smamda
Motivasi

Bayar Sewa

memeluk ibu

Oleh: Dr M G Bagus Kastolani, Psi

Disebutkan dalam suatu kisah, tiga orang anak kandung seorang ibu menuntut ibunya sendiri karena sang ibu telah ikut tinggal dengan ketiga anaknya secara bergantian. Ya ibu tua itu telah ikut anak-anak kandungnya sendiri selama 9 tahun terakhir secara bergantian dari anak satu ke anak lainnya.

Namun ibunya tidak pernah memberikan uang sepersen pun untuk membantu kehidupan anak-anak yang ia tempati. Maka ketiga anaknya sepakat untuk menuntut ibu kandungnya sendiri untuk membayar sewa kamar selama 9 tahun saat ikut anak-anaknya.

Melalui jaksa kenamaan, sang ibu tua dibawa ke sidang pengadilan. Ibu ini pun tak didampingi oleh pengacaranya. Ia hanya datang sendiri ke pengadilan dengan terhuyung-huyung, Tongkat tuanya tak mampu menahan tubuhnya yang berjalan dengan gontai. Dengan tenang, ia memasuki ruang sidang dan duduk di kursi terdakwa sambil tersenyum memandang ketiga anaknya. Sayang, senyum sang ibu dibalas buangan muka ketiga anaknya.

Hakim mengetukkan palu, tanda persidangan dibuka. Sang hakim bertanya kepada jaksa atas dakwaan apa mendatangkan ibu tua itu. Dengan tegas sang jaksa menjelaskan tuntutan dari ketiga anak kepada ibunya karena sang ibu telah semena-mena tinggal di sebuah kamar di rumah anak-anaknya tanpa membayar apapun. Maka jaksa menuntut bayaran kepada ibu tua ini demi tegaknya keadilan atas pengorbanan ketiga anaknya selama 9 tahun ini.

Sang hakim mengangguk tanda memahami maksud dakwaan tersebut. Dengan lembut sang hakim bertanya,

“Apakah ibu memahami tuntutan ketiga anak ibu?” Sang ibu hanya mengangguk dengan senyum kecut yang ia tahan di persidangan itu.
“Apakah ibu akan menjawab tuntutan ini?”, tanya sang hakim.

Ibu hanya tertunduk lesu, air mata mulai menetes di pipinya. Dengan suara yang lemah sang ibu mulai angkat bicara… “Pak Hakim, saya memang tidak pernah membayar uang sewa kamar di rumah anak-anak saya selama 9 tahun ini. Saya yang lemah ini memang tidak mempunyai uang lagi. Saya menerima tuntutan ini dan akan saya bayar lunas semua dengan kemampuan saya. Namun sebelum saya bayar semuanya, ijinkan saya juga menuntut balik kepada anak-anak saya ini. Tuntutan saya adalah mereka juga harus membayar uang sewa selama mereka tinggal di rahim saya 9 bulan. Mereka telah berada di dalam diri saya selama 9 bulan. Maka tolong bayarlah uang sewa rahim ini selama 9 bulan per anak saya…. kalau mereka mampu…. apakah Pak Hakim mampu membayar uang sewa rahim ibu kandung Pak Hakim?”

Semua yang hadir dalam persidangan terdiam, hening dan pecahlah tangis semua orang di pengadilan. Bahkan ketiga anaknya bersimpuh di kaki ibunya sambil menangis menyesali perbuatannya. Sekaya apapun kita, sanggupkah kita membayar uang sewa rahim ibunda selama 9 bulan?

Wallahu a’lam bi shawab.

Tulisan ini pernah dimuat di Majalah SM Edisi 22 tahun 2018

Tambah Komentar

Klik disini untuk memberikan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *