smamda
Tanya Jawab Agama

Bacaan Mukadimah Pidato

Ketua Umum PP Muhammadiyah Dr Haedar Nashir MSi
Ketua Umum PP Muhammadiyah Dr Haedar Nashir MSi

Pertanyaan:

Assalamu alaikum wr wb. Saya akan menanyakan perihal bacaan pembuka pidato/khotbah, setelah saya buka lewat internet ada bermacam-macam, seperti: • Innal hamda lillah nahmaduhu wa nasta’inuhu…

  • Alhamdulillahhirabbil alamin wa bihi nasta’inu…
  • Alhamdulillahhirabbil alamin arsala rasulahu bil huda…
  • Alhamdulillahhirabbil alamin hamdan katsiran…

Akan tetapi saya pernah diajarkan kakek saya yaitu dengan bacaan:

1

Mohon penjelasannya. Apakah sesuai dengan Muhammadiyah, dan jika sesuai mohon penjelasannya dengan artinya.

Tpin***@gmail.com

(disidangkan pada Jum’at, 13 Muharram 1438 H / 14 Oktober 2016)

Jawaban:

Terima kasih atas pertanyaan yang saudara ajukan, perlu diketahui bahwa kata khutbah atau pidato dalam bahasa arab adalah 2. Kata ini adalah masdar dari fi’il 3 yang berarti pidato atau ceramah. Tahmid (memuji) kepada Allah dapat diungkapkan dengan beberapa pernyataan, tidak terbatas hanya kata 4— saja, namun menggunakan bentuk lain yang memiliki makna dan arti yang sama. Oleh karena itu jika saudara hendak mengucapkan tahmid (memuji kepada Allah SwT) dengan menggunakan kata-kata yang memiliki makna yang sama, maka yang demikian diperbolehkan. Pada hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dari Jabir bin Abdullah ia berkata:

5

Khutbah Nabi pada Hari Jum’at, yaitu beliau memuji Allah (dengan alhamdulillah) dan menyanjung-Nya, kemudian menyampaikan pesan, dan suara beliau meninggi…

Dalam lafal lain disebutkan,

6

Rasullulah berkhutbah di hadapan orang banyak (dan memulai) dengan memuji kepada Allah serta menyanjung-Nya dengan pujian dan sanjungan yang layak bagi-Nya, kemudian beliau mengatakan, Barangsiapa yang diberi petunjuk oleh Allah maka tidak ada sesuatu pun yang dapat menyesatkannya, dan barang siapa yang disesatkan maka tidak ada sesuatu pun yang dapat memberinya petunjuk, dan sebaik-baik ucapan adalah Kitab Allah … [HR. Muslim no. 1435].

Memuji kepada Allah dapat menggunakan kata-kata 7 atau 8 dan lain-lain. Di dalam Al-Qur’an sendiri terdapat banyak kata-kata yang mengandung makna tahmid (memuji kepada Allah SwT), beberapa di antaranya:

9

Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam.

10

Segala puji bagi Allah Pencipta langit dan bumi …

11

Segala puji bagi Allah yang telah menurunkan kepada hamba-Nya Al Kitab (Al-Qur’an) dan Dia tidak mengadakan kebengkokan di dalamnya.

Dalam buku Himpunan Putusan Tarjih yang diterbitkan oleh Muhammadiyah pada halaman 146 “Kitab Shalat Jama’ah dan Jum’at”, terdapat contoh khutbah Nabi saw dengan beberapa penjelasan. Bahkan Nabi Muhammad saw bukan hanya saat berpidato beliau melafalkan tahmid, akan tetapi di setiap pembicaraan beliau memulainya dengan tahmid, sebagaimana hadits riwayat Abu Dawud dari Abu Hurairah:

12

Setiap ucapan yang tidak dimulai dengan memuji kepada Allah, maka ia akan terputus (dari kebaikan) [HR. Abu Dawud No. 4200]

Salah satunya adalah perihal tahmid, sebagaimana hadits dari Abu ‘Ubaidah dari ‘Abdullah yang diriwayatkan oleh An-Nasa’i dan Ahmad.

13

Dari Abu ‹Ubaidah dari ‹Abdullah dari Nabi saw, (diriwayatkan) Abdullah berkata; Rasulullah saw telah mengajarkan Khutbah Hajah (khutbah Jum’at) kepada kami, yaitu, ‘Segala puji bagi Allah, kita memohon pertolongan dan ampunan kepada-Nya, berlindung kepada-Nya dari kejahatan jiwa kami dan kejelekan perbuatan-perbuatan kami. Barangsiapa yang diberikan petunjuk oleh Allah, maka tidak akan ada yang bisa menyesatkannya. Barangsiapa yang telah Allah sesatkan, maka tidak akan ada yang bisa memberinya petunjuk. Aku bersaksi tiada tuhan (yang berhak disembah) kecuali Allah, dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya’. Kemudian beliau membaca tiga ayat berikut ini: ‘Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benar takwa kepada-Nya, dan janganlah kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam’ (Qs Ali ‘Imran [3]: 102), ‘Hai kalian manusia, bertakwalah kepada Tuhanmu yang telah menciptakanmu dari diri yang satu, dan dari-padanya Allah menciptakan istrinya, dan daripada keduanya Allah memperkembang-biakkan laki-laki dan perempuan yang banyak, dan bertakwalah kepada Allah dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu dengan yang lain, dan (peliharalah) hubungan silaturrahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasimu’ (Qs An-Nisaa [4]: 1), ‘Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan katakanlah perkataan yang benar’ (Qs Al-Ahzaab [33]: 70) [HR. An-Nasa’i no. 1387 dan Ahmad no. 3536].

Kaitannya dengan mukadimah pidato yang saudara temukan di internet dan yang kakek saudara ajarkan seperti di atas, adalah menggunakan lafal-lafal yang memiliki arti memuji kepada Allah SwT, sehingga mukadimah yang saudara sampaikan di atas adalah benar, dan akan kami sampaikan berikut artinya,

14

Segala puji hanya milik Allah kami memuji kepada-Nya dan kami memohon pertolongan kepada-Nya …

15

Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam. Dengan-Nya kami memohon pertolongan …

16

Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam. Dialah yang mengutus Rasul-Nya dengan membawa petunjuk …

17

Segala puji bagi Allah yang telah menunjuki kami kepada (surga) ini. Dan kami sekali-kali tidak akan mendapat petunjuk kalau Allah tidak memberi kami petunjuk, saya bersaksi tidak ada sesembahan yang berhak disembah kecuali Allah semata dan tidak ada sekutu bagi-Nya. Ya Allah limpahkanlah kemurahanMu kepada Muhammad dan keluarganya. Barangsiapa yang berpegang teguh kepada (agama) Allah, maka sesungguhnya ia telah diberi petunjuk kepada jalan yang lurus.

Terkhusus dalam tata cara khutbah Jum’at, imam hendaklah memulai khutbahnya dengan ucapan: tahmid, tasyahhud dan shalawat kepada Nabi, lalu berwasiat dengan takwa dan kemudian berdoa, sebagaimana yang telah dijelaskan dalam Himpunan Putusan Tarjih (HPT) BAB Kitab Shalat Jama’ah dan Jum’at hal. 146-147 cetakan ke-3.

Wallahu a’lam bish-shawab.

Rubrik Tanya Jawab Agama Diasuh Divisi Fatwa Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Tulisan ini pernah dimuat di Majalah SM Edisi 8 tahun 2018

Tambah Komentar

Klik disini untuk memberikan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *