Kisah

Nabi Musa AS, Kisah Khidhir

Khidhir

Oleh Yunahar Ilyas

Dalam sebuah hadits riwayat Bukhari, dari Ibn ‘Abbas RA (radhiyallahu ‘anhu) dia berkata, telah menceritakan kepada kami Ubayya ibn Ka’ab RA, bahwasanya dia mendengar Rasulullah SAW bersabda: “Sesungguhnya Musa pada suatu kali berkhutbah di hadapan Bani Israil, lalu beliau ditanya: “Siapakah orang yang paling tinggi ilmunya?” Musa menjawab: “Saya.”

Allah mengecam Musa karena dia tidak mengembalikan pengetahuan tentang hal itu kepada Allah SWT. Kemudian Allah memberitahu Musa bahwa Dia memiliki seorang hamba yang berada di pertemuan dua lautan. “Dia lebih tinggi ilmunya daripada engkau.” Musa bertanya: “ Ya Rabb, bagaimana caranya aku bisa bertemu dengan hamba itu?” Allah berfirman: “Ambillah seekor ikan, tempatkan ia di wadah yang terbuat dari daun kurma, lalu di tempat mana engkau kehilangan ikan itu, maka di sanalah engkau akan bertemu dengannya”.

Musa memilih salah seorang muridnya untuk mendampinginya mencari hamba Allah yang saleh dan berilmu tinggi itu. Menurut Ibn Katsir dalam Kitab Tafsir Al-Qur’an al-‘Azhim (IX: 161) murid yang dipilih Musa itu adalah Yusya’ ibn Nun.

Al-Qur’an menyebutnya dengan istilah fata yang secara harfiah berarti pemuda atau anak muda. Pemuda Yusya’ ibn Nun telah dididik oleh Musa sejak kecil. Dalam perjalanan  mencari hamba Allah yang berilmu tinggi tersebut,  pemuda tadi berfungsi sebagai asisten yang mendampingi Musa dalam perjalanan, membawa perbekalan dan melakukan hal-hal yang lain yang diperlukan.

Musa bertekad akan menyusuri pantai, berapapun jauh dan lamanya untuk dapat bertemu dengan hamba Allah yang disebutkan Allah tersebut. Allah SWT berfirman:

وَإِذۡ قَالَ مُوسَىٰ لِفَتَىٰهُ لَآ أَبۡرَحُ حَتَّىٰٓ أَبۡلُغَ مَجۡمَعَ ٱلۡبَحۡرَيۡنِ أَوۡ أَمۡضِيَ حُقُبٗا ٦٠

“Dan (ingatlah) ketika Musa berkata kepada muridnya: “Aku tidak akan berhenti (berjalan) sebelum sampai ke Pertemuan dua buah lautan; atau aku akan berjalan sampai bertahun-tahun”. (Q.S. Al-Kahfi 18:60)

Tempat yang dituju oleh Musa adalah pertemuan dua lautan (majma’ al-bahrain). Di manakah pertemuan dua lautan itu? Dalam hal ini para mufasir berbeda pendapat. Sebagian  mengatakan pertemuan laut merah dan laut putih. Yang lain mengatakan pertemuan Teluk Aqabah dan Teluk Suez di Laut Merah.

Kalau kita lihat pada masa itu Musa dan Bani Israil berada di Padang Sinai, maka tempat pertemuan dua lautan yang paling dapat diterima adalah pertemuan Teluk Aqabah dan Teluk Suez di Laut Merah. Musa dan Yusya’ bisa saja menyisir pantai teluk Aqabah dan bisa juga menyisir pantai Teluk Suez. Padang Sinai tempat Bani Israil berputar-putar selama 40 tahun itu berada antara dua teluk tersebut.

Sebelum berangkat Musa memerintahkan kepada Yusya’ untuk menyiapkan perbekalan makan  mereka, dan juga membawa seekor ikan yang sudah dimasak atau dipanggang, ikan itu diletakkan dalam jinjingan. Dalam perjalanan, tanpa mereka sadari, ikan itu melompat ke laut. Sebenarnya mereka sudah sampai di pertemuan dua lautan yang mereka cari itu. Musa dan Yusya’ belum menyadari hal itu. Alah SWT berfirman:

فَلَمَّا بَلَغَا مَجۡمَعَ بَيۡنِهِمَا نَسِيَا حُوتَهُمَا فَٱتَّخَذَ سَبِيلَهُۥ فِي ٱلۡبَحۡرِ سَرَبٗا ٦١

“Maka tatkala mereka sampai ke Pertemuan dua buah laut itu, mereka lalai akan ikannya, lalu ikan itu melompat mengambil jalannya ke laut itu.“ (Q.S. Al-Kahfi 18:61)

Mereka terus saja berjalan menyusuri pinggir laut. sampai kemudian mereka  merasa lelah dan lapar. Lalu Musa memerintahkan kepada asistennya Yusya’ agar mengeluarkan makan siang yang sudah disiapkan. Allah SWT berfirman:

فَلَمَّا جَاوَزَا قَالَ لِفَتَىٰهُ ءَاتِنَا غَدَآءَنَا لَقَدۡ لَقِينَا مِن سَفَرِنَا هَٰذَا نَصَبٗا ٦٢  

“Maka tatkala mereka berjalan lebih jauh, berkatalah Musa kepada muridnya: “Bawalah kemari makanan kita; Sesungguhnya kita telah merasa letih karena perjalanan kita ini”. (Q.S. Al-Kahfi 18:62)

Pada saat itulah Yusya’ baru ingat belum memberitahu Musa bahwa ikan yang dibawa sudah tidak ada lagi dalam jinjingan. Yusya’ memberitahukan bahwa pada saat mereka tadi istirahat di sebuah batu di pinggir laut, ikan itu secara ajaib keluar dari jiinjingan dan melompat ke laut. Dikatakan ajaib karena ikan itu sudah dimasak atau dipanggang, tapi bisa hidup kembali dan melompat ke laut. “Tidak ada yang membuat saya lupa kecuali syaitan”,   kata Yusya’ menyesali kelalaiannya. Allah SWT berfirman:

قَالَ أَرَءَيۡتَ إِذۡ أَوَيۡنَآ إِلَى ٱلصَّخۡرَةِ فَإِنِّي نَسِيتُ ٱلۡحُوتَ وَمَآ أَنسَىٰنِيهُ إِلَّا ٱلشَّيۡطَٰنُ أَنۡ أَذۡكُرَهُۥۚ وَٱتَّخَذَ سَبِيلَهُۥ فِي ٱلۡبَحۡرِ عَجَبٗا ٦٣  

“Muridnya menjawab: “Tahukah kamu tatkala kita mecari tempat berlindung di batu tadi, maka sesungguhnya aku lupa (menceritakan tentang) ikan itu dan tidak adalah yang melupakan aku untuk menceritakannya kecuali syaitan dan ikan itu mengambil jalannya ke laut dengan cara yang aneh sekali”. (Q.S. Al-Kahfi 18:63)

Mendengar pengakuan muridnya itu, Musa bukannya marah, tapi malah senang. “Itulah (tempat) yang kita cari”, kata Musa. Lalu keduanya kembali ke tempat ikan itu melompa kelaut dengan menyusuri jejak-jejak kaki mereka sendiri di pasir pantai.  Allah SWTberfirman:

قَالَ ذَٰلِكَ مَا كُنَّا نَبۡغِۚ فَٱرۡتَدَّا عَلَىٰٓ ءَاثَارِهِمَا قَصَصٗا ٦٤

“Musa berkata: “Itulah (tempat) yang kita cari”. Lalu keduanya kembali, mengikuti jejak mereka semula.” (Q.S. Al-Kahfi 18:64)

Setelah sampai di tempat yang  dituju, mereka menemukan di situ seorang hamba Allah yang telah mendapatkan rahmat dan ilmu langsung dari sisi-Nya. Allah SWT berfirman:

فَوَجَدَا عَبۡدٗا مِّنۡ عِبَادِنَآ ءَاتَيۡنَٰهُ رَحۡمَةٗ مِّنۡ عِندِنَا وَعَلَّمۡنَٰهُ مِن لَّدُنَّا عِلۡمٗا ٦٥   

“Lalu mereka bertemu dengan seorang hamba di antara hamba-hamba Kami, yang telah Kami berikan kepadanya rahmat dari sisi Kami, dan yang telah Kami ajarkan kepadanya ilmu dari sisi Kami.” (Q.S. Al-Kahfi 18:65)

Siapakah hamba Allah yang dijumpai Musa tersebut? Apakah dia seorang Nabi semata yang dapat wahyu dari Allah SWT, atau juga seorang Rasul sekaligus, atau seorang wali Allah saja? Sebagian mufasir beranggap dia seorang Nabi karena mendapatkan ilmu langsung dari sisi Allah SWT. Ilmu yang didapat langsung dari Allah SWT adalah wahyu, sedangkan yang menerima wahyu hanyalah seorang Nabi. Tetapi yang lain menyatakan, hamba Allah itu bukan Nabi tapi hanya seorang wali, ilmu yang dia dapat langsung dari Allah SWT adalah ilham.

Tentang nama hamba Allah itu, sebagian besar mufasir menyebutkan namanya adalah Khidhir. Khidhir secara bahasa artinya hijau. Disebutkan dalam Shahih Bukhari, sebagaimana dikutip oleh Ibn Katsir dalam Kitab Tafsirnya (IX: 180-181) dari Hamam, dari Abu Hurairah , bahwasanya Rasulullah SAW bersabda: “Dinamai Khidhir, karena kalau dia duduk di atas rumput yang kering, maka rumput itu bergerak dan berubah menjadi hijau. “  Barangkali ucapan Nabi ini merupakan perumpamaan tentang kedatangan Khidhir mendatangkan berkah bagi sekelilingnya.

Dalam ayat dinyatakan bahwa hamba Allah yang dicari Musa itu telah dianugerahi oleh Allah rahmat dan ilmu dari sisi-Nya. Untuk rahmat diungkapkan dengan menggunakan kata min ‘indina, sedangkan untuk ilmu digunakan kata min ladunna. Apakah perbedaan ungkapan tersebut sekadar variasi kalimat dengan makna yang sama atau mempunyai makna yang berbeda.

Menurut Thahir ibn ‘Asyur sebagaimana dikutip oleh Quraish Shihab dalam Tafsir Al-Mishbah (8:95), perbedaan ungkapan tersebut hanya sekadar penganekaragaman semata agar tidak terulang dua kata yang sama. Sementara  itu menurut Al-Biqa’i mengutip Abu Hasan al-Harrah, kada ‘inda daam bahasa Arab adalah menyangkut sesuatu yang jelas dan tampak, sedangkan kata ladun untuk sesuatu yang tidak nampak.

Setelah mengucapkan salam, Musa memperkenalkan diri, lalu menyampaikan maksud kedatangannya menemui Khidhir. Allah SWT berfirman:

قَالَ لَهُۥ مُوسَىٰ هَلۡ أَتَّبِعُكَ عَلَىٰٓ أَن تُعَلِّمَنِ مِمَّا عُلِّمۡتَ رُشۡدٗا ٦٦ قَالَ إِنَّكَ لَن تَسۡتَطِيعَ مَعِيَ صَبۡرٗا ٦٧  وَكَيۡفَ تَصۡبِرُ عَلَىٰ مَا لَمۡ تُحِطۡ بِهِۦ خُبۡرٗا ٦٨

“Musa berkata kepada Khidhir: “Bolehkah aku mengikutimu supaya engkau mengajarkan kepadaku ilmu yang benar di antara ilmu-ilmu yang telah diajarkan kepadamu?” Dia menjawab: “Sesungguhnya kamu sekali-kali tidak akan sanggup sabar bersama aku. Dan bagaimana kamu dapat sabar atas sesuatu, yang kamu belum mempunyai pengetahuan yang cukup tentang hal itu?” (Q.S. Al-Kahfi 18:66-68)

Musa memiliki karakter keras, tegas dan terbuka. Dari awal hamba Allah yang dapat ilmu langsung dari Allah tersebut sudah menduga Musa tidak akan sanggup berguru kepadanya. Sebagaimana yang akan terlihat nanti, menyaksikan sesuatu yang menurutnya tidak benar, Musa akan segera memberikan reaksi. Reaksi itu kadang-kadang keras. Ingat tatkala terjadi peristiwa Samiry, Musa langsung memegang leher baju Harun saudaranya. Dia juga menghempaskan alwah yang sedang  dipegangnya karena sangat emosi melihat apa yang dilakukan oleh Bani Israil bersama dengan Samiri. (bersambung)

1 Komentar

Klik disini untuk memberikan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *