Analog

Gerakan Kedermawanan Al-Maun

melayani umat

Judul Buku : Melayani Umat: Filantropi Islam dan Kesejahteraan Kaum Modernis

Penulis        : Hilman Latief

Ukuran       : 15 x 23 cm

Tebal Buku : xxxvi, 328 halaman

Cetakan     : I, Juni 2017

Penerbit    : Suara Muhammadiyah

 

Perjuangan Muhammadiyah, yang banyak terinspirasi oleh surat Al-Ma’un itu (juga ayat-ayat lain dalam Al-Qur’an), dikaji dan dituangkan Hilman dalam buku ini, memuat berbagai penjelasan dan pembahasan mengenai gerakn filantropi Muhammadiyah dalam mewarnai sebuah panggung yang kita sebut Indonesia. Dalam buku ini, Hilman Latief menjelaskan aktivisme sosial Muhammadiyah dengan teramat detail, tidak hanya memaparkan aktivisme sosial yang ditangani oleh Pimpinan Pusat Muhammadiyah, melainkan juga hingga yang ditangani oleh Pimpinan Muhammadiyah dan para laskar pejuang Muhammadiyah di ranah lokal. Selain itu, penulis tidak hanya membahas perkembangan aktivisme sosial Muhammadiyah kontemporer, melainkan juga menelisik berbagai fenomena sejarah. Beberapa hal yang lebih menarik lagi, penulis tidak hanya menyertakan pembahasan pada tataran filosofis-ideologis saja, tetapi juga mencakup berbagai statistik.

Ketika berbicara tentang kegiatan sosial yang bersifat karitatif, bahwa Muhammadiyah telah memberikan sumbangsih besar dalam melestarikan kegiatan sosial adalah hal yang tidak bisa dipungkiri publik. Kita, misalnya tidak bisa menolak fakta bahwa dengan kegiatan sosial melalui panti asuhan dan gerakan orang tua asuh yang diorganisir oleh Muhammadiyah, ribuan orang-orang yang berasal dari kalangan tidak mampu telah terbantu untuk memulihkan kondisi sosial ekonomi mereka dan keluarga mereka dengan bekal pendidikan yang dimiliki “anak-anak asuhan” tersebut. Kegiatan seperti ini telah dilakukan sejak puluhan tahun silam, atau malah mungkin hampir seabad, sejalan dengan usia Muhammadiyah sendiri. Juga, kita tidak bisa menutup mata bahwa pelaksanaan ibadah yang punya dimensi sosial-kemasyarakatan dan ekonomi, yaitu penunaian zakat, dan penggalangan infak, sedekah, dan wakaf di kalangan angota dan simpatisan Persyarikatan Muhammadiyah masih berjalan, tidak mandek. Faktanya, lembaga sosial dan amal usaha Muhammadiyah terus berkembang kian hari, ada yang progresif ada pula yang perkembangannya agak lamban.

Sangat jelas bahwa tumbuhnya lembaga-lembaga sosial dalam Muhammadiyah bersumber dari inisiatif lokal, baik dari segi gagasan, dana maupun pelaksanaannya, dan didukung oleh partisipasi masyarakat, termasuk melalui praktik filantropi. Hanya saja, apakah kegiatan rutin tersebut telah menjadi bagian dari sebuah gerakan yang didesain dengan matang atau tidak, adalah soal lain. Justru karena “soal lain” itulah muncul gagasan untuk menulis buku ini.

Melalui buku ini, Hilman ingin mengajak pembaca untuk melihat lebih jauh bagaimana sesungguhnya dinamika pengelolaan zakat, infak, sedekah dan wakaf dalam Muhammadiyah, serta kegiatan pelayanannya untuk kemudian mencoba membingkainya dalam konteks wacana dan praktik gerakan kesejahteraan di Indonesia. Muhammadiyah adalah sebuah gerakan keagamaan di satu sisi, dan organisasi sosial di sisi yang lain, maka yang ingin dicoba ditelaah lebih jauh terkait dengan kultur, struktur, dan dilema-dilema yang dihadapi dalam pengorganisasian, penggalangan dan pengadministrasian dana umat oleh Muhammadiyah.

Buku ini sebagaimana dikatakan Mitsuo Nakamura, merupakan referensi wajib bagi mereka yang meminati isu kesejahteraan sosial di Indonesia pada umumnya dan bagi para aktivis Muhammadiyah yang berkecimpung di bidang ini pada khususnya.(Imron Nasri)

Tambah Komentar

Klik disini untuk memberikan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *