Jejak Islam

Sejarah Panjang Pengakuan Idul Fitri di Amerika Serikat

Shalat Idul Fitri Gedung Putih Amerika (Dok conservativepapers)
Shalat Idul Fitri Gedung Putih Amerika (Dok conservativepapers)

Oleh: Azhar Rasyid

Bagi Muslim di negara-negara berpenduduk mayoritas Muslim, Idul Fitri diperingati dengan sangat meriah. Hampir semua level masyarakat bahkan pemerintah sendiri ambil bagian dalam perayaan Idul Fitri. Sekolah diliburkan, para pekerja diberikan waktu cuti, sementara fasilitas-fasilitas publik dipenuhi oleh ornamen hari raya. Pendeknya, suasana hari raya benarbenar terasa di seantero negeri.

Namun tentu tidak demikian situasinya di negaranegara di mana kaum Muslim adalah kelompok minoritas. Merayakan Idul Fitri tidaklah mudah. Idul Fitri tidak diakui sebagai hari libur sehingga murid sekolah, mahasiswa di universitas, maupun para pekerja Muslim mengalami kendala untuk sepenuhnya merayakan Idul Fitri. Belum lagi Islamophobia yang eksis di sejumlah tempat, yang membuat sebagian warga setempat khawatir dengan keramaian yang berasosiasi dengan Muslim.

Tapi itu tidak berarti bahwa kaum Muslim tidak mengambil tindakan apapun untuk mengubah situasi. Dan, contoh yang terjadi di Amerika Serikat (AS) merupakan hal yang menarik untuk diulas. Pengenalan terhadap harihari besar Islam kepada orang kulit putih Amerika sudah dilakukan sejak awal abad ke-19. Proses tersebut berlangsung selama dua abad kemudian. Puncaknya, pada tahun 2000 Presiden Bill Clinton memberi pengakuan terhadap Hari Raya Idul Fitri dengan menjadi tuan rumah acara perayaan Idul Fitri tahun itu, yang dihadiri oleh kaum Muslim Amerika.

Bagaimana dinamika upaya kaum Muslim di AS, sebagai kelompok minoritas, untuk merayakan Idul Fitri serta, yang tak kalah pentingnya, mendorong pengakuan publik dan pemerintah setempat terhadap Idul Fitri?

Ramadhan di Gedung Putih

Catatan pertama yang tersedia tentang perkenalan kaum kulit putih Amerika Serikat dengan Idul Fitri bermula dengan perkenalan mereka dengan Ramadhan. Ini merujuk ke tahun 1805. Bapak pendiri AS yang kala itu juga merupakan Presiden AS, Thomas Jefferson (memerintah tahun 1801-1809), bertemu dengan Duta Besar Tunisia untuk AS, Sidi Soleman Mellimelli. Mellimelli baru seminggu berada di Amerika. Sang duta besar sedang menjalankan puasa Ramadhan. Jefferson tertarik dengan aktivitas ibadah Mellimelli dan mengundangnya beserta dua sekre tarisnya untuk berbuka puasa di Istana Kepresidenan Amerika Serikat, White House (Gedung Putih).

Peristiwa tersebut terjadi pada 9 Desember 1805. Menurut catatan di buku harian diplomat Amerika yang juga hadir kala itu, John Quincy Adams, di dalam undangan tertera “dinner was to have been on the table precisely at sunset” (makan malam akan dilakukan tepat saat matahari tenggelam). Penyesuaian waktu makan malam dengan iftar ini merupakan upaya sang presiden untuk mengapresiasi puasa Ramadhan yang dijalankan Mellimelli.

Idul Fitri, Masyarakat dan Pemerintah Amerika

Dari iftar di Gedung Putih itulah publik Amerika mengenal berbagai ibadah kaum Muslim, termasuk Idul Fitri. Di dalam Encyclopedia of Muslim-American History (2010) yang dieditori oleh Edward E. Curtis disebutkan bahwa ada kemungkinan bahwa para budak Afrika-Amerika juga merayakan Idul Fitri, walaupun tidak tersedia banyak catatan tentang ini.

Di era-era setelahnya, giliran imigran asal Arab yang menjalankan Ramadhan dan merayakan Idul Fitri di AS. Mereka harus menyesuaikan dengan iklim Amerika yang berbeda dengan tanah kelahirannya. Salah satunya kalangan imigran Arab pada tahun-tahun pertama abad ke-20 di North Dakota yang berpuasa di tengah musim dingin yang berat. Meski demikian, saat Ramadhan tiba, mereka merayakannya dengan meriah sembari berkunjung dari satu keluarga ke keluarga lainnya. Kegembiraan yang terpancar dari perayaan ini sangat membekas di benak warga kulit putih setempat dan merupakan bagian dari aspek yang mereka kenang dari kehadiran para imigran Arab-Muslim di sana.

Kaum Muslim dari luar AS memang menjadi sosok yang secara konstan memperkenalkan tradisi Idul Fitri di Amerika. Setelah duta besar Tunisia di awal abad ke-19, orang Afrika di era perbudakan, dan imigran Arab di awal abad ke-20, maka menjelang pertengahan abad ke-20 pendatang asal Bengali-lah yang merayakan Idul Fitri secara terbuka di tengah masyarakat Amerika.

Orang Bengali berasal dari Bengal, kawasan di perbatasan India dan Bangladesh. Salah seorang imigran Muslim Bengali yang berkedudukan penting di Amerika di tahun 1940an adalah Ibrahim Choudry. Kala itu ia merupakan manajer di New York’s British Merchant Sailors Club for Indian Seamen. Sebagai Muslim, ia menyelenggarakan perayaan Idul Fitri pada tahun 1940an di sebuah tempat ibadah kecil di Harlem, salah satu kawasan pemukiman besar di New York.

Kehadiran Muslim, baik di tanah Amerika sendiri, maupun di bagian lain dunia, tidak bisa diabaikan oleh pemerintah Amerika Serikat. Ini tampak jelas pada era 1990an. Di luar negeri, Amerika mendekati negara-negara Muslim guna mendapat dukungan dalam Perang Teluk (1990-1991). Pada tahun 1994, Presiden Bill Clinton mengunjungi Masjid Istiqlal di Jakarta, menunjukkan gestur bersahabat dengan kaum Muslim.

Di dalam negeri, organisasi-organisasi Muslim di AS melakukan berbagai pendekatan agar eksistensi kaum Muslim diakui dan diapresiasi. Hasilnya, pada Idul Fitri tahun 1996 Ibu Negara Hillary Clinton mengundang sejumlah Muslim untuk merayakan Idul Fitri di Gedung Putih. Hillary mengenal tradisi Ramadhan dari anaknya, Chelsea, yang belajar tentang sejarah Islam di sekolahnya. Fawaz A. Gerges, dalam America and Political Islam: Clash of Cultures or Clash of Interest? (1999) menyebut bahwa tindakan ini merupakan langkah administrasi Clinton untuk menjangkau komunitas Muslim AS. Pada tahun 2000, Presiden Bill Clinton bahkan menjadi tuan rumah perayaan Idul Fitri tahun itu.

Di New York usaha bertahun-tahun komunitas Muslim meminta agar Idul Fitri dan Idul Adha dijadikan sebagai hari libur akhirnya berhasil. Sampai-sampai ada yang menyebut bahwa pengakuan ini merupakan titik balik penting bahkan kemenangan bagi kaum Muslim di Amerika.

Makan malam sebagai penanda iftar di akhir Ramadhan belakangan menjadi kebiasaan di masa pemerintahan selanjutnya, termasuk di bawah George W. Bush dan Barack Obama. Tradisi ini putus di masa kepresidenan Donald Trump. Sejak tahun 2017 ia tidak lagi menyelenggarakan apa yang dikenal sebagai “ifter dinner for the end of Ramadan” (makan malam menandai akhir Ramadhan) ini, meski pemerintahannya tetap mengucapkan “Eid Mubarak” (Selamat Hari Raya Idul Fitri) pada kaum Muslim.

Perbedaan Hari Idul Fitri

Perbedaan menentukan Idul Fitri tak hanya terjadi di Indonesia, tapi juga di Amerika Serikat. Akar persoalannya juga sama, yakni metode yang dipakai untuk melihat bulan. Salah satu contohnya adalah di tahun 1993. Saat itu, di Los Angeles ada dua komunitas masjid yang berbeda dalam menentukan Idul Fitri, The Islamic Center of Southern California dan Garden Grove Mosque. Selisihnya satu hari.

Namun senantiasa ada usaha untuk menganggap bahwa ini bukanlah perbedaan besar di antara umat Islam. Hal ini disebabkan adanya pemahaman bahwa kaum Muslim di AS tidaklah tunggal. Mereka berasal dari berbagai benua, berbagai negara, berbagai etnis, dan dengan tradisi serta intrepretasi keagamaan masingmasing. Banyak Muslim yang memandang bahwa tidak elok untuk menonjolkan perbedaan-perbedaan ini. Maka, gagasan tentang persatuan di antara kaum Muslim di AS secara terus-menerus digaungkan kendati di antara mereka ada keragaman pandangan dan tradisi.

__

Azhar Rasyid. Penilik sejarah Islam.

Tulisan ini pernah dimuat di Majalah SM Edisi 11 tahun 2018

Tambah Komentar

Klik disini untuk memberikan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *