33 C
Yogyakarta
Sabtu, September 19, 2020

Haedar Nashir: Spirit Pencerahan Harus Diaktualisasikan

By Suara Muhammadiyah

- Advertisement -
- Advertisement -

Berita Terbaru

MDMC Respon Banjir Kalteng di Tengah Pandemi

PALANGKARAYA, Suara Muhammadiyah -  Intensitas curah hujan yang cukup tinggi di Kalimamtan Tengah minggu ini dan luapan sungai sungai berdampak banjir   di...

Kolaborasi HW Masa Pandemi Latgab Virtual

LAMONGAN, Suara Muhammadiyah - Pandu Madrasah Aliyah Muhammadiyah 8 Takerharjo Solokuro sungguh mapan. Jumat, 18 September 2020 di Laboratorium komputer MAM 8...

Deklarasi Millenial Peserta Masta IMM UMP Bersama Berbagai Tokoh

PURWOKERTO, Suara Muhammadiyah - Ribuan mahasiswa Masa Ta’aruf (Masta) Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) Universitas Muhammadiyah Purwokerto (UMP) Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah melakukan...

Ihyaul Ulum Dikukuhkan Sebagai Guru Besar Baru UMM

MALANG, Suara Muhammadiyah - Kita sekarang hidup pada era dimana perusahaan taksi terbesar di dunia, tidak memiliki satupun armada taksi (uber, grab,...

Beberapa Daerah di Kalteng Banjir, Muhammadiyah Gerak Cepat Bantu Warga

KATINGAN, Suara Muhammadiyah -  Beberapa Kabupaten di Kalimantan Tengah dilanda banjir, antara lain kabupaten Katingan, Kotawaringin Timur, Seruyan dan Lamandau. Intensitas hujan...
- Advertisement -

SLEMAN, Suara Muhammadiyah – Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Haedar Nashir menjadi pembicara kunci pada Silaturrahmi Keluarga Besar Unisa Yogyakarta, Senin (17/06). Dalam kesempatan ini, Haedar menyampaikan pentingnya aktualisasi spirit pencerahan oleh warga Muhammadiyah sebagai wujud perannya dalam berorganisasi.

Peran tersebut, Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah mengatakan, bisa dioptimalkan dengan, pertama, mengamalkan spirit ikhlas dalam berbagai aktivitas. Yaitu melakukan sesuatu karena diniatkan untuk beribadah dan mengharap keridhaan Allah semata. “Karena orientasinya Allah semata, maka menjalankan aktivitas bisa dengan nyaman dan lepas. Itu berarti sudah tercerahkan,” terangnya.

Kedua, lanjutnya, spirit pencerahan untuk membangun karakter yang berkualitas taqwa. Yaitu dengan selalu belajar menjadi uswah hasanah. “Apa itu uswah hasanah?Selaras kata dan perbuatan,” sebut Haedar.

Menurut Haedar, persoalan menjadi uswah hasanah itu menjadi penting, sebab umat Islam agak kedodoran dalam hal ini. “Terlebih di Indonesia, muslim menjadi mayoritas tapi kualitasnya justru rendah, justru melakukan korupsi,” sesal Haedar.

Paling mencolok sebutnya, adalah akhlak dalam bermedia sosial. Apalagi sekarang media sosial menjadi ajang paling bebas untuk berekspresi. Parahnya lagi, adalah ketika media sosial berbaur dengan politik, makin garang dan jauh dari moral. “Mari kita melakukan pencerahan dalam bermedsos, sebagai bagian dari uswah hasanah,” ajak Ketum PP Muhammadiyah ini.

Ketiga, memiliki kultur keilmuan. Kata Nur, Haedar menjelaskan,  juga bisa dimaknai aqlu an-niyar, akal yang tercerahkan. Dalam bahasa al-Qur’an disebut dengan ulul albab. Yitu, berkata dan berbuat berdasarkan ilmu, sebab semangat iqra sudah menjadi budaya. “Di antara ciri orang berilmu ialah kritis dan objektif, dan sepertinya Indonesia masih jauh dari itu,” ucapnya.

Keempat, membangun kebersamaan yang dinamis, dan kelima, pungkasnya, “Berkontribusi untuk kesejahteraan umat dan bangsa.” (gsh)

- Advertisement -

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -
- Advertisement -
- Advertisement -

More articles