smamda
Jejak Persyarikatan

Ibu-Ibu ‘Aisyiyah dan Hari Raya Idul Fitri di Tahun 1950-an

Ibu-Ibu Aisyiyah tahun 50-an (Dok Pusdalit/SM)
Ibu-Ibu Aisyiyah tahun 50-an (Dok Pusdalit/SM)

Oleh : Muhammad Yuanda Zara

Hari Raya Idul Fitri atau Lebaran adalah salah satu hari besar yang ditunggu-tunggu umat Islam. Umat Islam di berbagai belahan buana, dari Amerika hingga Eropa, dari Arab hingga Asia Tenggara, apapun latar belakang budaya, kecenderungan politik maupun tafsiran keagamannya, bersama-sama merayakan Idul Fitri. Perbedaan tanggal Idul Fitri tidak mengurangi kegembiraan umat menyambut hari penting itu.

Di kalangan persyarikatan Muhammadiyah maupun ortomnya, tradisi merayakan Idul Fitri sudah eksis sejak puluhan tahun silam. Bila sejumlah tradisi Lebaran di kalangan Muhammadiyah sudah cukup kita ketahui, tampaknya kita belum banyak kenal dengan bagaimana kaum hawa di organisasi ‘Aisyiyah merayakan Idul Fitri. Buku-buku tentang sejarah ‘Aisyiyah pun lebih banyak membahas kiprah organisasi ini di bidang pendidikan, kesehatan, ekonomi maupun kerumahtanggaan.

Salah satu temuan menarik yang saya dapatkan dari membaca sejumlah sumber primer tentang ‘Aisyiyah yang terbit puluhan tahun silam adalah narasi tentang pandangan ‘Aisyiyah dalam hal merayakan Idul Fitri.

Tahun 1950an, Indonesia berada di persimpangan jalan. Di satu sisi, sisasisa kolonialisme dan ketertinggalan masih terasa. Infrastruktur banyak yang

rusak lantaran perang. Ekonomi berjalan dengan lambat. Pendidikan masih jauh dari maju dan merata. Namun, di sisi lain, ada euforia dan perasaan bebas di tengah publik. Indonesia baru beberapa tahun merdeka dari Belanda. Suasana pascakemerdekaan sangat terasa di seantero Indonesia. Pemerintah dan masyarakat giat membangun negara baru ini.

Di tengah situasi semacam itu, perayaan Idul Fitri bagi kalangan ‘Aisyiyah tidak hanya bermakna personal dan spiritual semata, namun juga bernilai sosial. Ini tampak dari tulisan Ny. Zainab Damirie, “Mendjelang bulan Sjawal,” yang terbit di majalah Suara ‘Aisjijah edisi Juni 1952. Pada tahun 1952 itu, Idul Fitri jatuh pada tanggal 24 Juni.

Ny Zainab memulai tulisannya dengan salam yang khas, dengan menggabungkan salam secara Islam dan secara kebangsaan (“Assalamu’alaikum w.w. Merdeka!”). Ini memperlihatkan kuatnya perasaan keagamaan dan keindonesiaan di masa itu. Ia pertama-tama berharap agar kaum Muslimin berhasil menjalankan ibadah yang dituntunkan Nabi Muhammad saw selama Ramadhan sehingga mereka pada akhirnya mendapat kemenangan lahir dan batin.

Ny. Zainab lalu menekankan bahwa yang penting bukan hanya mengevaluasi ibadah apa saja yang telah dilakukan selama Ramadhan, tapi juga apa yang mesti dilaksanakan setelah Ramadhan. Orang memang semakin banyak yang membaca Al-Qur’an di bulan Ramadhan. Tapi yang paling krusial adalah mengamalkannya. Ny. Zainab menggarisbawahi arti penting memahami arti dan tujuan diturunkannya Al-Qur’an, yakni sebagai petunjuk untuk menuju kehidupan yang bahagia.

Maka, ia menerangkan, para pemimpin dan muballighat diharapkan agar mampu menjadi teladan di tengah masyarakat. Caranya adalah dengan melaksanakan tuntunan yang terkandung dalam Al-Qur’an dalam kehidupan sehari-hari. Dengan kesesuaian antara ajaran dan pengamalan inilah pengakuan publik akan datang pada signifikansi Al-Qur’an sebagai pedoman umat manusia. Ny Zainab mencontohkan pengamalan Islam oleh Nabi Muhammad saw dan para sahabatnya, yang diakui dunia di masanya lantaran berhasil mengubah masyarakat penyembah berhala menjadi “umat jg utama dan mengabdi menjembah kepada Alloh jg Maha Esa. Dari bangsa jg djauh dari peradaban dan pengetahuan, mendjadi umat jg mempunjai peradaban dan kebudajaan jg tinggi dan mendjadi sumber ilmu pengetahuan.” Untuk era 1950-an, seruan ini relevan dengan suasana zaman masa itu yang mendorong agar masyarakat Indonesia bekerja keras untuk memajukan dirinya, khususnya via ilmu pengetahuan.

Di samping menekankan pada fungsi sosial Lebaran, ‘Aisyiyah juga memberi aksentuasi pada kewajaran dan kepantasan dalam merayakan Idul Fitri. Sebagai hari besar yang membawa nilai kemenangan, Idul Fitri adalah momentum bagi kaum Muslim untuk menunjukkan kebahagiaannya. Ini sering terlihat secara fisik, baik dari pakaian, makanan, maupun pengeluaran, yang jauh lebih meriah dan melimpah daripada hari biasanya. Namun, ‘Aisyiyah menyuarakan bahwa kemenangan tidak sama artinya dengan pemborosan, apalagi di zaman 1950-an itu perekonomian nasional masih sulit.

Gagasan tersebut diutarakan oleh Ny. W.S. Pramono dari Semarang, dalam tulisannya, “Suka-duka di Hari Lebaran,” di Suara ‘Aisjijah edisi Juni 1953/Syawal 1372. Di sana ia menerangkan bahwa secara agama, umat Islam diharapkan agar berhias

dengan sepantasnya di Hari Idul Fitri. Dan memang, sudah menjadi kebiasaan di tengah masyarakat Muslim Indonesia untuk merayakan Idul Fitri dengan penuh kegembiraan. Orangorang memakai pakaian yang baru dan indah. Di rumah, mereka menyiapkan banyak makanan, mulai dari lontong atau ketupat hingga kue-kue manis.

Namun  Ny. W.S. Pramono mengkritik sikap berlebihan sebagian anggota masyarakat dalam menyambut Lebaran. Salah satunya adalah nyekar/nyadran atau berziarah ke makam leluhur, antara lain guna “mohon pengestu.” Ia menggarisbawahi bahwa dalam Islam orang mesti meminta langsung kepada Allah dan tanpa perlu perantara.

Ny W.S. Pramono juga mengingatkan kaum Muslim terhadap berbahayanya sikap pamer dalam merayakan Lebaran. Ini, katanya, didasarkan pada keinginan untuk menjalankan berbagai kebiasaan lama agar lahir kebanggaan telah mengikuti tradisi berlebaran dengan sepenuhnya. Yang menjadi problem adalah pada sebagian orang hal itu akan mendorongnya untuk berhutang atau menggadaikan barang tanpa memikirkan apakah mereka sanggup membayarnya kelak. Akibatnya, tulis Ny. W.S. Pramono, “achirnja habis lebaran mereka tidak dapat merasakan hasil dari lebarannja, malah sebaliknja banjak tanggungannja, bahkan banjak pula suasana menjedihkan jang dihadapinja.”

Yang paling buruk adalah sikap konsumerisme menjelang Lebaran yang kemudian merusak rumah tangga. Para ibu dan istri adalah kunci tegaknya rumah tangga karena merekalah yang mengelola keperluan anggota keluarga lainnya. Namun tidak jarang para ibu dan istri bersikap berlebihan di Hari Raya Idul Fitri. Ny. W.S. Pramono menyebut satu contoh: di Mesir kala itu Idul Fitri dikenal pula sebagai “musim bertjerai”. Perceraian mewabah menjelang Idul Fitri. Penyebabnya, banyak suami yang gagal memenuhi keinginan istrinya akan pakaian baru maupun uang belanja ekstra. Para istripun meminta cerai pada suami mereka. Ny. W.S. Pramono berharap agar hal ini jangan sampai berlaku pula di tengah masyarakat Muslim Indonesia.

Akhirnya, Ny. W.S. Pramono menerangkan bagaimana sebaiknya kaum Muslimin merayakan Hari Lebaran. “Maka oleh kita,” tulisnya, “kiranja sangat tepat bilamana berhari raya/ berlebaran nanti, menggunakan tjara jg sederhana dengan arti muru’ah (perwira=bhs. Djawa) atas dasar perimbangan kekuatan masing2, mengerti dan saling menghargai satu dengan jang lain atas dasar peri kemanusiaannja.” Ia berharap agar masyarakat menghindari sikap yang melampaui batas dalam berlebaran. Hanya dengan demikianlah orang bisa berlebaran dengan perasaan lega, tanpa perasaan tertekan, namun tetap dipenuhi kemeriahan dan kebahagiaan.

__

Muhammad Yuanda Zara. Sejarawan.

Tulisan ini pernah dimuat di Majalah SM Edisi 11 Tahun 2018

Tambah Komentar

Klik disini untuk memberikan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *