Editorial

Menjaga Marwah Muhammadiyah

Haedar Nashir (Dok SM)
Haedar Nashir (Dok SM)

Kontestasi Pemilu 2019 baik untuk Pilpres mapun Pileg tentu akan melibatkan proses politik yang berkompetisi secara terbuka. Masing-masing pihak akan saling mengunggulkan dirinya dan menunjukkan kekurangan pihak lainnya. Setiap calon maupun pendukungnya akan berusaha memenangkan kompetisi politik lima tahunan itu laksana pertandingan olahraga.

Sebagaimana layaknya kompestisi, setiap pihak akan kerja keras mencari dan memperoleh dukungan sebesar-besarnya dari rakyat yang akan memilih. Organisasi dan kelompokkelompok sosial yang memiliki relasi dengan masyarakat, lebih-lebih yang memiliki akar dan jaringan yang luas seperti Muhammadiyah, tentu akan menjadi ladang pendulangan dukungan massa. Setiap peluang yang ada sekecil apapun akan dimanfaatkan untuk meraih dukungan politik masa tersebut

Politik memang tidak lepas dari dukungan massa. Politik juga akan meilbatkan sikap dukung mendukung maupun sebaliknya tolak-menolak, baik yang terbuka maupun tertutup alias terselubung. Pro dan kontra politik juga akan menjadi pemandangan lazim dalam kompetisi politik. Politik malah merupakan seni memanfaatkan peluang, selain seni bermain kepentingan. Politik selalu berkaitan dengan siapa mendapatkan apa, kapan, dan bagaimana caranya meraih kepentingan.

Pada umumnya wajar proses kompetisi politik yang berebut kepentingan, pengaruh, dan dukungan rakyat atau massa tersebut. Semua menjadi bagian dari hajat hidup dan dinamika politik di mana pun. Hal yang membedakannya mana dan siapa yang bermain politik secara sportif dan elegan sesuai aturan, etika, dan koridor yang disediakan oleh demokrasi dan sistem politik yang berlaku serta mana yang menyalahinya. Di situlah pentingnya mekanisme pertandingan atau kompetisi politik yang perlu menjadi sikap dan budaya politik yang dewasa, berkeadaban, dan kesatria.

Bagi Muhammadiyah tentu kompetisi politik itu juga tidak terhindarkan karena gerakan Islam ini menjadi bagian dari komponen bangsa sekaligus hidup menyatu dengan masyarakat. Muhammadiyah tidak akan vakum dan bebas dari relasi kompetisi politik lima tahunan itu. Hal yang perlu dipedomani seluruh anggota Persyarikatan, termasuk kader dan pimpinannya, bagaimana memposisikan dan berpartisipasi dalam proses politik itu secara cerdas dan bijak sejalan dengan posisi Muhammadiyah sebagai organisasi kemasyarakatan yang dibingkai Kepribadian dan Khittah.

Perlu diingat betul bahwa Muhammadiyah itu bukanlah partai politik. Muhammadiyah adalah organisasi dakwah kemasyarakatan yang menjalankan peran membina, meneguhkan, mencerdaskan, dan memajukan umat serta bangsa sesuai dengan nilai-nilai ajaran Islam yang membawa rahmatan lil-‘alamin. Lebih-lebih Muhammadiyah memiliki Khittah dan Kepribadian yang menggariskan tidak berpolitik praktis. Muhammadiyah jangan diseret pada pertarungan politik praktis. Organisasi kemasyarakatan manapun termasuk Muhammadiyah tetap menjalankan fungsi dakwah kemasyarakatannya secara konsisten.

Muhammadiyah memang harus berperan dalam dinamika kehidupan kebangsaan, tetapi jangan mengambil alih fungsi partai politik dan tim pemenangan kontestasi politik 2019. Komunikasi, lobi, dan fungsi-fungsi kebangsaan dapat terus dijalankan Muhammadiyah, tetapi jangan terlibat langsung dalam kontestasi politik 2019. Bila perlu jadilah penjaga moral dan pengontrol kontestasi politik agar tetap konstitusional, demokrastis, beradab, dan menjaga keutuhan bangsa. Maka harus menjadi komitmen seluruh anggota, kader, dan elite Muhammadiyah agar tetap istiqamah menjaga marwah Muhammadiyah selaku organisasi dakwah kemasyarakatan yang non-politik praktis! (hns)

Tulisan ini pernah dimuat di “Tajuk” Majalah Suara Muhammadiyah Edisi Nomor 18 tahun 2018

1 Komentar

Klik disini untuk memberikan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *