obrolan_cendekia
fenomenologi
Analog

Membaca Fenomena Perilaku Beragama

Judul Buku      : Fenomenologi Islam Modernis, Kisah Perjumpaan Muhammadiyah dengan Kebhinekaan Perilaku Beragama

Penulis             : Herman L Beck

Penerbit           : Suara Muhammadiyah

Cetakan 1        : Januari 2018

Tebal, ukuran  : xxvi+272 hlm., 14 x 21 cm

Fenomenologi mulanya merupakan istilah dalam kajian ilmu filsafat dan sosiologi. Berkaitan dengan menyaksikan, mendengarkan, dan menyelami sesuatu gejala yang tampak. Fenomenologi mengajarkan kita untuk membuka diri terhadap berbagai informasi atau fenomena, tanpa terburu-buru memberi penilaian, menghukumi, atau mengevaluasi berdasarkan pada prakonsepsi atau prapemahaman. Kita membiarkan fenomena bercerita tentang dirinya sendiri.

Menurut Edmund Husserl, fenomena berkaitan erat dengan sejarah masa lalu yang membentuk kesadaran dan mempengaruhi seseorang dalam melihat sesuatu di masa kini. Suatu fenomena saling berkelindan dengan peristiwa sebelumnya. Manusia tidak bisa lepas dari lingkungan masyarakatnya. Fenomenologi mencoba mengungkapkan makna dari pengalaman seseorang, dengan memposisikan diri sebagai epoche, lepas dari dugaan awal.

Adalah Herman L. Beck menggunakan sudut pandang fenomenologi dalam melihat Muhammadiyah. Orasi ilmiahnya ketika diangkat menjadi guru besar fenomenologi agama pada Fakultas Teologi Universitas Tilburg Belanda adalah terkait dengan kajian ini. Pidato pengukuhannya pada 1991, “De Islam en Nederland: Romancing Religion” menjadi salah satu sajian dalam buku ini dengan judul terjemahan “Muhammadiyah sebagai Studi Kasus dalam Kajian Agama Komparatif” (hlm 1).

Berbeda dengan banyak temuan para peneliti sebelumnya, Beck memiliki karakteristik tersendiri yang bisa mewakili wajah Muhammadiyah berdasarkan sudut pandang fenomenologi. Menurutnya, Muhammadiyah merupakan gerakan aktualisasi, yang merefleksikan, membumikan, dan mengaktualisasikan Islam sesuai dengan zamannya. Membuat Islam aktual dengan masa kini (hlm 37). Lebih dari itu, Muhammadiyah juga merupakan gerakan modernis yang berusaha untuk mewujudkan suatu masyarakat Islam modern.

Kemunduran dunia Islam dan ketertinggalannya dari dunia Barat yang identik dengan gemerlap kemodernan menjadi titik mula modernisme. Para pembaharu Islam berusaha memurnikan ajaran agama yang dianggap sudah tercampur dengan banyak unsur luar (takhayul, bid’ah, khurafat) oleh sebab kebodohan, yang bermuara pada kejumudan dan kemunduran. Periode keemasan Islam pada zaman Nabi dan khalifah al-rasyidun menjadi cermin ideal. Purifikasi bertujuan untuk menghadirkan kembali Islam sebagai agama yang mendorong umatnya pada kemajuan dan relevan dengan zaman modern. (hlm 9-11).

Menariknya, Beck ikut mempertanyakan ulang makna modernis yang dikemukakan dalam konsep Barat. Di antara unsur penting yang terwakili dalam makna modernis, ujar Beck, adalah demokrasi, hak asasi manusia, dan kesetaraan manusia. Termasuk di dalamnya adalah sikap menghargai keragaman religius. Dalam pandangan Muhammadiyah, identitas diri sebagai seorang Muslim, meniscayakan untuk menjalankan tugas penghambaan dengan empat tanggung jawab, terhadap: Tuhannya, dirinya, dunianya, dan masyarakatnya. Kesadaran ini menggerakkan untuk merangkul seluruh umat manusia, termasuk mereka yang berbeda (hlm 36).

Fenomenologi agama memiliki arti penting untuk menemukan jalinan antara konsepsi ideal, pemahaman khalayak, dan kenyataan praktik beragama. Buku kumpulan artikel ini, misalnya memberi gambaran utuh tentang pandangan seorang Muhammadiyah terhadap situs ziarah Gua Maria Sendangsono dan fenomena Gerebek Maulud yang rutin diadakan di kampung lahirnya Muhammadiyah. (Muhammad Ridha Basri)

Tambah Komentar

Klik disini untuk memberikan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *