Wawasan

102 Tahun Hubungan Thawalib dan Muhammadiyah

Buya Hamka
Buya Hamka

Oleh : H. Ali Usman Syuib

102 tahun lalu, tepatnya tahun 1917 masehi, seorang ulama dari tanah Minangkabau datang ke Yogyakarta. Kedatangan tersebut sangat istimewa, karena ingin bertemu dengan sahabat lama sebagai pendiri Muhammadiyah Kiyai Haji Ahmad Dahlan.

Selama tiga hari tiga malam, ulama yang lahir dari pinggiran Danau Maninjau tersebut, menyaksikan langsung bagaimana Kiyai Ahmad Dahlan memimpin pengajian Muhammadiyah yang kala itu baru berumur lima tahun. Bahkan, beliau  juga melihat bagaimana Kiyai  Ahmad Dahlan mengajar agama Islam di sekolah modern Kweekschool Gouvernement.

Dr Abdul Karim Amrullah, itulah ulama Minangkabau,  yang nama tersebut kami abadikan menjadi nama gedung pertemuan di tempat acara kuliah umum ini.

Kedatangan Inyiak Rasul pada waktu itu ke Yogyakarta dan bertemu dengan Kiyai Ahmad Dahlan, ternyata  belakangan menjadi inspirasi buat beliau membuat sistem pendidikan yang dilakukan Kiyai Ahmad Dahlan di Thawalib Padang Panjang.

Sejarah mencatat,  bagi Kiyai Ahmad Dahlan pada waktu pertemuan tersebut juga banyak mendengar kisah  baik tentang Sumatera Thawalib, nama perguruan Thawalib pada zaman itu,  sekolah Islam modern pertama di Hindia Belanda dari Inyiak Rasul.

Kiyai Ahmad Dahlan mendengar langsung pengalaman Haji Rasul memimpin pengajian surau Jembatan Besi sejak tahun 1901 hingga menjadi Sumatera Thawalib. Betulah ikatan sejarah bagaimana hubungan Thawalib dengan Muhammadiyah yang sudah terjalin sejak 102 tahun silam.

Kisah sejarah tersebut terulang kembali di tahun 2019 ini. Ketua Umum PP Muhammadiyah Bapak Haedar Nashir berkunjung ke Thawalib, sebuah napak tilas sejarah yang sangat berharga. Seakan-akan hari ini kita mengingat sebuah  kunjungan balasan dari orang pertama di Muhammadiyah ke Thawalib Padang Panjang.

Maka, bagi kami Yayasan Thawalib Padang Panjang, sore ini suatu kebahagiaan dengan kedatangan Bapak Haedar Nashir. Apalagi nanti kita akan mendengarkan uraian kuliah umum beliau dengan tema “Pengaruh Pendidikan Thawalib terhadap Pendidikan Islam di Indonesia dalam Konteks Kontribusi Terhadap Pengembangan Muhammadiyah.”

Kuliah umum yang disampaikan bapak Haedar Nashir di Gedung Inyiak Rasul ini bukan saja cermin bagaimana sejarah terbangunnya hubungan emosional Thawalib dengan Muhammadiyah, melainkan juga memperlihatkan bagaimana selama ini para alumni-alumni Thawalib banyak  yang aktif di Muhammadiyah bahkan ada yang ada menjadi pimpinan Muhammadiyah di berbagai tingkatan.

Untuk itu, dalam kesempatan ini, kami dari Yayasan Thawalib menyampaikan ucapan terima kasih atas kesediaan bapak Haedar Nashir di tengah kesibukan datang dan menyampaikan kuliah umum dan peletakan batu pertama pembangunan gedung asrama Thawalib, selain sebagai bentuk napak tilas 102 tahun hubungan Thawalib dan Muhammadiyah juga akan menjadi spirit untuk kemajuan Thawalib ke depan.

Padang Panjang, 6 September 2019/6 Muharram 1441 H

Sambutan Ketua Yayasan Thawalib Padang Panjang H. Ali Usman Syuib dalam acara Kuliah Umum oleh Dr Haedar Nashir, MSi Ketua Umum PP Muhammadiyah di Thawalib Padang Panjang

Tambah Komentar

Klik disini untuk memberikan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *