Sajian Utama

Menghidupkan Ramadhan

Mempersiapkan makanan untuk berbuka puasa
Mempersiapkan makanan untuk berbuka puasa

Sekarang, suasana Ramadhan di keluarga, di masjid, di musholla, di masyarakat, bahkan di pasar-­pasar menjadi lebih hidup. Orang yang berpuasa tidak kesepian seperti orang bertapa. Suasana kebersamaan sangat terasa.

Seharian tidak makan dan minum tidak lagi dijalani dengan penuh penderitaan, tetapi justru dengan kegembiraan. Malam, shalat tarawih dan bertadarus terasa ringan dan tidak mengantuk.

”Sudah Maghrib!” teriak seorang anak setelah ada pemberitahuan di televisi bahwa saat berbuka telah tiba.

”Berbuka!”

”Mana kolakku?”

”Es melonku?”

”Sabar, sabar, berdoa dulu anakanak.” kata seorang ibu dengan suara lembut.

Lantunan adzan, dengan suara empuk keluar dari pesawat televisi memenuh ruang keluarga itu. Setelah berdoa, dengan lahap, anak-anak, ayah dan ibu menikmati hidangan paling lezat dalam hari itu.

Tidak terasa. Sejak puluhan tahun terakhir cara masyarakat menikmati atau menjalani bulan  Ramadhan berubah. Perubahan itu berlangsng sangat pelan, seperti semilir angin yang berembus menggoyang daun-daun.

Kalau dulu, untuk mengetahui datangnya waktu berbuka, Maghrib, diperdengarkan suara sirine, baru adzan lewat radio, dan ada meriam dinyalakan. Yang dimaksud meriam bukan meriam sungguhan, tetapi mercon besar. Meriam seperti ini dinyalakan di Alun-alun yang berada di depan masjid kota-kota di Jawa.

Sekarang, untuk mengetahui datangnya waktu berbuka puasa sangat mudah dan sederhana. Selain masjid, langgar atau musholla menyiarkan adzan Maghrib dengan suara seperti lomba beradu keras, orang-orang menunggu waktu berbuka puasa, duduk bersama anggota keluarga, menonton televisi. Televisi itulah yang memberi tanda bahwa hari itu puasa usai dan orang boleh berbuka.

Kalau zaman dulu, makanan istimewa di bulan puasa adalah kolak, sekarang banyak sekali makanan lezat dijual di Bazar Ramadhan. Kue lokal manis, minuman aneka kolak dan sayur serta lauk aneka macam ikan dan dan daging. Ayam bakar dan ayam goreng pun mudah ditemui di bazaar itu.

Yang senang tentu anak-anak. Setelah sehari lapar dahaga, maghrib itu berubah kekenyangan. Berangkat ke tempat tarawih dengan wajah berseri, di tangannya ada buku tabungan dalam plastik, lengkap dengan uang yang akan ditabung.

Yang lebih penting lagi, panitia Gerakan Ramadhan di masjid dan musholla di komunitas-komunitas Muhammadiyah sudah terbentuk sekian bulan sebelumnya. Mereka sudah merancang apik acara Ramadhan. Para penceramah sudah dihubungi untuk mengisi pengajian menjelang berbuka, pengajian menjelang shalat tarawih dan pengajian bakda Subuh. Ditambah muballigh yang cukup punya nama untuk mengisi peringatan Nuzulul Qur’an.

Ramadhan di Majid Gedhe Kauman Yogyakarta
Ramadhan di Majid Gedhe Kauman Yogyakarta

Angkatan Muda Muhammadiyahnya tidak kalah sibuknya. Selain menyelenggarakan acara tarawih untuk anak-anak dan remaja, lengkap dengan nyanyi-nyanyi bakda tarawih, membuka tabungan anak-anak, mereka juga sibuk menjadi panitia Gema Takbir dan merancang lagu dan gerak indah sewaktu pawai yang akan dipraktikkan oleh adik-adik asuhannya.

H Akhid Widi Rahmanto, Ketua PDM Kota Yogyakarta, ketika ketemu SM dengan wajah berseri terkenang masa kecilnya di Kotagede. Sibuk menjadi penyelenggara tarwehan anak-anak pengajian. Menjadi pemandu acara setelah shalat tarawih, menjadi penjaga kantin untuk sesama jamaah tarawih anak-anak. ”Waktu kecil, bagi anak-anak Muhammadiyah di kampung Muhammadiyah, adalah masa yang paling menyenangkan. Dan kadang untuk memperingati hari besar Islam, saya dan teman-teman main drama atau teater,” katanya.

Ir Budi Setiawan, Penasehat Takmir Masjid Gedhe Yogyakarta, menyaksikan bagaimana Muhammadiyah menggerakkan aktivisnya agar menghidupkan Ramadhan, termasuk di Kauman. Pemuda Muhammadiyah dan Nasyiatul Aisyiyahnya menjadi panitia penyelenggaraan kegiatan ini. Ini menjadi pelatihan tersendiri buat mereka. Setiap anak muda Kauman pasti pernah melewati yang namanya ‘Pagerta’ yaitu Panitia Gerakan Tarawih. Ini luar biasa, setiap dari Pemuda Muhammadiyah atau Nasyiatul Aisyiyah pasti melewati proses ini.

Dengan cara ini mereka ikut latihan kepemimpinan, latihan mengelola kegiatan. Itu menurut dia  sangat luar biasa. Semua ini digerakkan dengan sungguh-sungguh oleh Muhammadiyah. Di samping kegiatan-kegiatan lain seperti tadarus yang juga dilakukan di tempat lain.

”Jadi kalau dulu saya lihat, gerakan tarawih anak-anak ini belum menyentuh banyak tempat. Artinya itu memang sengaja digerakkan oleh Muhammadiyah. Sehingga saya lihat sangat bermanfaat bagi anak-anak maupun PM dan NA nya pun mendapat pelatihan khusus,” kata Budi Setiawan.

Prof Dr M Jandra, peneliti budaya Nusantara pun menjelaskan bahwa dalam salah satu keputusan Rakernas itu LSBO bertekad untuk makin menghidupkan Ramadhan. ”Tentu kegiatan untuk menghidupkan Ramadhan ini disesuaikan dengan suasana puasa dan menjelang Idul Fitri. Misalnya dengan menyelenggarakan Tadarus Sastra, Nuzulul Qur’an, lomba busana Muslimah dan Gema Takbir,” katanya

Muhammadiyah diakui sebagai organisasi modern yang berhasil menghadirkan suasana modern yang rapi dan apik di masyarakat. Kegiatannya beragam dan fungsional. Lengkap dengan perubahan yang terencana.  Dr Muhammad Damami Zen dan Prof Dr Mundzirin sama-sama menjelaskan bahwa gejala Muhammadiyah mengorganisir kegiatan Ramadhan sebagai gejala tahun 1970an.

Jalan sehat jelang Ramadhan (Dok PCM Turi)
Jalan sehat jelang Ramadhan (Dok PCM Turi)

”Ini berkaitan dengan terobosan budaya yang dilakukan Dr Nurcholish Madjid yang menyatakan Islam Yes Partai Islam No. Para pengikut Islam yang bukan pendukung partai Islam menjadi berani menunjukkan keislamannya, termasuk dalam beribadah di bulan Ramadhan,” tutur Muhammad Damami dari Dewan Kebudayaan DIY.

Dengan cermat dan cerdas para aktivis Muhammadiyah melihat adanya kekurangan muballigh pada saat maraknya masyarakat menghidupkan suasana Ramadhan. ”Untuk ini Muhammadiyah punya program muballigh hijrah,” kata Prof Mundzirin Yusuf, Guru Besar Ilmu Budaya Fakultas Adab UIN Sunan Kalijaga,” Itu bagus sekali.”

Tentu jumlah masjid di Indonesia sangat banyak. Mengandalkan muballigh biasa tidak cukup. ”Sekarang Yogyakarta saja punya kampus 4  besar, UMY, UAD, UNISA, PUTM, andaikata kampus ini dikelola dengan baik bukan hanya Fakultas Agama Islam saja, di sana ada IMM diberi training sekian hari nanti akan dikirim ke tempat-tempat tertentu untuk meramaikan atau mensyiarkan Ramadhan,” tambahnya.

Pelajar Muhammadiyah pun dilatih menjadi muballigh hijrah. Seorang wali murid SMA Muhammadiyah 1 Yogyakarta, Bu Suratini pengusaha ayam goreng, menuturkan anakanaknya waktu sekolah disitu ikut CMM (Corps Muballigh Muhi). Mereka berdakwah di bulan Ramadhan  di desa selama seminggu. “Mirip KKN, dan pengalaman ini membuat anak saya ketika kemudian hari menjadi mahasiswa harus KKN di desa, dia tidak kaget lagi,” ungkap dia. (Tof)

Tambah Komentar

Klik disini untuk memberikan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *