Analog

Pelajaran Kiai Haji Ahmad Dahlan

pelajaran kiai

Judul Buku : Pelajaran Kiai Haji Ahmad Dahlan

Penulis        : KRH Hadjid

Ukuran       : 11 x 15 cm

Tebal Buku : x, 270 halaman

Cetakan     : I, September 2018

Penerbit    : Suara Muhammadiyah

 

Sebagaimana kita ketahui, KH Ahmad Dahlan hingga wafatnya tidak meninggalkan banyak tulisan, apalagi buku. Gagasan atau pemikirannya lebih banyak langsung diaktualisasikan dalam bentuk kerja nyata. Namun demikian, bukan berarti tidak ada sama sekali ajaran tertulis dari Ahmad Dahlan. Hanya saja, sebagian besar pemikirannya banyak disampaikan lewat lisan dan dicatat atau dirangkum oleh orang lain, terutama murid-muridnya atau orang yang pernah dekat dengan beliau. Salah satu orang yang pernah dekat dengan Ahmad Dahlan adalah KRH Hadjid, yang berinisiatif mencatat dan merangkum pemikiran-pemikiran Ahmad Dahlan, seperti yang terdapat dalam buku ini. Kalau kita baca –mungkin—materinya sederahana, tapi isi dan makna yang terkandung di dalam masing-masing materi itu, sangat dalam maknanya. Bahkan, kalau diurai satu persatu secara lebih mendalam, bisa jadi menjadi buku tersendiri.

Buku ini terdiri dari dua bagian. Bagian pertama, sebagaimana disampaikan KRH Hadjid berisi 7 Falsafah ajaran. Falsafah ajaran ini, berasal dari pendalaman Ahmad Dahlan terhadap buku-buku yang pernah dibacanya. Kitab-kitab yang dipelajari atau ditelaah Ahmad Dahlan adalah kitab-kitab yang biasa dipelajari oleh kebanyakan ulama di Indonesia dan ulama Mekkah. Misalnya, dalam ilmu ‘Aqaid ialah kitab-kitab yang beraliran Ahlus Sunnah wal Jamaah, Ilmu Fiqih menggunakan kitab-kitab dari Madzab Syafi’iyyah, dan dalam hal ilmu tasawuf Kiai Ahmad Dahlan merujuk kepadaImam Al-Ghazali.

Selain itu, Ahmad Dahlan juga mempelajari Tafsir Al-Manar karya Rasyid Ridha, majalah Al-Manar dan Tafsir Juz Amma karya Muhammad Abduh, serta menelaah kitab Al ‘Urwatul Wutsqa karya Jamaluddin al-Afghani. KRH Hadjid juga menyampaikan bahwa ada beebrapa kitab yang sering menjadi rujukan Ahmad Dahlan, yaitu: Kitab Tauhid Muhammad Abduh, Tafsir Juz Amma Muhammad Abduh, Kitab Kanzul Ulum, Dairatul Ma’arif karya Farid Wajdi, Kitab-kitab Fil Bid’ah karya Ibnu Taimiyyah, sebagaimana kitab At-Tawassul wal-Wasilah, Kitab Al-Islam wan-Nasraniyyah karya Muhammad Abduh, kitab Idharulhaq karya Rahmatullah Al-Hindi serta kitab-kitab Hadist karya ulama Madzhab Hambali, dan lain-lain.

Bagian kedua dari buku ini adalah upaya mengungkap kembali jiwa Muhammadiyah yang dewasa ini sudah banyak yang ditinggalkan. Khususnya oleh keluarga Muhammadiyah sendiri. Sehubungan dengan itu, bagian ini juga mengungkap ayat-ayat Al-Qur’an yang betul-betul menjadi acuan dan perhatian Ahmad Dahlan dalam mengembangkan organisasi yang didirikannya, yakni Muhammadiyah. Bagaimana paham Kiai Dahlan dalam menafsirkan ayat-ayat tersebutm hendaknya dapat menjadi pegangan bagi pewaris dan penerus Muhammadiyah. Demikian pula keteguhan Ahmad Dahlan dalam memperjuangkan Islam dapat menjadi pedoman dan perhatian kita bersama.

Buku ini sangat bagus dan layak untuk menjadi pegangan kita semua, khususnya keluarga besar Muhammadiyah dan umat Islam pada umumnya. (Imron Nasri)

Tambah Komentar

Klik disini untuk memberikan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *