Berita

Dialog Pemikiran Pembaharuan IMM Malang Raya

Muarif, Redaktur SM dalam Forum Cendekiawan Merah IMM Malang (Dok SM)
Muarif, Redaktur SM dalam Forum Cendekiawan Merah IMM Malang (Dok SM)

MALANG, Suara Muhammadiyah – IMM Cabang Malang Raya sedang menyelenggarakan Forum Cendekiawan Merah (FCM) Angkatan II pada 26-30 Juli 2019 di Rumah Singgah Syihabudin Malang. Pada Gelaran FCM Tahun IMM Cabang Malang Raya mengangkat tema yang berbeda dari tahun sebelumnya. Tema yang diangkat yakni ”Dialog Pemikiran Pembaharuan di Muhammadiyah”. Adapun peserta yang mengikuti forum ini merupakan Kader-kader IMM di seluruh Indonesia yang telah melewati beberapa proses, diantaranya melalui tahap seleksi secara administratif dan seleksi melalui penugasan essai yang berkaitan dengan Muhammadiyah.

Hal yang menarik dalam forum yaitu pada saat penyampaian materi dari Mu’arif selaku Redaktur Suara Muhammadiyah sekaligus peneliti Muhammadiyah, Ahad (28/7). Dalam materi yang beliau sampaikan ada hal yang membuat peserta bertanya-tanya, salah satunya yaitu mengapa Muhammadiyah di fase awal atau yang disebut pada fase inisiasi dapat bertahan dan eksis meskipun tanpa ideologi?

Menurutnya hal dikarenakan dua hal, pertama pada prinsipnya di fase inisiasi ini semua pikiran warga Muhammadiyah itu Solid, meskipun tanpa adanya rumusan ideologi tetap bergerak. Mereka memiliki pemikiran yang modernis, terbuka dan Rasional. Selain solid pada waktu itu prinsip terbuka dilandasi oleh semangat selektif.

Contoh paham ideologi yang masuk di Muhammadiyah pada waktu itu adalah Ahmadiyah, mereka pertama kali berdakwah di Muhammadiyah adalah Kauman, beliau disambut baik oleh keluarga KH Ahmad Dahlan yang pada saat itu diterima oleh Haji Hilal (menantu KH Ahmad Dahlan) ia menerima dengan baik tamu dari Ahmadiyah. Rumusan ideologi di Muhammadiyah menurutnya pertama kali ada sejak kepemimpinan KH Mas Mansur.

Selain itu dalam penjelasan berikutnya Mu’arif juga menyampaikan bahwa Muhammadiyah pernah terinspirasi oleh Ahmadiyah dalam hal pemikiran. Pada Abad 21 gerakan Islam di Nusantara tidak dibolehkan menerjemahkan al Qur’an ke Bahasa Indonesia ataupun Jawa, namun Muhammadiyah terinspirasi dari Ahmadiyah untuk menerjemahkan Al-Quran ke dalam Bahasa jawa.

”Itulah hal-hal baru yang kiranya belum banyak diketahui oleh warga Muhammadiyah, dan itu harus diakui bahwa memang itulah fakta sejarah,” tutur pria juga berprofesi sebagai Dosen FAI UMS tersebut.

Orientasi Jangka panjang dari forum Cendekiawan Merah ini menurut Ode Rizki Prabtama Selaku Ketua Bidang Riset dan Pengembangan Keilmuan PC IMM Malang Raya adalah sebagai laboraturium Intelektual kader-kader IMM untuk menuangkan ide dan gagasan mengenai pembaharuan pemikiran di Muhammadiyah. (Riz)

Tambah Komentar

Klik disini untuk memberikan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *