Keluarga Sakinah

Dilarang Bekerja

Ilustrasi
Ilustrasi

Assalamu’alaikum wr wb.

Bu Emmy yth., saya (28 tahun) ibu dari seorang balita. Sudah lima tahun ini kami menikah dan tinggal di PMI (Pondok Mertua Indah). Hidup kami pas-pasan, sedangkan suami adalah perokok berat, sehari bisa habis dua bungkus. Berkalikali saya mengingatkan untuk mengurangi kebiasaannya merokok, tapi tidak digubris. Padahal untuk bicara dengan suami saya mesti hati-hati dan cari waktu yang tepat karena ia mudah tersinggung dan berkecil hati. Begitu pula ketika saya menyampaikan keinginan saya untuk bekerja. Ia tidak mengizinkan. Padahal si kecil lebih suka sama kakeknya.

Saya juga pernah minta izin untuk membuka warung kelontong kecil-kecilan di rumah, tapi belum juga mendapat izin. Bagaimana cara meyakinkan suami ya, Bu? Saya harap Bu Emmy bisa membantu saya memecahkan masalah ini. Jazakumullah atas bantuannya.

Wassalamu’alaikum wr wb.

Rin, somewhere

 

Wa’alaikumsalam wr wb.

Rin yang baik, ada beberapa hal positif yang bisa diperoleh ketika pasangan muda seperti Anda tinggal bersama orang tua. Di antaranya: ada yang membantu mengasuh anak dan bisa lebih hemat karena tak perlu bayar kontrak rumah. Tetapi, di sisi lain pasangan ini akan kehilangan banyak kesempatan untuk menguji sampai di mana tingkat kemandirian mereka. Kalau tinggal bersama orang tua, bukankah bisa numpang makan? Artinya, tidak perlu mengeluarkan uang untuk belanja. Juga rekening listrik dan air tidak perlu dipikirkan. Bila ada konflik, ada ayah dan ibu yang siap membantu menyelesaikan masalah. Akibatnya, motivasi memiliki hal-hal yang bisa mendukung otonomi dan kemandirian menjadi rendah. Secara psikologis kematangan mental suami-istri kurang terasah dibandingkan dengan pasangan yang sejak menikah sudah ingin mandiri dan pisah dengan orang tuanya.

Kalau Anda katakan gaji suami sedikit sedangkan merokoknya kuat, ini merupakan pertanda ia mempunyai keleluasaan untuk memakai gaji tanpa perlu khawatir kebutuhan pokok anak dan istri tidak terpenuhi. Saya menduga, ini salah satu alasan ia tidak mengizinkan Anda bekerja. Bukankah uang tidak kurang? Menurut saya, keresahan Anda lebih karena Anda tidak memegang uang yang Anda cari sendiri dan bisa dibelanjakan sesuai keinginan. Rasa jengkel muncul karena suami membelanjakan uang dengan cara tidak sesuai harapan Anda. Tapi apa daya, dia yang cari uang.

Cobalah untuk bicara dengan suami, tetapi kali ini dengan mengemukakan alasan yang sebenarnya. Jangan gunakan kata-kata yang memberi kesan Anda meragukan kemampuannya mencukupi nafkah. Jangan katakan kurang tapi katakan Anda ingin leluasa. Dan katakan Anda ingin merasa bangga atas jerih payah sendiri.

Sebetulnya, saran utama saya adalah mencoba untuk berumah tangga benar-benar terpisah dari orang tua kedua belah pihak. Caranya adalah dengan kontrak rumah sembari merencanakan memiliki rumah sendiri. Nanti akan terasa betapa nyamannya tinggal terpisah dari orang tua. Insya Allah suamipun akan lebih dewasa karena setiap rupiah yang terbakar melalui rokoknya patut diperhitungkan agar anak dan istri bisa hidup layak.

Saya tidak tahu apakah Anda mendapat subsidi keuangan bulanan dari orang tua. Namun saya banyak menyaksikan betapa uang itu bisa sangat berkuasa. Artinya, sangat bisa orang tua mencampuri urusan rumah tangga anaknya sehingga membuat perasaan otonomi melemah. Kalau sudah begini mana berani melawan.

Jangan sedih, tetaplah berbuat. Tetapkan tujuan perkawinan bersama suami. Hari demi hari, evaluasilah sampai mana Anda berdua berhasil mewujudkannya. Anda berdua juga harus lebih banyak mengeratkan hubungan dengan mengembangkan sikap saling memahami. Juga, buatlah pasangan nyaman serta mau mendengarkan harapan dan keinginan istrinya bagi suami. Sekali lagi, tetap lakukan sesuatu, jangan putus asa. Perbanyak kata-kata penuh kasih sayang bila bicara pada suami. Semoga suami makin nyaman dan semakin percaya Anda dan memberi izin bekerja. Meski di rumah, tidak mengapa, bukan? Semoga Allah memberi kekuatan dan kesabaran pada Anda dalam menghadapi suami dan mengarungi rumah tangga bersama suami. Amiin.

Tulisan ini pernah dimuat di Majalah SM Edisi 9 Tahun 2018

Kami membuka rubrik tanya jawab masalah keluarga. Pembaca bisa mengutarakan persoalan dengan mengajukan pertanyaan. Pengasuh rubrik ini, Emmy Wahyuni, SPsi. seorang pakar psikologi, dengan senang hati akan menjawabnya.

Tambah Komentar

Klik disini untuk memberikan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *