31 C
Yogyakarta
Minggu, Juli 5, 2020

AR Fakhruddin dan Imbauannya Menjelang 17 Agustus

By Suara Muhammadiyah

- Advertisement -

Berita Terbaru

Desember Diperkirakan Belum Aman Covid-19, Muhammadiyah (Kembali) Putuskan Menunda Muktamar

Yogyakarta, suaramuhammadiyah.id. Empat bulan sudah covid-19 membersamai kita dan sampai hari ini wabah tersebut belum juga menunjukan tanda-tanda akan segera menurun. Melandai...

Haedar Nashir: Masalah RUUHIP Bukan Masalah Umat Islam Vs Pemerintah

Ketua Umum PP Muhamadiyah, Prof Dr H Haedar Nashir, menyampaikan bahwa selama empat bulan masa pandemi yang memprihatinkan ini, Pimpinan Pusat Muhammadiyah...

PusdikHAM Uhamka: RUU HIP Sebaiknya Dihentikan

JAKARTA, Suara Muhammadiyah - Pusat Studi dan Pendidikan dan Hak Asasi Manusia (PUSDIKHAM) Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. Hamka menggelar sebuah Webinar terkait...

Kematian Pangeran Arab Saudi yang Masih Misteri

RIYADH, Suara Muhammadiyah – Pemerintah Arab Saudi mengumumkan bahwa Pangeran Bandar bin Saad bin Mohammad bin Abdulaziz bin Saud bin Fisal Al...

Bimtek IT, Dikdasmen PDM Magelang Mengawal Pembelajaran Online

MAGELANG, Suara Muhammadiyah - Sistem pembelajaran di masa Pandemi Covid-19 membutuhkan adaptasi baik bagi guru maupun siswa. Bagi guru dituntut lebih dalam...
- Advertisement -

Sosok yang sangat sederhana dan bersahaja ini bukan orang biasa. Kemewahan dunia telah absen dari kehidupannya. Beliau adalah KH AR Fakhruddin, Ketua Umum PP Muhammadiyah terlama. Menjabat selama 22 tahun sejak 1968 hingga 1990.

Meskipun hidup dalam serba kesederhanaan, meminjam ungkapan Buya Syafii Maarif, Pak AR dikaruniai pisau batin yang sangat tajam. Dengan pisau itulah dia memahami dan menyikapi berbagai watak manusia. Dengan kepiawaiannya itu, dia diterima di semua golongan dari akar rumput sampai ke menara gading.

Pak AR dikenal sangat dekat dengan pemerintahan kala itu, era Orde Baru. Bahkan Pak Suharto dan Pak AR tampak seperti sahabat karib. Namun demikian Pak AR tidak pernah haus kekuasaan. Sebaliknya, Pak AR tetap kritis kepada penguasa namun dengan cara-cara yang elegan, disampaikan secara langsung, pribadi, tanpa diumbar. Hal ini tentu karena akses dakwah Pak AR yang terbuka kepada siapapun, termasuk kepada penguasa.

Selain kepada pemerintah, kesetiaan Pak AR kepada Negara Kesatuan Republik Indonesia yang berdasar Pancasila dan UUD 45 tidak bisa diragukan. Catatan sejarah berikut terekam dengan baik di Majalah Suara Muhammadiyah No.15/62/Th 1982. Menjelang 17 Agustus 1982, dengan ejaan disesuaikan, Pak AR menuliskan Suatu Imbuan:

Saya ingin mengimbau saudara-saudara sebangsa dan setanah air terutama yang seagama. Yaitu negara ini adalah negara kita. Dasar negara dan falsafah negara kita sekarang ini, adalah hasil perundingan kita bersama.

Sudah sama kita niatkan untuk menetapkan dasar dan falsafah negara kita itu. Maka marilah dengan bismillah, dasar dan falsafah negara kita itu kita mantapkan dalam hati kita sebagai putera Indonesia. Bahwa negara kita adalah Republik Indonesia yang berdasarkan Pancasila dan UUD 45.

Dan sebagai umat Islam tentunya kita tetap mantap untuk tetap beragama Islam. Kita tidak perlu ragu-ragu, dan tidak usah khawatir. Kita yakin negara kita tetap akan memberikan perlindungan kepada kita.

Karena itu marilah kita membela negara kita dengan sebenar-benarnya tanpa ragu-ragu lagi. Pemerintah kita pun kita bela secara sungguh-sungguh. Tentu saja selama pemerintah kita tidak menyeleweng dari Pancasila dan UUD 45 dan tidak menyeleweng dari ketentuan agama Islam.

Kalau ada seseorang oknum pemerintah yang menyeleweng, kita berhak untuk menegurnya, meluruskannya dengan cara yang baik, dengan cara yang dibenarkan oleh UU dan aturan permainan yang berlaku.

Pemerintah kita adalah pemerintah kita sendiri. Maka marilah kita hargai, marilah kita taati, dan marilah pula kita bantu dan kita bela pemerintah dan negara kita tercinta ini. (Erik Tauvani)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -
- Advertisement -

More articles