Berita

Paradigma Integrasi Ilmu Perguruan Tinggi Muhammadiyah dan Aisyiyah

IMG20191019081948

YOGYAKARTA, Suara Muhammadiyah-Paradigma yang mempertentangkan agama dan sains sudah tidak relevan. Ada banyak argumen yang menunjukkan perlunya paradigma integrasi keilmuan. Dalam prakteknya, diperlukan penyempurnaan konsep dan penerjemahan kurikulum integrasi ini.

“Argumen normatif teologis bahwa Islam dan sains itu melekat dan organik. Argumen historis bahwa pada abad klasik umat islam memberi konstribusi positif bagi perkembangan ilmu pengetahuan,” ungkap Wakil Rektor Universitas Muhammadiyah Malang Prof Syamsul Arifin, dalam Rakornas Bidang AIK PTMA yang diselenggarakan Majelis Diktilitbang PP Muhammadiyah, di Yogyakarta, 19 Oktober 2019.

Menurutnya, ada beberapa pandangan mendasar Muhammadiyah mengenai pendidikan. Pertama, mendidik manusia memiliki kesadaran ketuhanan (spiritual makrifat). Tuhan sebagai realitas abadi yang senantiasa mengawasi, sesuai dengan konsep takwa menurut Muhammad Assad.

Kedua, membentuk manusia yang berkemajuan yang memiliki etos tajdid, berpikir cerdas, alternatif, dan berwawasan luas. Ketiga, mengembangkan potensi manusia berjiwa mandiri beretos kerja keras, wirausaha, kompetitif, dan jujur.

Keempat, membina peserta didik agar menjadi manusia yang memiliki kecakapan hidup dan ketrampilan sosial, teknologi, informasi, dan komunikasi.

Kelima, membimbing peserta didik agar menjadi manusia yang memiliki jiwa, kemampuan menciptakan dan mengapresiasi karya-karya seni budaya.

Keenam, membentuk kader persyarikatan, umat, dan bangsa yang ikhlas, peka, peduli, dan bertanggung jawab terhadap kemanusiaan dan lingkungan

“Integrasi AIK dalam perkuliahan non-AIK adalah menjadikan Islam sebagai sumber inspirasi dan motivasi pengembangan ilmu pengetahuan,” ujarnya. Sumber inspirasi adalah Al-Qur’an, Hadis, dan Sejarah.

AIK berposisi sebagai nilai. Integrasi kesadaran nilai dalam kurikulum, menurutnya, punya beberapa tingkatan: the lesson though, through other subject areas, hidden curriculum, external factors.

Nilai tidak diajarkan, tapi ditangkap. Perguruan Tinggi Muhammadiyah harus bisa membangun atmosfer berbasis nilai yang melekat. “Dosen harus menjadi inspirator. Inspirator itu bahkan tanpa bicara pun bisa menggerakkan. Berbeda dengan motivator yang hanya menyusun kata-kata tapi do nothing.”

Pendidikan itu, kata Syamsul, menghasilkan manusia yang baik. Menggunakan konsep ta’dib, bukan tarbiyah. Dimulai dari konsep yang menjadi integral values. (ribas)