Diskusi Perkaderan (Dok nu/SM)
Diskusi Perkaderan (Dok nu/SM)
Berita

Kader Muhammadiyah dan Pilar Peradaban

YOGYAKARTA, Suara Muhammadiyah – Majelis Pendidikan Kader Pimpinan Pusat Muhammadiyah mengadakan Diskusi Perkaderan Muhammadiyah diselenggarakan di Kantor Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Yogyakarta, Rabu (20/11). Menghadirkan narasumber Prof Dr Din Syamsuddin, MA. dan Dr Untung Cahyono, MHum, dengan moderator Muhammad Aziz, ST, MCs.

Diskusi ini merupakan agenda Rutin Kader MPK PP Muhammadiyah. Peserta diskusi dibatasi hanya untuk 150 orang pendaftar pertama yang merupakan kader nasional Muhammadiyah dari seluruh negeri.

Sambutan pada kesempatan tersebut disampaikan oleh Asep Purnama Bahtiar, M.Si., Wakil Ketua MPK PP Muhammadiyah. Ia memberikan apresiasi dan mengucapkan terima kasih kepada Prof Din sebagai Ketua Ranting Muhammadiyah Pondok Labu yang telah menyempatkan diri menghadiri diskusi ini di sela-sela kesibukannya.

Ia berharap, kegiatan ini dapat meningkatkan semangat kader dalam memetakan diri sebagai kader Muhammadiyah yang berkiprah di masyarakat dan mengawal Indonesia menjadi negara yang berkemajuan.

Menurut Din Syamsuddin, ada tiga pilar peradaban yang harus diketahui. Pertama, tauhid. Tauhid dipahami seperti dalam paradigma Faruqian, mengandung arti ,”kemenyatuan penciptaan” (unity of creation), “kemenyatuan keberadaan” (unity of existence), dan kemenyatuan ilmu-pengetahuan (unity of knowledge).

Kedua adalah khilafah. Khilafah sebagai ajaran al-Qur’an yang sentral dipahami sebagai misi suci (mission d-atre) kemanusiaan sebagai wakil Tuhan di bumi. Khilafah, dalam hal ini, tidak tereduksi dalam wawasan sempit ala Nabhani atau Maududi yang menekankan hanya salah satu aspek utama yaitu politik kekuasaan, tapi dalam spektrum luas yang meliputi seluruh cultural universals (aspek-aspek kebudayaan) sebagai piranti lunak dan peradaban itu sendiri sebagai piranti kerasnya.

Yang ketiga adalah islah, yang disebut al-Qur’an sebagai tugas utama umat manusia, yakni melakukan pembangunan peradaban (modernisasi) dan perbaikan jika peradaban itu terusakkan (restorasi dan rekonstruksi). Islah, dalam hal ini, perlu menampilkan dua jalan utama, yaitu “jalan tengahan” (wasathiyah) dan “jalan kemajuan” (‘ashriyah). Peradaban Islam masa lalu dan masa depan perlu bertumpu pada tiga pilar ini, yakni Tauhid sebagai fondasi, Khilafah sebagai faktor instrumental, dan Islah sebagai langkah operasional.(mrr/nu)