapi di sejumlah tempat yang dilalui jalur ini, konstruksi proyek ini sepenuhnya dipegang oleh para insinyur Muslim. Latar belakang pekerjanya beragam, mulai dari orang Turki, Yunani hingga Italia. Pembangunan Hejaz Railway didukung oleh dana yang melimpah. Kontribusi berasal dari sumbangan Sang Sultan serta sokongan dari para pejabat Kesultanan. Sang Sultan juga mengampanyekan kepada Muslim di seluruh dunia untuk turut mendonasikan uang mereka pada “jalur suci” ini.

Namun, saat mulai berjalan, proyek ini tergolong sukar. Topografi di wilayah Timur Tengah berbeda satu sama lainnya, ada banyak gurun, adakala dataran namun tak jarang berbukit-bukit. Suplai air di gurun juga menjadi masalah tersendiri. Belum lagi tantangan dari dua penguasa lokal berpengaruh yang khawatir dengan dampak jalur ini, yakni orang Arab Badui dan Amir Makkah. Negara imperialis yang mempunyai kekuasaan di Timur Tengah, Inggris dan Perancis, turut menghalangi proyek ini.

Antara tahun 1902 hingga 1908, 1320 km jalur kereta berhasil dibangun, membentang dari Damaskus hingga Madinah, dan ini merupakan sebuah pencapaian tersendiri bagi Turki Usmani. Dalam satu dekade kemudian, ratusan km lainnya berhasil ditambahkan. Jalur yang dilewati antara lain: Damaskus, Deraa, Transjordan, Haifa, Palestina, Al-Ula, dan Madinah.

Begitu Hejaz Railway jadi, para calon jamaah haji mulai menggunakan alat transportasi berhaji yang baru ini. Tapi jumlahnya belum banyak karena sebagian orang masih ragu-ragu lantaran sudah sangat lama terbiasa dengan unta dan karavan.

Yang juga membuat khawatir adalah kurangnya keamanan selama perjalanan, terutama akibat serangan Arab Badui. Mereka tidak hanya merusak rel atau stasiun tapi juga merampok penumpang kereta. Menurut Z. H. Zaidi, peneliti sejarah Islam di University of London, orang Arab Badui menolak kereta api dengan alasan keyakinan sekaligus alasan ekonomis. Di satu sisi, untuk menolak eksistensi alat transportasi baru ini, mereka menyebut jalur kereta api sebagai “benda jahat bangsa Franka.” Di sisi lain, bila calon jamaah haji menumpang kereta api, itu sama artinya dengan ditinggalkannya jalur tradisional haji yang melewati kawasan kaum Arab Badui dari mana mereka mendapat berbagai macam keuntungan.

Yang jelas, walaupun masih minimal, muncul kesadaran di kalangan calon jamaah haji bahwa ada teknologi terbaru yang membuat perjalanan mencapai Kota Suci lebih cepat. Kereta api merevolusi cara orang berhaji, sama seperti yang dilakukan oleh kapal laut dan pesawat terbang. Sebuah laporan menyebutkan bahwa dengan kecepatan kereta api rata-rata 23 km per jam, jarak dari Damaskus ke Madinah (1300 km) bisa dicapai dalam waktu 62 jam. Bandingkan dengan karavan bersama unta: paling cepat dua bulan, belum lagi bila bila ada problem di jalan, mulai dari kriminalitas hingga penyakit.

Hejaz Railway juga berhasil membuka isolasi daerah pedalaman di Dunia Arab serta mengembangkan kota-kota yang sudah ada. Kereta api memfasilitasi transport orang dan barang dalam jumlah besar, dan itu artinya meningkatkan perekonomian warga kota. Bagi Turki Usmani sendiri, jalur ini juga dipakai sebagai instrumen untuk secara geografis mengawasi wilayah kekuasaannya di luar negerinya sendiri.

Penggagas jalur ini, Abdul Hamid II, yang bergelar “Pelayan Dua Kota Suci,” memberi nilai spiritual pada teknologi modern ini. Ia tidak hanya menekankan fungsi ekonomi dan politik jalur ini, tetapi terutama sekali fungsinya untuk memudahkan perjalanan haji kaum Muslim di berbagai wilayah di Dunia Arab dan Mediterania.

Sayangnya, banyak faktor non-teknis yang justru membuat Hejaz Railway gagal memaksimalkan potensinya. Ini termasuk kemelut politik di dalam negeri Turki Usmani sendiri (gerakan Turki Muda) serta perang yang melibatkan Turki Usmani di luar negeri (Perang Italia-Turki), yang menghabiskan energi dan sumber daya mereka. Padahal jalur ribuan kilometer itu perlu dipelihara dan diawasi, baik kelayakan konstruksinya maupun keamanannya.

Pada 1916, T.E. Lawrence (Lawrence of Arabia), anggota intelijen Inggris yang bekerja sama dengan penguasa Arab yang ingin melepaskan diri dari Turki Usmani, menyerbu Hejaz Railway demi merebut Damaskus. Bahkan, setelah Perang Dunia I, Turki sama sekali kehilangan kontrol atas jalur ini. Para penguasa lokal di Suriah, Palestina, Transjordan, dan Arab Saudi mengambil alih jalur-jalur yang melewati negeri mereka. Dalam dekade-dekade selanjutnya, penguasaan jalur ini masih diperebutkan oleh banyak pihak, termasuk dengan melibatkan kekuatan Eropa seperti Inggris dan Perancis. Kini, sebagian jalur rel itu dibiarkan terbengkalai, rusak dimakan usia. Namun, di awal abad ke-21 ini, terbetik kabar bahwa jalur ini akan kembali dihidupkan oleh Pemerintah Turki.

___

*Penilik sejarah Islam

Tulisan ini pernah dimuat di Majalah SM Edisi 2 tahun 2018

Tambah Komentar

Klik disini untuk memberikan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *