Sajian Utama

Emoh Klitih

sekolah-di-awan1

Pada akhir 2016, Yogyakarta digegerkan peristiwa klithih di siang hari. Korbannya anak SMA Muhammadiyah 1 (Muhi) Yogyakarta yang pulang dari rekreasi di Gunungkidul. Peristiwa klithih ini terus berulang hingga tahun kini. Korbannya tak lagi pelajar, ada juga seorang lulusan perguruan tinggi. Senjatanya tak lagi pedang tetapi juga batu.

Klithih memang kekerasan khas Yogyakarta dan sekitarnya yang dilakukan oleh pelajar/remaja di Yogya yang kadang berlangsung tanpa alasan. Kekerasan yang sama di Bandung dan sekitarnya dilakukan oleh Geng Motor. Di tempat lain,kekerasan-kekerasan serupa bisa dengan nama yang lain. Pelaku dan korbannya umumnya anak muda atau yang kelihatan muda.

Klithih yang semula bermakna positif, kini bermakna negatif. Prilaku klithih semula mencari makan di dapur ketika lapar saat belajar di malam hari. Kemudian berkembang mencari makan di luar rumah saat usai belajar. Dan akhirnya bermakna negatif yang tidak terkait dengan belajar ketika keluar malam mencari korban yang kelihatan lemah. Kini klithih tak kenal waktu.

Sebagai mayoritas sekolah swasta di Yogyakarta bahkan di Indonesia, sekolah Muhammadiyah sering kena dampaknya. Kalau tidak jadi korban, siswanya jadi pelaku klithih. Ini menjadi keprihatinan tersendiri bagi pemangku pendidikan di lingkungan Muhammadiyah.

Muhammadiyah tidak diam saja menghadapi kondisi ini. Menurut Dr Arif Budi Raharjo, M.Si. (Ketua Majelis Dikdasmen PWM DIY), Muhammadiyah membentuk Tim SPAS (Siaga Pembinaan Akhlak Siswa). “Idenya, kita ingin membangun kesadaran bahwa ini tanggung jawab kita bersama dan ini bisa dibilang hanya salah satu cara sementara sebenarnya. Jangan sampai telah ada tim SPAS ini guru yang lainnya malah menyerahkan pada Tim SPAS kalau ada kenakalan,” ujar Arif.

Tanpa mengecilkan kinerja pendidik yang ada di sekolah, menurut Arif, ternyata masih ada di beberapa sekolah yang gurunya tidak peduli dengan pendidikan tadi. Atau pendidikan tadi hanya diterjemahkan pengajaran saja, lihat jadwal, di luar dia ngajar melihat anak merokok, dan sebagainya di luar tanggung jawab, karena dia mengajar matematika atau karena dia bukan Waka Kesiswaan, dia bukan guru Al Islam Kemuhammadiyahan.

“Itu kami prihatin karena masih ada yang seperti itu, sehingga tidak terjadi adanya kesadaran bahwa mendidik itu harus bersama, sebagaimana kalau di sekolah itu menegakkan peraturan sekolah, menegakkan kedisiplinan, menegakkan tata krama sekolah,” kata Arif menyatakan keprihatinannya.

Songsong Musyda, PDM Yogyakarta Gelar Pawai Budaya  Berkemajuan

Menurut Arif, ada realitas kemudian anak-anak yang terlibat kenakalan bahkan kriminal. Ini extraordinary betul bagi pendidikan Muhammadiyah. Tapi ini memang di depan mata. SPAS ini adalah tim yang bisa bergerak cepat membantu Dikdasmen. Bahkan sejak awal mengantisipasi dimana mungkin akan ada kekerasan/tawuran sebelum terjadinya kejadian. Itu persoalan lapangan. “Sampai ketika ada kejadian pun mereka bisa berkoordinasi dengan pihak kepolisian dan terkait sehingga bisa melokalisir, mencegah, termasuk juga mendampingi, karena ada kemungkinan siswa kita yang jadi korban,” lanjut Arif.

Tim SPAS ini, menurut Arif, terdiri dari para Waka Kesiswaan yang dipilih sangat ketat yang komitmen Kemuhammadiyahannya jelas. Sehingga mereka enthengan ketika ada peristiwa di luar jam dinas pun mereka siap untuk terjun ke lapangan dan mereka yang cukup punya pengalaman, cukup paham dengan dinamika jalanan anak-anak. Dimana ada gejala kenakalan alhamdulillah tim ini bisa mendeteksi karena mereka juga menjalin jaringan dengan kepolisian.

“Pernah ada anak kita yang diposisikan sebagai korban, karena sedang duduk-duduk saja sementara kelompok lain yang melakukan tapi kemudian oleh masyarakat dianggap anak kita. Kadangkala fenomena geng itu seiring dengan kemajuan teknologi yang bermata dua, negatifpositif, bagi anak negatifnya lebih banyak,” ujar Arif yang juga dosen Pasca Sarjana Universitas Muhammadiyah Yogyakarta.

Upaya mencegahnya, menurut Arif, menstandarkan aturan sekolah, termasuk jika ada anak yang terlibat geng yang konotasinya negatif. “Kami juga punya pemahaman, mereka yang masuk geng karena tidak terfasilitasi untuk aktualisasi dirinya. Sekolah harus membuat “geng” untuk pengembangan potensi,” tutur Arif.

Langkah Dikdasmen PWM DIY ini juga didukung Dikdasmen PDM Kota Yogyakarta. Menurut Dr Ariswan, MSi, DEA yang juga Ketua Dewan Pendidikan Kota Yogyakarta, di Kota Yogya, sekolah swasta paling banyak Muhammadiyah, maka jika terdengar seperti klithih, tawuran. Itu kita reduksi.

“Saya penanggung jawab Majelis Dikdasmen PDM Kota, bagaimana anak-anak tahu masa depannya. Anak SMA/SMK kita dekatkan setelah lulus mau kemana, kita kerjasama dengan Taiwan, lulusan sekolah kita bisa masuk beasiswa Taiwan, kerjasama dengan UAD, UMY dan lembaga-lembaga tinggi, sehingga dia serius dengan pendidikan, energinya untuk hal negatif tereduksi di samping pemahaman agama melalui kegiatan terpadu sehingga energi positip yang mengemuka,” katanya.

Pengarahan Kepala Sekolah kepada siswa dalam rangka pelaksanaan UKK (Ujian Kompetensi Kejuruan)
Pengarahan Kepala Sekolah kepada siswa dalam rangka pelaksanaan UKK (Ujian Kompetensi Kejuruan)

Bahkan pada bulan April tahun ini, siswa-siswa Sekolah Muhammadiyah di Yogyakarta dilibatkan kegiatan teater dengan lakon “Emoh Klithih” (tidak mau klithih). Dengan pentas ini diharapkan karakter siswa Muhammadiyah bisa terbentuk lebih baik untuk melawan klithih.

Memang pendidikan karakter ini, menurut Alpha Amirrachman, MPhil, PhD (Sekretaris Majelis Dikdasmen PP Muhammadiyah), akan lebih diintensifkan di sekolah-sekolah Muhammadiyah seluruh Indonesia. Pendidikan karakter ini pula yang dilakukan oleh SMA Muhammadiyah 2 dan SMA Muhammadiyah 7 Yogyakarta untuk melawan klithih atau kekerasan lainnya.

Menurut Dra Dwi Susilowati (Koordinator BK SMA Muhammadiyah 2 Yogyakarta), Muryadi, SPd Kim (Humas SMA Muhammadiyah 7 Yogyakarta) dan Sihabudin, SAg (Wakil Kepala) Kesiswaan SMA Muhammadiyah 7 Yogyakarta), mereka serius untuk menanggulangi dampak klithih ini.

“Akhir-akhir ini alhamdulillah tidak terjadi kekerasan. Kita juga melibatkan polisi. Kalau ada anak terlibat kesalahan ya tidak kita sembunyikan karena itu sudah menjadi resiko. Kemudian kita kerja sama dengan Pondok Pesantren Al Hikmah jadi untuk anak-anak yang mungkin kurang teratur itu kita beri pembinaan di sana selama 1 bulan ikut pendidikan karakter, dan alhamdulillah hasilnya selama ini sudah baik. Tawuran juga sudah tidak terjadi,” kata Muryadi. (tulisan: eff, bahan: rizki, tira, ribas, lut)

Tulisan ini pernah dimuat di Majalah SM Edisi 8 Tahun 2018

Tambah Komentar

Klik disini untuk memberikan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *