Berita

Kader IMM Harus Menguasai Literatur Klasik dan Kontemporer

Dok IMM Malang
Dok IMM Malang

MALANG, Suara Muhammadiyah – IMM Malang Raya mendapat apresiasi dari salah satu narasumber, yakni Piet Hizbullah Khaidir ketika menyampaikan materi pada Forum Cendekiawan Merah Angkatan (FCM) II, Selasa (30/7). Menurutnya Model Perkaderan semacam ini merupakan hal yang sangat jarang ditemui. Pria yang pernah menjadi Ketua Umum DPP IMM 2002-2004 ini mengapresiasi forum ini lantaran metode yang digunakan sangat menarik, seperti menulis essay disertai kritik otokritik dengan menggunakan referensi yang otentik.

Dalam kesempatan tersebut, dia menyampaikan materi yang bertemakan ”Refleksi Upaya Pembaharuan Muhammadiyah di Abad Kedua”. Dalam pemaparannya, bahwa untuk melakukan pembaharuan di sektor manapun, baik pemikiran maupun gerakan, Muhammadiyah harus berangkat dari Al-Qur’an. Menurutnya Al-Qur’an merupakan rujukan utama untuk melakukan pembaharuan, hal ini bisa dilakukan dengan berbagai macam pendekatan.

Selain itu Piet juga berpesan kepada kader-kader IMM agar terus menggiatkan budaya membaca. Hal ini penting menurutnya agar kader-kader IMM mampu menjadi cendekiawan berpribadi dan kader sejuta zaman. “Seperti salah satu lirik Mars IMM,” ia mencontohkan.

”Sebagai kader IMM, teman-teman harus menguasi berbagai literature klasik (kitab-kitab klasik) dan kontemporer, dengan begitu kader Muhammadiyah kedepan tidak akan mudah terbawa arus gerakan Islam lain seperti Salafi, Wahabi dan HTI,” tegas pria yang merupakan Sekretaris STIQSI Lamongan tersebut.

Dia Menambahkan bahwa para tokoh Muhammadiyah seperti KH Ahmad Dahlan, KH Mas Mansur, mereka memiliki tradisi penguasaan turats (Kitab Klasik) dan Kontemporer yang kuat. Selain itu menurutnya para ilmuwan muslim terdahulu juga sangat kuat dalam penguasaan kitab, sehingga mampu menjadi episentrum keilmuan di masa lampau, seperti Ibnu Sina, Ibnu Khaldun, Al-Kindi, dan sebagainya.

Terakhir, dia berharap agar alumni dari Forum Cendekiawan Merah ini kedepannya harus memiliki keinginan yang kuat untuk menjadi para ahli di berbagai disiplin ilmu, seperti ilmu tafsir, ilmu sosial, ekonomi, sains, dll. Dengan begitu Pembaharuan Muhammadiyah di Abad yang kedua akan terus diraskan. (Riz)

Menandai

Tambah Komentar

Klik disini untuk memberikan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *