smamda
Berita

Ikhtiar IMM Djazman Al Kindi Yogyakarta Meretas Jalan Pemberdayaan

Dok IMM Djazman
Dok IMM Djazman

YOGYAKARTA, Suara Muhammadiyah – Pimpinan Cabang Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) Djazman Al Kindi kota Yogyakarta mengadakan dialog pra Darul Arqam Madya (DAM). Diinisiasi oleh bidang Perkaderan dengan menghadirkan dua pemantik, yakni Ahmad Ahid Mudayana dan Ananto Isworo di Aula Gedung Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), Rabu (20/3).

Pra-DAM tersebut diikuti oleh kader yang berasal dari berbagai perguruan tinggi di Yogyakarta seperti Universitas Ahmad Dahlan (UAD), Universitas PGRI Yogyakarta (UPY), Universitas Cokroaminoto (UCY), Sekolah Tinggi Agama Islam Masjid Syuhada (STAIMS), Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan (STIKES) Surya Global, Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), dan Universitas Gajah Mada (UGM).

Ketua Umum PC IMM Djazman Al Kindi Muhammad Isa Anshori menyampaikan bahwa DAM adalah proses perkaderan yang harus selalu dijalankan untuk melakukan up grade kader dan untuk menyiapkan tonggak kepemimpinan selanjutnya.

“Gerakan IMM merupakan gerakan kemahasiswaan berbasis pada Keagamaan, Perkaderan dan Dakwah. Perlu adanya alternatif pemberdayaan untuk menuangkan aksi nyata para kader ikatan dalam membumikan gerakan dakwah, yakni dengan bermasyarakat,” katanya.

DAM dilaksanakan untuk melahirkan kader utama dalam tubuh ikatan “pembekalan ideologi harus selalu diberikan dalam setiap perkaderan yang dilakukan oleh IMM, baik itu dasar, madya, maupun paripurna. Peserta DAM harus mampu menginternalisasikan nilai-niai ideologi Muhammadiyah dalam setiap gerak langkahnya terkhusus di dalam Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah” ungkap Harpan selaku perwakilan dari Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kota Yogyakarta.

Ahid Mudayana selaku pemateri pertama dan juga sebagai ketua Majelis Pendidikan Kader (MPK) PDM menekankan bahwa mahasiswa mempunyai peranan sangat penting dalam pemberdayaan masyarakat. “Pemberdayaan merupakan proses pembangunan di mana masyarakat berinisiatif untuk memulai proses kegiatan sosial untuk memperbaiki situasi dan kondisi diri sendiri. Melalui tri kompetensi IMM yakni Religiusitas, Intelektualitas, dan Humanitas, mahasiswa dapat memposisikan perannya baik itu dalam ranah kampus ataupun masyarakat yang sesungguhnya,” ungkapnya.

Pada pungkasan dialog Ahid menambahkan “yang terpenting dalam hal pemberdayaan adalah tentang bagaimana bisa melahirkan masyarakat yang terberdaya bukan terperdaya.”

Dialog kedua yang disampaikan oleh Ananto Isworo menekankan pada bentuk pemberdayaan alternatif yang sudah terimpelemntasikan di Masjid Al Muharram Brajan yakni menggerakkan jama’ah dakwah jama’ah melalu gerakan shadaqah sampah berbasis eco masjid.

“Jangan hiraukan dan jangan lupakan hal kecil, karena semua perbuatan besar berawal dari kebiasaan kecil yang ditekuni. Sampah adalah benda yang seharusnya untuk dibuang, tapi jika kita olah sebaik mungkin sampah itu adalah emas tersembunyi. Hal yang dianggap tidak bermanfaat dibaliknya terdapat jutaan keberkahan,” jelasnya.

“Dalam hidup ini bukan dinilai dari seberapa banyak kita bisa memberikan materi, tetapi sudahkah kita bermanfaat untuk orang lain dan berapa banyak orang yang sudah kita bahagiakan?” pungkasnya.

Pra-DAM ini diakhiri dengan sesi dialog kepada kedua pemateri. Harapannya seluruh kader terbekali dan membuka wawasan tentang pemberdayaan sebagai wujud dari filantropi kepada masyarakat. (Medkom)

Tambah Komentar

Klik disini untuk memberikan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *