30 C
Yogyakarta
Minggu, Juli 5, 2020

Hati yang Membatu

By Suara Muhammadiyah

- Advertisement -

Berita Terbaru

Desember Diperkirakan Belum Aman Covid-19, Muhammadiyah (Kembali) Putuskan Menunda Muktamar

Yogyakarta, suaramuhammadiyah.id. Empat bulan sudah covid-19 membersamai kita dan sampai hari ini wabah tersebut belum juga menunjukan tanda-tanda akan segera menurun. Melandai...

Haedar Nashir: Masalah RUUHIP Bukan Masalah Umat Islam Vs Pemerintah

Ketua Umum PP Muhamadiyah, Prof Dr H Haedar Nashir, menyampaikan bahwa selama empat bulan masa pandemi yang memprihatinkan ini, Pimpinan Pusat Muhammadiyah...

PusdikHAM Uhamka: RUU HIP Sebaiknya Dihentikan

JAKARTA, Suara Muhammadiyah - Pusat Studi dan Pendidikan dan Hak Asasi Manusia (PUSDIKHAM) Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. Hamka menggelar sebuah Webinar terkait...

Kematian Pangeran Arab Saudi yang Masih Misteri

RIYADH, Suara Muhammadiyah – Pemerintah Arab Saudi mengumumkan bahwa Pangeran Bandar bin Saad bin Mohammad bin Abdulaziz bin Saud bin Fisal Al...

Bimtek IT, Dikdasmen PDM Magelang Mengawal Pembelajaran Online

MAGELANG, Suara Muhammadiyah - Sistem pembelajaran di masa Pandemi Covid-19 membutuhkan adaptasi baik bagi guru maupun siswa. Bagi guru dituntut lebih dalam...
- Advertisement -

Oleh: Dr M G Bagus Kastolani, Psi

Saya yakin pembaca yang budiman sering tersentuh hatinya, saat melihat kesulitan orang lain. Mungkin kita bisa menangis menyaksikan kesulitan orang lain. Pada lain waktu, kita melihat peristiwa yang sama namun hati kita tidak berempati bahkan tidak tergerak untuk menolong orang lain yang sedang dalam kesulitan. Inilah rahasia hati kita. Hati yang sering disebut sebagai qalbu sebenarnya mempunyai makna sebagai daun pintu, bisa membuka, bisa menutup. Artinya, hati ini memang labil, kadang naik, kadang turun.

Imam Al Ghazali dalam kitab Ihya’ Ulumuddin pernah menjelaskan bahwa ketika manusia berbuat dosa maka terdapat satu noktah pada hatinya. Jika kita banyak berbuat dosa dan tidak segera bertaubat maka banyak noktah di hati kita. Dan noktah-noktah itu semakin menutup hati kita sehingga kita tidak bisa mendengar kata hati kita yang berhubungan langsung dengan Allah SwT. Oleh karena itu, agar kita bisa mendengarkan bisikan kata hati kita yang mengarahkan kepada kebaikan maka perbanyaklah bertaubat kepada Allah SwT. Sebab hanya dengan taubat maka Allah SwT akan mengampuni dosa-dosa kita dan secara otomatis bergugurlah noktah-noktah dalam hati kita.

Dalam kitab itu, Imam Al Ghazali menyarankan kepada kita agar menyegerakan membantu orang lain yang sedang kesulitan, jangan ditunda. Karena ketika kita tunda, maka di lain kesempatan kita juga akan menunda menolong orang lain. Akibatnya, hati kita tidak lagi sensitif terhadap kesulitan orang lain. Akhirnya, hati kita membatu, tidak mampu berempati ketika melihat orang lain dalam kesulitan. Marilah kita coba test atau kita uji hati kita ini sudah membatu atau belum. Jika kita melihat kesulitan orang lain namun kita tidak membantunya maka dipastikan hati kita ini sudah membatu. Dengan demikian, jagalah hati kita agar tidak membatu dengan cara menyegerakan menolong orang lain dengan apapun yang kita bisa bantu. Setidaknya bantulah dengan doa kepada orang yang kesulitan tersebut. Karena kita juga tidak tahu dari mulut siapa doa akan dikabulkan. Bukankah ketika kita mendoakan kebaikan kepada orang lain maka kebaikan doa tersebut kembali kepada kita?

Huwallahu a’lam bi shawab.

Tulisan ini pernah dimuat di Majalah SM edisi 12 tahun 2018

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -
- Advertisement -

More articles