smamda
Motivasi

Sentuhan Raja Midas

Foto : Nicepik
Foto : Nicepik

Oleh: Bagus Kastolani

Alkisah, pada jaman Yunani Kuno ada seorang raja bernama Midas. Ia mendapatkan hadiah kehebatan dari seorang keturunan dewa, yaitu apa saja yang disentuh Raja Midas akan menjadi emas. Berbekal kemampuan ini, Raja Midas menyentuh semua barang yang ada di istananya hingga menjadi emas. Ya… betul-betul menjadi emas. Namun tanpa ia sadari, ketika ia lapar dan hendak makan, ia menyentuh makanannya dan jadilah emas!

Saat ini, mitos dari negeri Yunani ini berimej positif karena menggambarkan tekad seseorang yang meyakini semua potensinya sehingga apa yang ia inginkan dapat tercapai. Seringkali, di saat kita merasa terpuruk dengan berbagai kegagalan dan cobaan tanpa kita sadari, kita telah menyalahkan diri sendiri. Kalimat pesimis dan menyalahkan diri sering kita lontarkan kepada diri kita juga. Manakala gagal meraih yang kita inginkan, kita mendakwa diri sendiri adalah mahluk yang terbodoh. Padahal, dengan menyalahkan diri maka motivasi kita secara otomatis menurun (demotivasi). Ketika diri kita telah demotivasi, maka resiliensi atau semangat untuk bangkit lagi dari keterpurukan telah melemah.

Pada saat kita terpuruk maka bangkitkanlah lagi cerita sentuhan Raja Midas ini dalam diri. Ungkapkan pada diri, “Aku pasti bisa melewati ini dan kesuksesan telah menungguku… pasti.. pasti.. dan pasti bisa!” Dengan optimisme dalam diri maka kita akan mudah bangkit lagi. Terlebih menurut expectation theory (teori pengharapan), semakin kita berharap kesuksesan maka semakin besar peluang kesuksesan itu menghampiri kita, karena motivasi yang tinggi untuk sukses mendorong perilaku seseorang untuk mencapai kesuksesan tersebut. Terus terang, saya sering melakukan sentuhan Raja Midas ini untuk mendorong optimisme saya. Ketika saya ingin membeli rumah atau mobil maka saya akan sentuh barang tersebut dengan menanamkan keyakinan bahwa saya pasti bisa membelinya. Walhamdulillah, barang yang saya inginkan dapat terbeli.

Alangkah lebih baik jika lingkungan sosial turut mendukung munculnya optimisme kesuksesan tersebut. Misalnya, anak kita yang sedang terpuruk dengan prestasi akademisnya, kita bangkitkan lagi optimisme kesuksesannya dengan harapan-harapan yang positif. Semakin kita memberi harapan-harapan optimis kepada orang lain maka kinerjanya dapat melebihi kapasitas dirinya. Hal inilah yang menyebabkan harapan positif dari lingkungan sosial tadi tertanam di dalam dirinya dan membuktikan harapan positif tersebut menjadi kenyataan. Proses menanamkan optimisme kepada orang lain sehingga ia berusaha mewujudkan inilah yang disebut sebagai self fulfilling prophecy sebagai salah satu dasar tercapainya harapan, di samping berdoa kepada Allah SwT.

Huwallahu a’lam bish shawab.

Bagus Kastolani, Staf pengajar Fakultas Psikologi UNAIR Surabaya. Kader Muhammadiyah

Tulisan ini pernah dimuat di Majalah SM Edisi 8 tahun 2017

Tambah Komentar

Klik disini untuk memberikan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *