Bina Akhlaq

Manfaat Ibadah

Ilustrasi
Ilustrasi

Oleh: Mutohharun Jinan

Manusia itu diciptakan untuk mengabdi kepada Allah, atau dengan kata lain beribadah kepada Allah (Qs Adz-Dzaariyaat [51]: 56). Ibadah adalah mendekatkan diri kepada Allah SwT dengan melaksanakan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya serta mengamalkan apa saja yang diperkenankan oleh-Nya.

Ibadah dibagi menjadi dua macam, yaitu ibadah khusus dan ibadah umum. Ibadah khusus adalah ibadah yang ketentuannya telah ditetapkan oleh nash, seperti shalat, zakat, puasa, haji, dan semacamnya. Ibadah umum, yaitu semua perbuatan baik yang dilakukan dengan niat karena Allah SwT baik berupa perkataan maupun perbuatan, yang tersembunyi (batin) maupun yang nampak (lahir).

Untuk memperoleh manfaat ibadah harus dilandasi dengan niat dan semangat sungguh-sungguh, memahami prinsip-prinsipnya, dan tujuan-tujuannya. Tidak boleh sidkitpun menganggap remeh segala hal yang berhubungan dengan ibadah. Menganggap enteng sesuatu perkara atau suatu urusan ibadah dapat menghambat tercapainya target dan menghilangkan manfaat yang seharusnya diperoleh.

Misalnya, jika meremehkan ilmu tentang tatacara dan ketentuan shalat maka tidak akan dapat melaksanakan ibadah shalat dengan baik. Akibat berikutnya tidak memperoleh manfaat dari ibadah shalat itu.

Sebaliknya manfaat suatu ibadah akan diperoleh tatkala kita memahami tatacara, tujuan, dan hikmah dari ibadah itu. Orang melakukan sesuatu ibadah ditentukan oleh pengetahuannya atas hikmah ibadah itu. Misalnya, ada orang yang dengan cepat bangun pagi untuk melaksanakan shalat fajar dua rakaat, kerena memang ia tahu manfaat dan keutamaannya. Nabi Muhammad saw bersabda, bahwa dua rakaat fajar keutamaannya lebih baik dari dunia dan seisinya. Apabila terlambat bangun dan kehilangan kesempatan shalat fajar tentu akan merasa rugi.

Ibadah harus dijalankan menurut ketentuan yang telah disyariatkan oleh Allah dan Rasul-Nya. Lapis lahiriah ibadah yang berupa tata cara dan waktu pelaksanaan merupakan pintu yang mengantarkan kepada pemaknaan ibadah yang jauh lebih dalam. Dimensi esoterik atau lapis batiniah ibadah apapun jauh lebih mendalam, melampaui batas-batas formal yang bersifat lahiriah. Karena itu, kekayaan penghayatan, pemaknaan, dan manfaat ibadah akan dirasakan sebanyak orang yang menjalaninya.

Syarat dan prinsip utama dalam beribadah adalah ketulusan atau kebersihan niat kita. Allah SwT berfirman:

فَمَنْ كَانَ يَرْجُوْ لِقَاءَ رَبِّهِ فَلْيَعْمَلْ عَمَلاً صَالِحًا وَلاَ يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ أَحَدًا

“Barangsiapa yang mengharapkan pertemuan dengan Tuhannya, maka hendaklah mengerjakan amal shalih dan ia jangan mempersekutukan seorangpun dalam beribadah kepada Tuhannya” (Qs Al-Kahfi [18]: 110).

Arti kata shalih adalah baik karena sesuai. Seseorang dikatakan beramal shalih bila dalam beribadah kepada Allah sesuai dengan cara yang disyari`atkan Allah melalui Nabi-Nya, bukan dengan cara yang dibuat oleh manusia sendiri.

Manfaat utama yang akan diperoleh dari ibadah dari serorang manusia adalah akan mendapat ridha Allah. Bagi seorang Muslim yang taat tidak ada hal yang lebih berharga dalam hidup ini selain mendapat ridha Allah SwT. Kerelaan Allah atas segala amal ibadah yang dilakukan manusia menjadi tujuan sekaligus dan pintu utama dibukanya nikmat, rizki, dan rahmat Allah.

Ibadah harus mengantarkan pada ketakwaan, suatu sikap moral yang menuntun pelakunya tetap dalam garis kesadaran bahwa pengawasan Allah selalu menyertai setiap langkah dan detak jantungnya. Ibadah mengantarkan pelakunya memiliki keluhuran akhlak yang mulia terhadap sesama.

Mutohharun Jinan, dosen Fakultas Agama Islam Universitas Muhammadiyah Surakarta

Tulisan ini pernah dimuat di Majalah SM Edisi 21 Tahun 2017

Menandai

Tambah Komentar

Klik disini untuk memberikan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *