obrolan_cendekia
Istanah Sulaiman
Kisah

Nabi Sulaiman AS (6)

Oleh Yunahar Ilyas

Siapakah orang  yang mampu memindahkan singgasana Ratu Balqis ke istana Sulaiman dalam sekejap mata? Al-Qur’an tidak menyebut namanya, yang jelas dia bukan dari bangsa jin, tapi dari dari bangsa manusia,  seorang yang mempunyai ilmu dari AI Kitab. Maksudnya kitab suci yang diturunkan sebelumnya yaitu Taurat dan Zabur. Siapakah dia? Ibn Katsir dalam Kitab Tafsirnya (10: 408) menyebutkan beberapa nama yang bersumber dari beberapa riwayat. Menurut Ibn Abbas, Qatadah dan ad-Dhahhak,  namanya Ashif ibn Burkhiya’, sekretaris Nabi Sulaiman  AS. Menurut Mujahid namanya Asthum. Menurut Zuhair ibn Muhammad namanya Zun Nur. Menurut Abdullah ibn Luhaiah laki-laki itu adalah Khidhir, tapi yang terakhir ini dikomentari oleh Ibn Katsir sebagai pendapat yang aneh sekali (gharîb jiddan).

Siapapun namanya tidak terlalu penting, yang jelas dia bukan bangsa jin tapi dari bangsa manusia. Hal ini penting kita garisbawahi bahwa bangsa manusia tetap lebih unggul dari bangsa jin. Yang perlu juga digarisbawahi adalah bahwa orang tersebut memiliki kemampuan itu karena ilmu yang dia pelajari dari al-Kitab. Artinya dia mendapatkan ilmu yang bersumber dari Allah SWT. Peristiwa ini juga mengingatkan kita akan pentingnya kecepatan dalam teknologi. Jin Ifrit punya kemampunan memindahkan singgasana Balqis dengan cepat, yaitu dari duduk menjadi berdiri. Laki-laki berilmu itu mampu memindahkannya dengan lebih cepat yaitu sekejab mata. Meminjam bahasa Ibn ‘Asyur sebagaimana dikutip oleh  Qurash Shihab dalam Tafsir Al-Mishbah (10: 227), ini adalah simbol pertandingan antara cepat dan lebih cepat.

Rekor kecepatan memindahkan benda dalam sekejap mata itu belum bisa dipecahkan oleh teknologi manusia sampai abad ini. Yang sudah bisa ditransfer dalam sekejap mata dengan teknologi komunikasi sekarang ini baru suara, tulisan, photo dan video atau film. Memindahkan barang, benda apalagi singgasana masih memerlukan waktu yang relatif lama.

Ratu Balqis datang ke Istana Sulaiman

Sebelum Ratu Balqis sampai di istana, Nabi Sulaiman perintahkan kepada anak buahnya untuk sedikit merobah penampilan singgasana Ratu Balqis, untuk menguji kecerdasan dan ketelitian Sang Ratu. Dia yang tiap hari bertahta di atas singgasana itu apakah benar-benar mengenal singgasananya dengan detail. Kalau dia teliti tentu dia akan tetap mengenalnya walaupun pada beberapa bagian sudah dirobah.

Baru saja Ratu Balqis sampai, tanpa menunggu istirahat terlebih dahulu, Sulaiman sudah menodongnya dengan pertanyaan, apakah seperti ini singgasana Anda? Pertanyaannya bukan apakah ini singgasana Anda, karena pertanyaan seperti ini tentu agak ganjil, karena jelas singgasana Ratu Balqis ada di istananya di Saba’, di negeri Yaman. Juga pertanyaan model kedua ini akan membuat Ratu Balqis curiga. Ratu Balqis datang dengan pengetahuan dan keyakinan bahwa singgasananya tersimpan aman dalam peti yang dikunci tujuh lapis dalam istananya di Saba’. Ditodong dengan pertanyaan seperti itu,  Ratu Balqis menjawab singkat “Seakan-akan singgasana ini singgasanaku.”

Rupanya Ratu Balqis tetap mengenali singgasananya walaupun sedikit sudah dirobah penampilannya. Jawaban ini menunjukkan kecerdasan dan ketelitian Ratu Balqis. Tentu dia mulai berpikir, bagaimana singgasananya bisa sampai di istana Sulaiman, padahal berada dalam jarak yang sangat jauh. Kejadian ini tambah meyakinkan Ratu akan kehebatan Raja Sulaiman yang pernah dia dengar sebelumnya, yang menjadi sebab Ratu mau datang memenuhi kehendak Sulaiman. Ratu tambah yakin Sulaiman bukanlah hanya seorang Raja yang ingin memperluas wilayah kekuasaannya, tetapi juga seorang Nabi yang dapat mukjizat dari Allah SWT. Allah SWT berfirman:

قَالَ نَكِّرُواْ لَهَا عَرۡشَهَا نَنظُرۡ أَتَهۡتَدِيٓ أَمۡ تَكُونُ مِنَ ٱلَّذِينَ لَا يَهۡتَدُونَ ٤١ فَلَمَّا جَآءَتۡ قِيلَ أَهَٰكَذَا عَرۡشُكِۖ قَالَتۡ كَأَنَّهُۥ هُوَۚ وَأُوتِينَا ٱلۡعِلۡمَ مِن قَبۡلِهَا وَكُنَّا مُسۡلِمِينَ ٤٢  

Dia berkata: “Robahlah baginya singgasananya; Maka kita akan melihat Apakah dia mengenal ataukah dia termasuk orang-orang yang tidak mengenal(nya)”. Dan ketika Balqis datang, ditanyakanlah kepadanya: “Serupa inikah singgasanamu?” Dia menjawab: “Seakan-akan singgasana ini singgasanaku, kami telah diberi pengetahuan sebelumnya dan kami adalah orang-orang yang berserah diri”. (Q.S. An-Naml 27: 41-42)

Tentang ungkapan akhir dalam ayat di atas: “kami telah diberi pengetahuan sebelumnya dan kami adalah orang-orang yang berserah diri”, para mufasir berbeda pendapat memahaminya, apakah itu masih bagian dari ucapan Ratu Balqis seperti dalam terjemahan di atas, atau ucapan Nabi Sulaiman. Jika itu ungkapan dari Sulaiman, maka maksudnya adalah setelah Ratu Balqis kagum dengan kehebatan Sulaiman maka dia mengakui keesaan Allah SWT dan mengakui Sulaiman sebagai utusan-Nya lalu dia memeluk agama yang dianut oleh Nabi Sulaiman. Mengomentari hal itu Nabi Sulaiman mengatakan bahwa dia telah diberi ilmu sebelum Ratu Balqis diberi ilmu dan kami telah memeluk Islam sebelum mereka menyerahkan diri kepada Allah.

Sepertinya lebih tepat kalau bagian akhir itu adalah ucapan Ratu Balqis yang mendapat konfirmasi akan kehebatan Raja Sulaiman seperti yang sudah dia dengar sebelumnya. Tidak salah kalau kemudian dia datang memenuhi keinginan Raja Sulaiman.

Selama ini Ratu Balqis meyakini alamlah yang berkuasa, alamlah yang dianggapnya tuhan yang memberikan manfaat dan mudharat dalam kehidupannya, sehinga dia dan para pengikutnya menyembah matahari. Keyakinan inilah yang menghalanginya selama ini untuk menyembah Allah SWT. Sekarang dia yakin akan kekuasaan dan keesaan Allah SWT, Tuhan semesta alam, yang  mencipta, mengatur dan menguasai alam seluruhnya. Allah SWT berfirman:

وَصَدَّهَا مَا كَانَت تَّعۡبُدُ مِن دُونِ ٱللَّهِۖ إِنَّهَا كَانَتۡ مِن قَوۡمٖ كَٰفِرِينَ ٤٣  

Dan apa yang disembahnya selama ini selain Allah, mencegahnya (untuk melahirkan keislamannya), karena sesungguhnya dia dahulunya termasuk orang-orang yang kafir.” (Q.S. An-Naml 27: 43)

Setelah diperlihatkan dan ditanya tentang singgasana itu, Ratu Balqis dipersilahkan memasuki ruang dalam dari istana Sulaiman. Ratu Balqis melihat lantai istana Sulaiman adalah kolam yang ada airnya, sehingga spontan dia mengangkat kainnya sehinga kelihatan kedua betisnya. Sebenarnya lantai istana Sulaiman terdiri dari kaca kuat yang sangat bening, di bawahnya ada kolam air dengan ikan-ikan yang berenang di dalamnya. Lantai seperti itulah yang dikira kolam oleh Sang Ratu. Allah SWT berfirman:

قِيلَ لَهَا ٱدۡخُلِي ٱلصَّرۡحَۖ فَلَمَّا رَأَتۡهُ حَسِبَتۡهُ لُجَّةٗ وَكَشَفَتۡ عَن سَاقَيۡهَاۚ قَالَ إِنَّهُۥ صَرۡحٞ مُّمَرَّدٞ مِّن قَوَارِيرَۗ قَالَتۡ رَبِّ إِنِّي ظَلَمۡتُ نَفۡسِي وَأَسۡلَمۡتُ مَعَ سُلَيۡمَٰنَ لِلَّهِ رَبِّ ٱلۡعَٰلَمِينَ ٤٤

“Dikatakan kepadanya: “Masuklah ke dalam istana”. Maka tatkala dia melihat lantai istana itu, dikiranya kolam air yang besar, dan disingkapkannya kedua betisnya. berkatalah Sulaiman: “Sesungguhnya ia adalah istana licin terbuat dari kaca”. berkatalah Balqis: “Ya Tuhanku, Sesungguhnya aku telah berbuat zalim terhadap diriku dan aku berserah diri bersama Sulaiman kepada Allah, Tuhan semesta alam”. (Q.S. An-Naml 27: 44)

Ratu Balqis sangat malu dengan apa yang telah dilakukannya mengangkat kain sehingga terlihat kedua betisnya, tadinya dia benar-benar yakin itu adalah kolam yang penuh berisi air walaupun tidak dalam. Ratu menyadari betapa kecilnya dia di hadapan Sulaiman, apalagi dihadapan Allah SWT Tuhan semesta alam. Ratu dengan penuh kerendahan hati menyatakan: “Ya Tuhanku, Sesungguhnya aku telah berbuat zalim terhadap diriku dan aku berserah diri bersama Sulaiman kepada Allah, Tuhan semesta alam”. (bersambung)