Jejak Persyarikatan

Kaum Putri Muhammadiyah Membela Bangsanya di Zaman Perang

NA Tjabang Payakumbuh tahun 1952 (Dok Pusdalitbang SM)
NA Tjabang Payakumbuh tahun 1952 (Dok Pusdalitbang SM)

Oleh: Muhammad Yuanda Zara

Salah satu periode paling krusial dalam sejarah Indonesia modern adalah paroh pertama tahun 1940an. Ada banyak peristiwa penting terjadi baik di Indonesia maupun di luar negeri, yang kemudian sangat menentukan bagi perjalanan sejarah Indonesia. Di Eropa, Blok Poros (yang bersekutu dengan Jepang di Asia) sejak Juni 1941 berusaha untuk menduduki Uni Soviet. Jepang sendiri, sebagai kekuatan imperialis baru, berupaya menguasai tetangga besarnya, Cina, sejak akhir era 1930an. Pada tanggal 8 Desember 1941 Jepang mengebom pangkalan militer Amerika Serikat (AS) di Pearl Harbor, Hawaii. Bagian Asia dan Pasifik lainnya masuk ke dalam target penaklukan Jepang. Indonesia, dengan demikian, tinggal menunggu waktu.

Kekhawatiran akan kemungkinan serbuan Jepang ke Indonesia sangat terasa di tengah publik Indonesia di awal tahun 1940an. Dari berbagai buku sejarah, cukup banyak yang kita ketahui tentang bagaimana kemudian Jepang masuk dan berkuasa di Indonesia. Ini mencakup pula upaya-upaya Jepang untuk memobilisasi masyarakat Indonesia melalui berbagai organisasi yang didirikannya. Kekejaman Jepang terhadap masyarakat Indonesia juga telah diulas dalam banyak kajian.

Namun, tampaknya masih banyak yang belum mengetahui tentang bagaimana respon warga Muhammadiyah, khususnya kaum putrinya, pada kemungkinan serbuan Jepang ke Indonesia. Bagaimana pemahaman kaum putri Muhammadiyah terhadap konstelasi konflik global dan potensi pengaruhnya ke Indonesia? Apa pandangan kaum putri Muhammadiyah terhadap nasib bangsa Indonesia di hadapan serbuan bangsa asing (Jepang)? Bagaimana kaum putri Muhammadiyah mengajak saudara sebangsanya untuk bisa menyelamatkan diri dari kekejaman perang?

Kaum putri Muhammadiyah sebenarnya memiliki pengetahuan yang cukup mendalam perihal dinamika politik global pada dekade 1930an dan awal 1940an. Ini tampak dari pandangan-pandangan mereka yang terekam dalam majalah kaum putrinya Muhammadiyah, Soeara ‘Aisjijah. Salah satunya di edisi 2, 16 Februari 1942. Mereka memakai sumber dalam dan luar negeri dalam memahami gejolak politik dunia. Ini memperlihatkan luasnya akses informasi kaum putri Muhammadiyah dalam memahami persoalan dunia. Sumber-sumber tersebut mencakup surat kabar Tjaja Timoer (yang mengambil berita dari Singapore Free Press), Reuter hingga kantor berita Belanda, Aneta.

Di Soeara ‘Aisjijah edisi 2, 16 Februari 1942 itu ada sebuah artikel yang berjudul “Neraka Doenia”. Isi artikel ini (yang penulisnya tidak diketahui, tapi kemungkinan adalah redaktur Soeara ‘Aisjijah) adalah analisis tentang invasi Jepang di Kowloon (Hong Kong) pada Desember 1941 dan efek yang ditimbulkannya. Masuknya Jepang digambarkan telah membuat Kowloon menjadi neraka dunia lantaran kerusakan yang ditimbulkannya, mulai dari pemerkosaan yang menimpa kaum wanita hingga perampokan yang menyasar toko dan rumah-rumah warga.

Siswa SD Muhammadiyah sedang mengamati foto-foto lama tokoh Aisyiyah dalam Pameran Foto dan Arsp Muhammadiyah (17/11) di Masjid KHA Dahlan UMY
Siswa SD Muhammadiyah sedang mengamati foto-foto lama tokoh Aisyiyah dalam Pameran Foto dan Arsp Muhammadiyah (17/11) di Masjid KHA Dahlan UMY

Merespon penderitaan masyarakat Hong Kong ini, sang penulis artikel menyerukan agar kehormatan kaum ibu dilindungi di masa perang. Salah satu langkah yang harus dilakukan adalah dengan memperkuat organisasi serta pertahanan di tengah-tengah masyarakat.

Sang penulis juga mengajak baik kaum pria dan kaum wanita di Indonesia untuk turut berpartisipasi menjaga keamanan masyarakat dari kerusakan yang mungkin timbul akibat invasi Jepang:

Maka kita toeroet mengharap moedah-moedahan kedjadian di Kowloon tersebut djangan mendjalar dinegeri atau di kampoeng- kampoeng kita, dengan mengoeatkan djama’ah dan organisatie jang mempertahankan kehormatan kaoem iboe dan memperlindoengi hak milik kita. “Wahai kaoem bapa dan pemoeda laki-laki, bersedialah oentoek mempertahankan kehormatan iboemoe serta saudara- saudara dan anak-anakmoe perempoean jang haloes lemah itoe. Djanganlah sampai di Doenia kita soedah masoek dineraka dan di Acherat poela lebih besar ‘azabnja”. Kita kaoem iboe-poen wadjib mempertahankan kehormatan diri serta diri serta membantoe segala gerakan dan organisatie jang akan memperlindoengi kita.

Ada artikel lainnya tentang peran kaum putri di masa perang di edisi Februari 1942 itu. Judulnya “Kaoem Poetri didalam Peperangan”. Penulisnya juga tidak diketahui, tapi tampaknya masih sama dengan penulis “Neraka Doenia” di atas. Artikel “Kaoem Poetri didalam Peperangan” dibuka dengan keprihatinan penulisnya pada fakta bahwa “negeri kita, tanah toempah darah kita” sejak 8 Desember 1941 telah masuk ke dalam kancah peperangan. Tanah air dan tanah tumpah darah yang dimaksud di sini jelas mengacu kepada Indonesia. Padahal, dalam beberapa bulan sebelumnya Indonesia masih menjadi penonton dan pendengar berita tentang perang yang meletus di Eropa dan Asia Timur. Tapi kini, kata penulisnya, “negeri kita, dan bangsa kita telah toeroet bermain di dalam poetihnja peperangan jang sebenarnja”.

Sang penulis lalu menggarisbawahi bahwa kaum putri adalah salah satu korban ketika perang terjadi. Oleh sebab itu, kaum putri Indonesia perlu dipersiapkan untuk menghadapi kemungkinan menjalarnya perang ke Indonesia. Akan tetapi, lanjut sang penulis. keterlibatan kaum putri Indonesia berbeda dengan keterlibatan kaum putri di Amerika dan Inggris yang terjun langsung ke medan perang. Pendidikan mereka serta persiapan mereka yang lebih baik memungkinkan mereka untuk melakukannya. Sementara di Indonesia, baru kaum laki-lakilah yang dipersiapkan untuk menjalankan fungsi pertahanan di masa perang.

Walaupun demikian, sang penulis tetap mengajak kaum putri Indonesia untuk turut berpartisipasi mempertahankan Indonesia sesuai dengan karakteristik dan kemampuan kaum putri itu sendiri:

Kita akan berdjoang, kita akan bersiap segera oentoek membantoe keselamatan bangsa dan saudarasaudara kita, dengan tidak meloepakan ketertiban dan kedoedoekan kaoem poetri dan kepoetriannja. Kita akan menjediakan kesanggoepan oentoek menoedjoe keselamatan bangsa dan tanah air kita, lain tidak, sebab mengingati kewadjiban kita terhadap sesama hidoep semata-mata.

logo aisyiyah

Kaum putri Muhammadiyah tidak hanya mengajak kaum putri muda ataupun dewasa untuk membela bangsa dan tanah air Indonesia. Di dalam artikel berjudul “Beberapa Peringatan Oentoek Mendjaga Bahaja Bom” di publikasi yang sama mereka bahkan juga memberikan tips kepada orang tua perihal bagaimana menjaga anak-anak dari serangan udara musuh. Beberapa tips yang disampaikan antara lain: pertama, begitu ada pesawat pembom lewat, anak-anak jangan dibiarkan berdiri terpana untuk menyaksikan pesawat itu.

Mereka harus diarahkan ke tempat perlindungan. Kepada anak-anak yang pergi sekolah harus diberi tahu lokasi tempat perlindungan di sepanjang perjalanan mereka. Alternatif lainnya adalah mencari perlindungan di dalam rumah warga. Dengan demikian, diharapkan agar anak-anak bisa selamat bila nanti ada pesawat yang menjatuhkan bom.

Muhammad Yuanda Zara. Sejarawan

Tulisan ini pernah dimuat di Majalah SM Edisi 18 Tahun 2018

1 Komentar

Klik disini untuk memberikan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *