Berita

Gerakan Dakwah dan Tantangan Muhammadiyah

Foto: TV UAD
Foto: TV UAD

YOGYAKARTA, Suara Muhammadiyah-Ketua Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah Prof Syamsul Anwar menjadi pembicara dalam Pengajian Ramadhan Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Daerah Istimewa Yogyakarta, pada 17 Mei 2019. Pengajian yang berlangsung di Kampus UAD ini mengusung tema tentang dakwah risalah pencerahan Muhammadiyah di era digital.

Dalam paparannya, Syamsul mengingatkan bahwa salah satu karakter Muhammadiyah adalah sebagai gerakan dakwah. Anggaran Dasar Muhammadiyah pasal 4 ayat (1), menyatakan: Muhammadiyah adalah Gerakan Islam, Da’wah Amar Makruf Nahi Munkar dan Tajdid, bersumber pada Al-Qur`an dan As-Sunnah.

Identitas Muhammadiyah yang melekat adalah sebagai gerakan Islam, dakwah, dan tajdid. Menurutnya, dakwah Muhammadiyah dimaknai secara luas, sebagai upaya melakukan perbaikan kehidupan masyarakat menjadi lebih baik. Melaksanakan pendidikan, kesehatan, advokasi hukum dan HAM, pemberdayaan masyarakat adalah dakwah.

“Dakwah termasuk di dalamnya melakukan pengkajian ajaran Islam yang menjadi pedoman dalam beragama. Di dalam Muhammadiyah, tugas ini dilakukan oleh Majelis Tarjih dan Tajdid. Dakwah juga berarti melakukan penerangan masalah agama. Peran ini dilakukan oleh Majelis Tabligh,” ujar guru besar Ilmu Syariah UIN Sunan Kalijaga tersebut.

Syamsul menyebut ada beberapa tantangan dakwah yang dihadapi Muhammadiyah. Pertama, tantangan ekonomi. “Pendorong berkembangnya dakwah ke Indonesia dan ke seluruh dunia adalah kegiatan ekonomi. Kekuatan ekonomi menjadi sarana penting bagi dakwah,” tuturnya. Oleh karena itu, perlu diperkuat ekonomi persyarikatan dan ekonomi individu warga persyarikatan. Terpenuhinya kebutuhan ekonomi mendorong orang untuk tertarik pada Islam.

Kedua, tantangan dakwah Muhammadiyah di ruang sosial. “Dalam beberapa hal, Muhammadiyah kehilangan ruang sosial,” katanya. Gerakan lain memiliki ruang sosial semisal tradisi kenduren yang mengikat kohesi sosial dan dimanfaatkan oleh para kiai untuk melakukan dakwah kepada preman kampung sekalipun.

Menghadapi realitas dan kebiasaan masyarakat, Syamsul mengingatkan supaya kita perlu bijaksana dalam bermasyarakat. Jika berada di lingkungan tertentu, perlu menyesuaikan diri dalam kegiatan-kegiatan keagamaan di luar ruang lingkup ibadah mahdhah. Selain itu, kita perlu memanfaatkan ruang sosial.

Ketiga, tantangan digitalisasi Islam. Orang-orang Arab sudah melakukan digitalisasi kitab-kitab turas. Muncul platform semisal Maktabah Syamilah, yang berisi ribuan bahkan jutaan judul kitab. (ribas)

Tambah Komentar

Klik disini untuk memberikan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *