Berita

SM: Kesadaran Melawan Hoax Juga Harus dari Kekuasaan

Dialog Publik Chapter  Bandung (Dok SM)
Dialog Publik Chapter Bandung (Dok SM)

BANDUNG, Suara Muhammadiyah – Ancaman terkait informasi Hoax masih terus menjadi masalah bagi bangsa ini. Walaupun masyarakat sering menjadi bagian yang memviralkan informasi-informasi Hoax, namun tidak kalah pentingnya, perlawanan terhadap informasi hoax juga diarahkan kepada platfrom-platform media sosial maupun pemilik kekuasaan.

Demikian pengantar Dialog Publik Oleh Suara Muhammadiyah (SM) yang disampaikan Deni Asyari selaku Direktur Suara Muhammadiyah, di Hotel Fox Harris, Bandung, Rabu (6/11).

Menurut Deni Asyari, kegiatan dialog literasi yang sudah berjalan 6 kali putaran di berbagai kota, lebih banyak ditujukan untuk membangun kesadaran literasi bagi masyarakat maupun mahasiswa. Namun ke depan, perlu juga untuk menangani platform-platform media online maupun pemilik kekuasaan yang memproduksi konten-konten hoax.

Deni mencontohkan berita hoax terkait prof Din Syamsuddin yang terlibat pendanaan teroris yang viral melalui berbagai media online.

“Belakangan muncul berita viral, yang mengaitkan Prof Din Syamsudin sebagai bagian dari 119 orang yang dituduh teroris, padahal berita ini sudah pernah muncul tahun 2014, dan sudah dibantah karena jelas-jelas Hoax dan bohong. Namun anehnya, kenapa berita itu, muncul dan viral kembali di tahun ini? Tentu ada kepentingan dan kekuasaan yang memiliki komoditas tertentu,” ungkap Deni.

Oleh karenanya Suara Muhammadiyah berharap, orientasi kesadaran literasi tidak hanya bagi masyarakat, namun juga bagi pemilik platform media sosial dan pemilik kekuasaan.

Deni Asy'ari dalam Dialog Publik Chapter  Bandung (Dok SM)
Deni Asy’ari dalam Dialog Publik Chapter Bandung (Dok SM)

Senada dengan itu, Henri Subiakto, Staf Ahli Kemkominfo, menuturkan bahwa informasi hoax merupakan sebuah komoditas politik. Di negara mana saja, Hoax ini tetap ada, karena bagian dari Komoditas politik.

“Jadi Hoax bukan sesuatu yang tidak disengaja, melainkan sesuatu yang didesain untuk kepentingan politik tertentu, maka oleh karena itu, masyarakat jangan gampang dan mudah terpengaruh ikut serta menjadi bagian penyebar berita bohong,” ungkapnya.

Lebih lanjut Hendri mencontohkan, politik di Amerika, dengan kemenangan Donald Trump, tidak lepas dari hasil strategi produksi hoax yang disebarkan ke masyarakat Amerika. Salah satu hoax yang disebarkan adalah ancaman komunitas muslim bagi Amerika. Oleh karena, Henri berharap, masyarakat bijak dan terus rukun dalam menggunakan media sosial.

Dalam kegiatan ini, hadir juga pembicara Heri Ruslan dari Republika dan Co-Founder Peace Generation Irfan Amalee. Kegiatan diinisiasi oleh Suara Muhammadiyah dan Kemkominfo RI ini juga dihadiri berbagai kelompok masyarakat, Perguruan Tinggi dan Ormas se wilayah Bandung, Jawa Barat. (Red/fit)