Analog

Ahmad Watik Pratiknya “Tidak Setia” Pada Profesi

watik

Judul Buku : Bintang dari Argasoka: Biografi Ahmad Watik Pratiknya

Penulis        : Agung Prihantoro dan Ihab Habudin

Ukuran       : 15×23 cm

Tebal Buku : xxviii, 346 halaman

Cetakan     : I, Agustus 2018

Penerbit    : Suara Muhammadiyah

 

Jasad (hardware) almarhum Dr dr Ahmad Watik Pratiknya sudah tiada, tetapi software beliau tetap ada. Software beliau tetap menemani kita. Software itu jiwa, roh, batin, nurani, derivatif dari Allah. Jiwa atau roh Pak Watik tetap di sini. Dua puluh enam tahun saya bersama Pak Watik beliau orang yang setia. Beliau dengan setia dan tekun mencatat pesan-pesan saya. Saya kenal betul Pak Watik sebab sudah sekian lama bekerja bersama-sama. Awalnya, November 1990, sebelum Ikatan Cendekiawan Muslim se-Indonesia (ICMI) berdiri, Pak Wardiman Djojonegoro mengenalkan saya kepada Pak Watik, Pak Amien Rais dan anak-anak muda lain yang berpikiran modern. Semenjak itu, kami menjalin hubungan profesional dan personal yang karib. Dua puluh enam tahun bukanlah waktu yang pendek. Saya sudah menganggap Pak Watik sebagai adik saya sendiri. Demikian pernyataan Prof Dr Ing Bacharuddin Jusuf Habibie dalam kata sambutannya pada buku ini.

Demikian juga dalam pandangan M Amien Rais, sahabat dekat Pak Watik, yang mengatakan bahwa sosok hamba Allah yang selama lebih kurang 18 tahun berpikir keras dan berkiprah bersama para penggiat dakwah Islam di Yogyakarta. Perjuangan almarhum dan teman-teman adalah untuk menggapai ridha Allah.

Nama Ahmad Watik Praktinya tentu tidak asing di telinga masyarakat Indonesia.Sebagai seorang dokter, sumbangsih besarnya dalam dunia kedokteran tertuang lewat tulisan buku Dasar-dasar Metodologi Penelitian Kedokteran dan Kesehatan. Kepiawaian menangani pasien dan kiprah doktoral spesialis anatomi ini dalam mengabdi di berbagai lembaga kesehatan/rumah sakit juga banyak diakui.

Namun demikian, Pak Watik tidak hanya hidup menjadi seorang dokter profesional melainkan juga aktivis ulung.Keaktifannya sebagai organisatoris sudah dimulai sejak duduk di bangku SMA bersama PII Banjarnegara dan berlanjut di PII Yogyakarta Besar saat menjalani studi perguruan tinggi di UGM. Setelah meraih gelar doktoral dokter beliau semakin aktif membesarkan berbagai lembaga diantaranya ICMI, Laboratorium Dakwah, Yayasan Shalahuddin, Pondok Pesantren Budi Mulia,The Habibie Center, serta Majelis Tabligh Pimpinan Pusat Muhammadiyah. Ketekunan yang tanpa pamrih dalam mengembangkan organisasi turut mengantarkan beliau ke kancah ketatanegaraan nasional, antara lain menjadi Asisten Menteri Sekretaris Negara dan staf Menteri Pendidikan dan Kebudayaan.

Selain menyoroti perjalanan intelektual Pak Watik sebagai seorang dosen, dokter, sekaligus aktivis yang agamis, buku ini juga mengungkap ketulusan kisah cinta dan persahabatan beliau. Penggalian kisah hidup Pak Watik melalui istri tercintanya, Noor Rohmah, berhasil memberikan gambaran bahwa beliau tidak hanya sukses dalam karir tapi juga dalam kisah cinta dan keluarga.

Penyusunan dan penerbitan buku biografi Pak Watik ini, sebagaimana dikatakan isterinya Noor Rochmah Pratiknya, agar jejak dan langkah Pak Watik dipahami dan dijadikan inspirasi bagi keluarga besar, sahabat-sahabat dan generasi muda yang akan datang.

Semoga, melalui penerbitan buku ini, usaha dakwah dan pengabdian untuk umat yang dilakukan Pak Watik dapat semakin menginspirasi kita untuk melakukan hal serupa, yang pernah dilakukan Pak Watik. (Imron Nasri)

 

Tambah Komentar

Klik disini untuk memberikan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *