25.6 C
Yogyakarta
Selasa, Agustus 11, 2020

Haedar Nashir: Jauhkan Islam dan Kebangsaan dari Berpikir Kerdil

By Suara Muhammadiyah

- Advertisement -

Berita Terbaru

UM Metro PTS Terbaik di Sumatera Versi Webomatrics

METRO, Suara Muhammadiyah - Dalam rilis terbaru Webomatrics edisi Juli 2020, Universitas Muhammadiyah Metro bertahan di peringkat pertama sebagai perguruan tinggi swasta...

Khutbah Ta’aruf Hajriyanto di SMP Mutual: Pentingnya Komunikasi dan Menjalin Relasi

MAGELANG, Suara Muhammadiyah - Salah satu aspek yang akan menentukan keberhasilan dimasa mendatang adalah sejauh mana kemampuan berkomunikasi serta menjalin relasi dengan...

Haedar Nashir: Kerjasama Jadikan Unismuh Unggul dan Berkemajuan

MAKASSAR, Suara Muhammadiyah - Prof Dr H Ambo Asse, M.Ag resmi dilantik jadi Rektor baru Unismuh Makassar periode 2020-2024. Prof Ambo Asse...

Prof Ambo Asse Resmi Dilantik Jadi Rektor Baru Unismuh ke-11

MAKASSAR, Suara Muhammadiyah - Prof Dr H Ambo Asse, M.Ag resmi dilantik menjadi Rektor Unismuh Makassar. Guru Besar dari UIN Alauddin Makassar...

Kiprah Prof Rahman Rahim Memajukan Unismuh

MAKASSAR, Suara Muhammadiyah - Rektor Unismuh  Makassar, Prof Dr H Abdul Rahman Rahim, SE,MM telah berakhir masa periodenya  sebagai rektor sejak Sabtu...
- Advertisement -

SLEMAN, Suara Muhammadiyah – Ketua Umum PP Muhammadiyah Haedar Nasir mengajak untuk mengkonstruksi kembali pikiran Islam lewat paradigma iqra, menurutnya masih banyak diantara umat Islam yang mudah mengkafirkan sesamanya, lantaran klaim penafsiran tentang Islam.

“Saran saya ajakan tadi itu bagaimana cara mengkonstruksi Islam dengan paradigma iqra yang melampaui, mendalam dan tidak membuat kita saling berebut tafsir, sehingga Islam menjadi kerdil, bahkan, diri kita menjadi kerdil. Jangankan dengan orang lain yang beda agama, beda negara, bahkan sesama muslim saja kita mudah untuk takfiri,” ujarnya

Hal ini disampaikannya pada acara Dialog Kebangsaan “Islam, Kebangsaan dan Perdamaian” yang di selenggarakan di Auditorium Abdulkahar Mudzakir, Universitas Islam Indonesia, Kamis (28/2).

Ada kekerdilan yang dipahami oleh masyarakat Indonesia sekarang ini, dalam memahami Islam, banyak sekali firqoh-firqoh yang berebut untuk mengedepankan bahwa penafsirannya yang paling benar.

“Dan tak jarang tafsirnya itu digunakan sebagai alat pemukul bagi pihak lain, dan juga sebagai alat menyempitkan ruang pemikiran pihak lain,” jelas Haedar

Hal itu disebabkan karena salah dalam cara membaca dan memahami pesan-pesan keislaman, serta hilangnya narasi iqra yang sesungguhnya.

“Kita kehilangan narasi iqra yang dalam arti sesungguhnya dalam mengkonstruksi Islam,” imbuhnyanya

Dalam konteks yang sama, Haedar juga menjelaskan adanya kekerdilan dalam kebangsaan. Hal ini dikarenakan masih banyak masyarakat yang menggunakan survey sebagai salah satu tolok ukur dalam memahami realita.

“Yang muncul adalah konstruksi survey, dan konstruksi survey telah mencekoki pemikiran masyarakat, sehingga semuanya dikonstruksi narasi verbal jangka pendek.”

Menanggapi hal tersebut, Budayawan Emha Ainun Najib sebagai narasumber lainnya menyampaikan bahwa ini adalah dakwah, yang mana dalam dakwah tersebut bukan seberapa pintarnya orang dalam penafsiran, akan tetapi tadabbur dalam Al-qur’an, outputnya, seberapa bermanfaat bagi semua manusia.

“Tafsir itu adalah pengaruh barat, karena yang unggul itu adalah yang paling pintar, kalau tadabbur nggak, pintar nggak apa-apa, nggak pintar nggak apa-apa yang penting output setelah bergaul dengan Al-qur’an seberapa manfaat bagi semua manusia,” tegasnya.

Dan dalam dakwah juga harus menggunakan metode bil-hikmah, denggan segala bentuk kepintaran di kristalisasikan dalam kebijaksanaan.

Di akhir penutupan dialog Cak Nun juga mengatakan bahwah hadirnya Muhammadiyah bukan untuk saling berkompetisi, untuk saling beradu dan mengalahkan satu sama lain, tetapi Muhammadiyah hadir dengan membawa pergerakan dakwah yang menerapkan metode bil-hikmah.

Salah satu contoh yang diterapkan oleh organisasi Muhammadiyah dengan metode bil-hikmah yaitu ketika Muhammadiyah hendak memilih ketua atau pimpinan yang baru.

Dengan tidak melihat seberapa tinggi pangkatnya, akan tetapi seberapa banyak kebermanfaatannya bagi seluruh manusia.(Ian/Afn)  

Baca juga

Risalah Pencerahan Tanwir Muhammadiyah Bengkulu

Akademisi dan Budayawan Urun Rembuk Gagas Pusat Kebudayaan Islam Indonesia

Empat Langkah Pemenang

- Advertisement -

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -
- Advertisement -
- Advertisement -

More articles