22.3 C
Yogyakarta
Minggu, Juli 5, 2020

Diskusi Ensiklopedia Buya Hamka dan Fresh Ijtihad di Malaysia

By Suara Muhammadiyah

- Advertisement -

Berita Terbaru

Inovasi Mahasiswa FT UM Magelang, Ciptakan Cetakan Gula Jawa Ergonomis

MAGELANG, Suara Muhammadiyah - Pandemi Covid-19 tidaklah menghalangi kreativitas mahasiswa Fakultas Teknik Universitas Muhammadiyah Magelang. Terbukti mereka mampu membuat sebuah terobosan teknologi...

Download Logo Milad IPM ke-59

YOGYAKARTA, Suara Muhammadiyah - Ikatan Pelajar Muhammadiyah memperingati Milad ke-59 pada tanggal 18 Juli 2020. Pimpinan Pusat IPM telah...

Bantuan FKIP Unismuh untuk Masyarakat Terdampak Banjir Luwu Utara

LUWU UTARA, Suara Muhammadiyah – Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Muhammadiyah (Unismuh) Makassar menyalurkan bantuan untuk korban banjir di Kabupaten...

Kolaborasi dengan BEM, FAI UMY Bantu Mahasiswa Terdampak Pandemi

YOGYAKARTA, Suara Muhammadiyah - Fakultas Agama Islam Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) memberikan bantuan donasi kepada mahasiswa terdampak pandemi Covid-19.  Wakil Dekan II...

Nelayan Aceh, Pahlawan Kemanusiaan

LHOKSEUMAWE, Suara Muhammadiyah - Dunia kembali dihebohkan dengan peristiwa para nelayan yang membantu para pengungsi ditengah lautan bebas. Kejadian ini terjadi pada...
- Advertisement -

IPOH, Suara Muhammadiyah – Bekerjasama dengan Universitas Muhammadiyah Prof Dr Hamka, organisasi Islam Malaysia Lestari Hikmah, Yayasan Dahwah Islam Malaysia, dan Pertubuhan IKRAM, Suara Muhammadiyah menggelar peluncuran dan diskusi buku Ensiklopedia Buya Hamka karya tim Pusat Studi Buya Hamka Uhamka dan Fresh Ijtihad karya Prof Dr M Amin Abdullah.

Bertempat di Ipoh, Negara Bagian Perak, pada Ahad, 14 April 2019, salah seorang panitia membuka acara dengan menghimbau komunitas Muslim di Malaysia pada khususnya, dan Dunia Melayu pada umumnya, agar selalu berpedoman pada pemikiran Buya Hamka. Sebab, pemikiran ulama kondang yang satu ini terbukti punya andil dan potensi yang lebih besar untuk menyatukan Muslim di Nusantara atau Dunia Melayu.

Perihal latar belakang Ensiklopedi Buya Hamka, Drs Afif Hamka—yang merupakan mubaligh kenamaan Muhammadiyah sekaligus putra ke sembilan Buya Hamka—menceritakan bahwa penyusunan buku ini ditujukan untuk mempermudah pembaca dalam mencari dan memahami pemikiran Buya Hamka terkait tema-tema tertentu.

Mengingat khazanah pemikiran Buya Hamka begitu banyak terserak dalam lebih dari 120 karya, terbitnya buku ini, menurutnya, tentu akan memberi banyak kemudahan kemudahan bagi para pengkajinya. Harapannya, dengan begitu pemikiran Buya Hamka dapat tersebar semakin luas di tengah khalayak dan dapat membantu mewujudkan masyarakat Islam yang sebenar-benarnya sekaligus mewujudkan persatuan di antara Muslim di Dunia Melayu.

Tak hanya sampai di situ, Afif Hamka dan awak Pusat Studi Buya Hamka Uhamka pun juga berharap bahwa kelak penyusunan buku semacam ini dapat berlanjut. Selain itu, sekali lagi Afif Hamka mengingatkan hadirin agar senantiasa menjaga ghirah dalam beragama sekaligus menjiwai ajaran tasawuf yang diwarsikan Hamka yang bernafaskan keikhlasan dan rasa mawas diri demi kemaslahatan bersama di dunia dan akhirat.

Sebagaimana jamak diketahui, pemikiran Buya Hamka menyelimuti benak jutaan Muslim di Dunia Melayu. Namun demikian, Prof Dr Mohammad Amin Abdullah menyayangkan bahwasannya kini ulama elegan, polymath, sekaligus kosmopolitan semacam Hamka sudah jarang sekali gemanya di Dunia Islam pada umumnya. Padahal, menurutnya kini Dunia Islam sedang menanti-nantikan kontribusi pemikiran dari Muslim Melayu.

Salah satu elemen yang punya potensi besar untuk memberi kontribusi itu adalah Muhammadiyah, yang dalam buku Fresh Ijtihad: Manhaj Pemikiran Keislaman Muhammadiyah di Era Disrupsi karyanya disebutkan salah satu organisasi asal Dunia Melayu yang gandrung menyelesaikan perbedaan pendapat dengan cara yang baru dan penuh perdamaian.

Sebagaimana dikatakan Amin Abdullah, berbeda dari pemahaman Islam yang bergema di Mesir, Pakistan atau Arab Saudi, pemahaman keislaman Muhammadiyah konsisten menyerukan tajdid di segala ranah kehidupan sekaligus menghindari dan mengubur fanatisme buta kepada mazhab tertentu, sebab fanatisme tak lain hanya akan membuahkan kemudaratan.

Amin Abdullah menjelaskan bahwa buku ini bertujuan untuk mengajak pembaca meninjau secara retrospektif apa pencapaian Muhammadiyah setelah bernafas lebih dari seabad, sekaligus mengajak untuk menerawang bagaimana situasi Muhammadiyah dan Dunia Islam seratus tahun ke depan.

Pemaparan Afif Hamka dan M. Amin Abdullah menuai tanggapan positif dari para hadirin yang merupakan penduduk asli Ipoh maupun pendatang dari Indonesia. Acara peluncuran dan diskusi buku diikuti oleh sejibun pertanyaan khalayak yang tertarik untuk mengupas apa peran besar yang dapat dimainkan Muhammadiyah di tengah masyarakat Islam di Dunia Melayu. (DIT)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -
- Advertisement -

More articles