Tanya Jawab Agama

Tata Cara Takziyah

rumah duka tukul1

Pertanyaan:

Assalamu ‘alaikum wr wb

Mohon penjelasan tuntunan cara takziyah, apakah boleh memberikan kata-kata takziyah, padahal mayat masih ada di rumah ahli musibah? Terima kasih.

Ridwan EB, dpw perhiptani***@yahoo[dot]com

(disidangkan pada Jum’at, 20 Muharram 1438 H / 21 Oktober 2016 M)

Jawaban:

Wa ‘alaikumussalam wr wb

Terima kasih atas pertanyaan yang saudara ajukan. Sebelum menjawab pertanyaan saudara, perlu dijelaskan pengertian dari takziyah itu sendiri. Dalam kamus Mu’jamul Wasith disebutkan, takziyah berarti menghibur agar bersabar atas sesuatu yang menimpanya. Muhammad Ibn Qudamah dalam kitab Al-Mughni (I:480), yang dimaksud takziyah adalah menghibur keluarga TATA CARA TAKZIYAH yang tertimpa musibah, memenuhi hak-haknya, mendekatinya, dan memenuhi kebutuhannya seperti biasanya setelah pemakaman. As-Sayyid Sabiq dalam kitab Fiqh as-Sunnah (I:304), menyebutkan bahwa takziyah berasal dari kata yang berarti sabar, yakni menyabarkan dan menghibur orang yang ditimpa musibah dengan menyebutkan hal-hal yang dapat menghapus duka dan meringankan penderitaannya.

Berkaitan dengan tuntunan cara takziyah dalam konteks kematian, saudara bisa melihat di dalam buku Himpunan Putusan Tarjih, bab Melawat (sic: melayat), terbitan Suara Muhammadiyah, tahun 2011, hal. 234. Ada beberapa hal yang hendaknya dilakukan, ketika melakukan takziyah kepada keluarga yang ditinggalkan, di antaranya;

  • Mengucapkan: “Innalilla-hi wa inna-ilaihi ra-ji’u-n (Sesungguhnya kami adalah milik Allah dan kepadaNyalah kami kembali)” ”, seraya berdoa: “Alla-humma ajurni- fimushi-bati-wa akhlif li-khairan minhaa (Ya Allah, berilah aku pahala karena musibah ini dan tukarlah bagiku dengan yang lebih baik daripadanya).” Dasarnya adalah firman Allah SwT,

1

(yaitu) Orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka berkata: «Innaa lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun» (sesungguhnya kami milik Allah dan kepada-Nyalah kami kembali) (Qs Al-Baqarah [2]: 156). Dan hadits Nabi saw,

2

Dari Ummu Salamah (diriwayatkan) bahwa ia berkata; Saya mendengar Rasulullah sawbersabda: Tidaklah seorang mukmin tertimpa musibah lalu ia membaca apa yang telah diperintahkan oleh Allah, innaa lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun, allahumma ajurnii fii mushiibatii wa akhlif lii khairan minhaa (Sesungguhnya kami adalah milik Allah dan akan kembali kepada Allah. Ya Allah, berilah aku pahala karena musibah ini dan tukarlah bagiku dengan yang lebih baik daripadanya), melainkan Allah menukar baginya dengan yang lebih baik [HR. Ahmad nomor 25498, Muslim nomor 918 dengan lafal Muslim].

Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Usamah Ibn Zaid disebutkan, ketika ada seorang utusan yang datang kepada Rasulullah saw untuk memberi kabar kematian seseorang, beliau bersabda kepada utusan itu: Kembalilah kepadanya dan katakanlah:

3

Sesungguhnya adalah milik Allah apa yang Dia ambil, dan akan kembali kepada-Nya apa yang Dia berikan. Segala sesuatu yang ada di sisiNya ada jangka waktu tertentu (ada ajalnya). Maka suruhlan dia untuk bersabar dan mengharap pahala dari Allah [HR. al-Bukhari nomor 6829].

Dalil-dalil tersebut menjelaskan bahwa ketika tertimpa musibah disunnahkan untuk mengucapkan istirja’ (ucapan Innaa lilla-hi wa inna- ilaihi ra-ji’u-n) dan berdoa (Alla-humma ajurni- fi- mushi-bati- wa akhlif likhairan minhaa). Adapun ucapan belasungkawa bisa bermacam-macam dan bisa dengan menggunakan bahasa Indonesia atau bahasa daerah (sesuai bahasa masing-masing), namun alangkah lebih baik jika mengamalkan doa sebagaimana yang dicontohkan oleh Rasulullah saw.

  • Menghibur keluarga yang ditinggalkan dan meringankan kesedihannya, menganjurkannya untuk bersabar dan mengharapkan pahala dari Allah SwT, juga diperbolehkan untuk mengucapkan hal-hal yang baik lainnya. Sebagaimana hadits yang artinya, Dari Usamah (diriwayatkan), ia berkata, “Anak laki-laki dari anak perempuan Nabi saw sakit, lantas putri Nabi mengutus seorang utusan yang inti pesannya agar beliau mendatanginya. Hanya Nabi berhalangan dan menyampaikan pesan: ‹innaa lillaahi maa akhdza wa lahu maa a’thaa wa kullun ilaa ajalin musammaa faltashbir waltahtashib’ (Milik Allah sajalah segala yang diambil dan yang diberikan, dan segala sesuatu mempunyai batasan waktu tertentu, hendaklah engkau bersabar dan mengharap-harap ganjaran)›. Lantas putri Nabi untuk kali kedua mengutus utusannya seraya menyatakan sumpah agar beliau mendatangi. Maka Rasulullah saw pun berangkat dan aku bersamanya, juga Mu’adz Ibn Jabal, Ubbay Ibn Ka’b, dan Ubadah Ibn Shamit. Ketika kami masuk, Rasulullah sawmembopong cucunya sedang napasnya sudah tersengal-sengal di dadanya -seingatku Usamah mengatakan seperti geriba (wadah air dari kulit) kecil yang lusuh- maka Rasulullah saw pun menangis sehingga Sa’d Ibn ’Ubadah berkata, ‘Mengapa baginda menangis? ‘Nabi menjawab: ‘Hanyasanya Allah menyayangi hamba-Nya yang penyayang.” (HR. Al-Bukhari nomor 6894)
  • Membuatkan makanan bagi keluarga yang ditinggalkan, serta mencukupi kebutuhannya, hal ini berdasarkan hadits dari Abdullah Ibn Ja‘far ra.,

4

Ketika Ja’far ditimpa musibah, Rasulullah saw pulang kepada keluarganya dan bersabda: “Sesungguhnya keluarga Ja’far disibukkan oleh orang yang mati dari keluarga mereka, maka buatkanlah makanan untuk mereka,” (Sunan Ibn Majah nomor 1611).

Hadits ini menjelaskan anjuran untuk membuatkan makanan bagi keluarga yang ditinggalkan, bukan keluarga yang tertimpa musibah yang membuatkan makanan kepada yang datang untuk melayat.

  • Dianjurkan untuk menshalatkan jenazah dan mengantarkannya sampai kubur, sebagaimana disebutkan dalam hadits

5

Telah menceritakan kepada kami ‘Abdullah IbnMaslamah berkata, aku membacakan kepada Ibn Abu Dza’bi dari Sa’id Ibn Abu Sa’id Al Maqbariy dari bapaknya bahwasanya dia pernah bertanya kepada Abu Hurairah ra., maka Abu Hurairah ra. menjawab; Aku mendengar Nabi saw, dan dalam riwayat lain telah menceritakan kepada kami Ahmad Ibn Syabib Ibn Sa’id berkata, telah menceritakan bapakku kepadaku, telah menceritakan kepada kami Yunus, ia berkata, Ibn Syihab telah menceritakan kepada saya ‘Abdurrahman Al A’raj bahwa Abu Hurairah ra. berkata; Telah bersabda Rasulullah saw, “Barangsiapa yang menyaksikan jenazah hingga ikut menshalatkannya maka baginya pahala satu qirath, dan barangsiapa yang menyaksikan jenazah hingga ikut menguburkannya maka baginya pahala dua qirath”. Ditanyakan kepada beliau: “Apa yang dimaksud dengan dua qirath?” Beliau menjawab: “Seperti dua gunung yang besar” [HR. Al-Bukhari nomor 1240 dan Muslim nomor 1570, dengan lafal al-Bukhari].

Hadits-hadits di atas memberi pengertian bahwa anjuran melayat dilakukan sampai dengan dikuburkannya jenazah. Hal ini menunjukkan dibenarkannya melayat sejak jenazah masih ada di rumah ahli musibah.

Mengenai batas akhir waktu mengucapkan bela sungkawa (bertakziyah) tidak ditemukan dalil yang menyebutkan secara spesifik tentang batasan waktunya. Pernah suatu ketika Nabi saw melewati seorang perempuan yang menangis di kuburan, kemudian beliau menasihatinya agar bertakwa dan bersabar, sebagaimana hadits berikut:

6

Dari Anas Ibn Malik ra (diriwayatkan) ia berkata, Nabi saw lewat dekat seorang wanita yang menangis di kuburan, maka beliau bersabda: Bertakwalah kamu kepada Allah dan bersabarlah [HR. Al-Jama’ah, dengan lafal Al-Bukhari nomor 1283].

Masa berduka atau berkabung keluarganya dan orang-orang yang ditinggalkannya adalah tiga hari. Sebagaimana Rasulullah saw pernah menyampaikan kepada keluarga Ja’far ketika ayahnya gugur dalam perang Mu’tah.

Telah menceritakan kepada kami Uqbah Ibn Mukram dan Ibn Al Mutsanna keduanya berkata; telah menceritakan kepada kami Wahb Ibn Jarir, ia berkata, telah menceritakan kepada kami Bapakku ia berkata, Aku mendengar Muhammad Ibn Abu Ya’qub ia menceritakan dari Al Hasan Ibn Sa’d dari Abdullah Ibn Ja’far berkata, Nabi saw memberi tenggang waktu untuk keluarga Ja’far selama tiga hari, setelah itu beliau datang kepada mereka dan bersabda: Setelah ini, janganlah kalian menangisi saudaraku. Setelah itu beliau bersabda: Undanglah kemari bani saudaraku. Kami lalu dihadapkan kepada beliaun layaknya anak-anak ayam, beliau lantas bersabda: Panggilkan tukang cukur kepadaku. Beliau lalu memerintah tukang cukur itu (untuk mencukur), hingga kami semua dicukur olehnya. [HR. Abu Dawud nomor 3660 dan Ahmad nomor 1659].

Terkait dengan hal tersebut, ada kekhususan bagi seorang istri, bahwa ia diperbolehkan berkabung atas suaminya lebih dari tiga hari, sebagaimana hadits berikut,

7

Tidaklah boleh bagi seorang wanita yang beriman kepada Allah dan hari Kiamat, untuk berkabung lebih dari tiga hari, terkecuali berkabung karena (ditinggal mati) suaminya, yaitu selama empat bulan sepuluh hari [HR. Al-Bukhari nomor 4918 dan Muslim nomor 2738, dengan lafal Al-Bukhari].

Dalam buku Tanya Jawab Agama jilid 2, terbitan Suara Muhammadiyah, hal. 168, bab Masalah Takziyah, dijelaskan bahwa Islam menganjurkan untuk melakukan takziyah bagi seorang Muslim terhadap keluarga muslim yang kehilangan keluarganya, bagi yang berada dalam satu kota selama tiga hari dan bagi yang tidak berada dalam satu kota, diperbolehkan lebih dari itu, sekalipun telah berlalu satu bulan. Oleh karena itu, boleh mengucapkan kapan saja apabila ada manfaatnya, baik ketika mayat masih di rumah ahli musibah maupun sudah dimakamkan.

Wallahu a’lam bish-shawab.

Rubrik Tanya Jawab Agama Diasuh Divisi Fatwa Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Tulisan ini pernah dimuat di Majalah SM edisi 7 tahun 2018

Menandai

Tambah Komentar

Klik disini untuk memberikan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *