Berita

Kiprah Pahlawan Nasional Prof KH Kahar Muzakkir

Putri dan cucu Prof Abdul Kahar Mudzakkir usai menerima piagam Pahlawan Nasional dari Presiden Jokowi (Dok Ist/SM)
Putri dan cucu Prof Abdul Kahar Mudzakkir usai menerima piagam Pahlawan Nasional dari Presiden Jokowi (Dok Ist/SM)

JAKARTA, Suara Muhammadiyah – Akhirnya Presiden Republik Indonesia Joko Widodo mengaugerahkan gelar Pahlawan Nasional kepada Prof KH Abdul Kahar Muzakkir. Penganugerahan tersebut disematkan Presiden Joko Widodo kepada para ahli waris di Istana Negara, Jakarta, pada Jumat (8/10).

Pengajuan gelar pahlawan untuk Prof KH Abdul Kahar Muzakkir sudah berlangsung cukup lama. Hingga pada Penganuganugerahan gelar Pahlawan Nasional tahun 2019 ini terwujud kepada sejumlah tokoh yang dianggap berjasa kepada bangsa dan negara.

Prof KH Abdul Kahar Muzakkir lahir di Yogyakarta tahun 1908 sangat berperanan penting sebagai tokoh perintis kemerdekaan. Beliau terlibat aktif anggota Badan Penyelidik Usaha Persiapan  Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI), sekaligus juga masuk pada panitia Sembilan perumusan pembukaan UUD 1945. Serta menjadi salah satu tokoh dari 9 penandatangan Piagam Jakarta 22 Juni 1945.

Selain itu Prof KH Abdul Kahar Muzakkir juga merupakan salah satu pendiri dan rektor pertama Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta. Sebagai cendekiawan muslim dan pejuang nasional yang merupakan lulusan Al-Azhar Mesir, Prof KH Abdul Kahar Muzakkir memelopori dukungan dari negara-negara Islam khususnya di Timur Tengah, sehingga perannya untuk pengakuan Indonesia merdeka sangatlah penting.

Kiprah Prof KH Abdul Kahar Muzakkir di Muhammadiyah tercatat beberapa kali menjadi Anggota PP Muhammadiyah dari tahun 1942 – 1962. Sebagai seorang tokoh Muhammadiyah Prof KH Abdul Kahar Muzakkir termasuk salah seorang pemrakarsa berdirinya Akademi Tabligh Muhammadiyah Yogyakarta, cikal bakal Fakultas Agama Islam Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY).

Piagam Prof Abdul Kahar Muzakkir usai menerima piagam Pahlawan Nasional (Dok Ist/SM)
Piagam Prof Abdul Kahar Muzakkir usai menerima piagam Pahlawan Nasional (Dok Ist/SM)

Dalam Muktamar Muhammadiyah Setengah Abad atau Muktamar ke-35 tahun 1962 di Jakarta, Prof KH Abdul Kahar Muzakkir menyampaikan gagasan tentang pentingnya perguruan tinggi bagi kaum perempuan. Ide Pak Kahar tersebut akhirnya menjadi nyata dengan didirikannya Universitas Aisyiyah (UNISA) Yogyakarta sebagai salah satu universitas kebanggakan persyarikatan.

Ada enam tokoh bangsa pada acara Penganugerahan Gelar Pahlawan Nasional Tahun 2019. Tiga diantaranya adalah anggota Badan Penyelidik Usaha Persiapan  Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI)/Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) tersisa yang belum dapat gelar pahlawan yaitu Prof KH Abdul Kahar Muzakkir, Alexander Andries Maramis , dan KH Masykur.

Kemudian tiga tokoh lainnya adalah Rohana Kudus (tokoh di bidang pendidikan dan jurnalis perempuan dari Koto Gadang, Sumatera Barat, Sultan Himayatuddin Muhammad Saidi (sultan dari Sulawesi Tenggara yang berjasa melawan penjajahan Belanda), dan Prof Dr M Sardjito (dokter yang juga sangat berjasanya di bidang pendidikan dan Rektor pertama Universitas Gadjah Mada).

Sekretari Umum PP Muhammadiyah Dr Abdul Mu’ti MEd turut bersyukur atas gelar Pahlawan Nasional kepada Prof KH Abdul Kahar Muzakkir. Menurutnya empat tokoh dan kader Muhammadiyah yang berjasa dalam perumusan dasar negara Pancasila telah resmi mendapatkan gelar Pahlawan Nasional. Mereka adalah Ir Soekarno, Ki Bagus Hadikusumo, Mr Kasman Singodimedjo, dan Prof KH Kahar Muzakkir.

“Peran dan kiprah mereka adalah satu sumbangan dan jasa Muhammadiyah untuk bangsa dan negara. Jangan sekali-kali melupakan sejarah,” ungkapnya. (Riz)