Ingin Mengasuh Putri dengan Tepat

Ilustrasi

Assalamu’alaikum wr wb.

Bu Emmy yth., saya (28 tahun) ibu dari seorang putri (4 tahun). Saya dari keluarga yang ada garis keturunan ningrat. Jadi agak feodal. Saya dulu merasa terkekang, apa-apa dilarang. Padahal, saya punya banyak keinginan untuk aktif di sekolah atau di kampung. Tapi, tidak boleh. Saya tidak ingin pengalaman saya dialami oleh anak saya. Maka, saya mohon saran dari ibu bagaimana cara mengasuh yang tepat untuk si putri. Supaya ia bisa bebas berekspresi tapi tetap mengerti aturan. Atas jawabannya terima kasih.

Wassalamu’alaikum wr wb.

Dea, di Jogja

Wa’alaikumsalam wr wb.

Ibu Dea yang baik, memang pola pengasuhan orang tua mempunyai sumbangan besar bagi terbentuknya kepribadian anaknya. Bila cara pengasuhannya tepat, maka ia akan menjadi pribadi yang mandiri dan peduli. Si Kecil juga akan lebih mudah diajak kerja sama dalam setiap tahap perkembangannya.

Sebuah penelitian menunjukkan, anak usia 5 tahun, ketika diberi tantangan suatu tugas yang tidak masuk akal mau mencoba sebanyak 16 kali. Pada usia 11 tahun, anak masih mau mencoba sebanyak 6-7 kali, sedang anak usia 16 tahun ia sudah tida mau mencoba. Artinya, sebetulnya anak terlahir untuk berani mencoba, kreatif, inovatif, tidak mudah menyerah dsb. Pola asuh yang tidak tepat bisa mengerdilkan kemampuan alamiah ini.

Salah satu penghalang kreativitas anak adalah pola asuh otoriter atau yang terlalu melindungi. Pola asuh ini biasanya orang tua sering melakukan larangan atau mengobral kata “jangan”. Sedikit-sedikit berteriak “jangan”. Sebetulnya, larangan, batasan atau aturan tetap penting bagi anak. Karena, anak yang hidup tanpa aturan, pasti akan mengalami kesulitan dalam hidupnya. Yang dibutuhkan adalah batasan atau aturan yang tida otoritatif.

Orang tua juga harus konsisten. Begitu bilang tidak, harus tetap tidak. Ketika orang tua tida konsisten anak akan sulit lagi diberi batasan. Yang perlu diingat jangan asal melarang tanpa tahu batasan. Berikut ini hal-hal yang bisa dilakukan orang tua agar orang tua bisa terhindar untuk mengobral kata “jangan”.

Beri aturan ketat. Anak yang dibimbing dengan ketat (diberi aturan ketat) pasti akan lebih enak diajak bekerjasama dalam hidup dan ke depannya akan lebih nyaman dengan dirinya. Nanti semakin anak besar dan sudah memiliki tanggung jawab, semakin dilonggarkan aturannya.

Membuat tiga zona. Untuk menghadirkan keamanan dan rasa nyaman anak sehari-hari buatlah batasan perilaku anak ke dalam 3 zona.

  1. Zona hijau: untuk perilaku yang bebas dilakukan anak tanpa sidikitpun mendapat larangan orang tua karena berada dalam zona aman yang tidak membahayakan fisik dan psikis.
  2. Zona kuning: untuk perilaku yang mesti mendapat pengawasan orang tua atau dewasa lain saat anak melakukannya. Karena, zona ini tidak sepenuhnya aman untuk anak. Maka, tidak ada salahnya sesekali mengingatkan dengan kata “hati-hati ya, nak”.
  3. Zona merah: untuk perilaku yang terlarang buat anak karena membahayakan fisik dan psikis anak. Contah, ketika balita diajak ke mall. Atau contoh lain, tidak membiarkan anak bersentuhan dengan rokok, alkohol dan napza apapun alasannya.

Di zona ini orang tua harus memberikan larangan dengan tegas. Boleh dengan kata, “Awas ini tidak aman untuk kamu.” Atau “Kamu tidak boleh melakukannya, ini terlalu berbahaya untuk kamu.” Pembagian zona ini disesuaikan dengan umur si anak. Semakin besar umur anak semakin besar pula zona hijau yang siap diberikan untuknya.

Ubah lingkungan. Jika masih ada batita/balita di rumah, lebih aman jika semua perabot kristal dan barang pecah belah disingkirkan dari jangkauan anak. Beri kunci pengaman untuk tangga, stop kontak listrik dll. Ini memungkinkan anak memiliki ruang gerak yang aman, jauh dari larangan.

Siapkan anak sebelum berada dalam suatu kondisi. Contoh, untuk menghindari konflik saat di mal. Sisihkan waktu untuk mengatakan sesaat sebelum mengajaknya belanja. “Nanti sore ibu mau ajak kamu ke mal. Kamu perlu sepatu baru dan tas. Bukan beli mainan. Mengerti? Kita tidak beli mainan ya.”

Bila anak sudah sepakat kok anak berubah pikiran, maka saatnya ibu menegakkan wibawa dengan menolak permintaannya tanpa kompromi. Bila “tantrum” atau mengamuk segera angkat anak dan bawa pulang. Di rumah saat tantrumnya sudah terlewati ajaklah bicara tentang hal ini.

Dengan demikian insya Allah orang tua dan anak ke depannya bisa nyaman bekerja sama.

Kami membuka rubrik tanya jawab masalah keluarga. Pembaca bisa mengutarakan persoalan dengan mengajukan pertanyaan. Pengasuh rubrik ini, Emmy Wahyuni, SPsi. seorang pakar psikologi, dengan senang hati akan menjawabnya

Tulisan ini pernah dimuat di Majalah SM Edisi 19 Tahun 2018