Ilustrasi GI
Ilustrasi GI
Wawasan

Pemuda di Antara Senja dan Fajar

Oleh: Faisal Agha Farseen

Dekadensi moral selalu tak lepas dari kawula muda sebagai sorotan, subjek utama, dan dipakai sebagai tolak ukur. Tatkala menekan tombol remote TV, kita disuguhi dengan bagaimana turunnya moral generasi kini, lalu menjadi miris dan kemudian pesimis akan masa depan.

Dulu, sebuah komunitas merupakan suatu kesatuan yang sama-sama menuju kepada kebaikan. Banyak kebejatan moral yang dahulu sangat tabu, kini dianggap sesuatu yang lumrah, sehingga moral dulu dan kini standarnya sudah terdegradasi. Perilaku tak beradab yang mengatasnamakan kemajuan peradaban, menanggalkan sisi kemanusian manusia, menjurus kepada eksporasi kebebasan manusia secara frontal, pemenuhan hawa nafsu, dan keserakahan.

Agama sebagai aturan berkehidupan sudah diabaikan dan dipisahkan dari kehidupan, hukum sebagai aturan bermasyarakat tak dihiraukan asal bisa berkelit dan terlepas dari jerat hukum. Isu dekadensi moral menjadi sesuatu yang kontroversial karena telah hilangnya kesadaran moral.

Kembali yang disalahkan adalah pengaruh negatif arus globalisasi, pengaruh pola hidup materialisme, konsumerisme, hedonisme, sekularisme. Ditambah acuhnya para orangtua, lingkungan masyarakat, pemangku adat, pejabat, ulama, dan negara. Nyatanya kini lembaga pendidikan menjadi bisnis, pendidikanpun hanya sebagai transfer pengetahuan (knowledge) bukan transfer nilai budi pekerti (value) sehingga hanya otak yang penuh informasi, sementara pendidikan karakter dikesampingkan.

Tontonan sepele kini menjadi tuntunan, dan yang seharusnya jadi tuntunan malah jadi tontonan sepele.

Mendeskripsikan masalah dan penyebabnya tanpa mengemukakan solusi itu sama saja dengan hanya mengeluh, dan manusia yang pada kodratnya pandai mengeluh (Qs Al-Maarij;19) dan kemudian menyalahkan zaman. Padahal setan pun tidak mempunyai kuasa untuk memaksa kehendak bebas manusia yang tercerahkan dengan iman (Qs Al-Isra`;3). Di sisi lain, generasi yang dikeluhkan itu nyatanya adalah produk dan hasil pendidikan generasi sebelumnya. Kita sepakat bahwa Islam merupakan solusi absolut problematika kehidupan. Namun solusi tak akan efektif jika tidak dilaksanakan seperti seharusnya.

Menjadi pemuda adalah masa di mana manusia mencari peran dan jati dirinya di kehidupan, dan akhinya memilih peran yang bermanfaat, atau menjadi generasi dzurriyatan dhi’afan yaitu suatu generasi yang lemah iman, ekonomi, fisik, mental, serta menjadi beban hidup orang lain (Qs An-nisa: 9).

Di penghujung permainan catur, pion menjadi sesuatu yang berharga. Ia memang hanya bisa bergerak selangkah, tapi ia terus maju! Ia pun memiliki sesuatu yang tidak dimiliki bidak lainya; potensi. Karena saat ia berhasil mencapai baris akhir lawan, ia bisa menjadi bidak apa saja. Pemuda adalah wajah masa depan umat dan bukan hanya masalah, namun juga solusi.

Karena pemuda sebagai golongan masyarakat yang paling peka akan perubahan zaman dan di sisi lain juga memiliki potensi sebagai penggerak tren dan penentu arah masa depan.

Peluang dan tantangan derasnya zaman hanya dapat dihadapi dengan takwa sebagai pegangan hidup, bukan dengan diam berpangku tangan dan hanyut mengikuti selera zaman (Qs Al-Maidah:100). Pemuda jangan menjadi buih yang mengikuti arus zaman (HR At-Tirmidzi, no 5 ; Hr Ahmad, no 278). Terombang ambing terbawa arus yang berkiblat pada nafsu dan panutan yang keliru. Siapkah kita menjadi Muslim yang berkepribadian kuat dan mampu menentukan arus.

Dalam ilmu fisika, secepat apapun cahaya, saat ia sampai tujuan, kegelapan sudah ada di sana. Karena gelap adalah kondisi dasar semesta karena ketiadaan cahaya. Apakah kita hanya pengutuk kegelapan atau sudah menjadi insan yang memberi cahaya petunjuk jalan sebagaimana kerlip rasi bintang di malam yang gelap. Karena gelapnya bukan hanya tantangan tapi peluang. Pemuda mampu berperan di berbagai bidang yang ia tekuni.

Teknologi yang biasa dikambinghitamkan atas dekadensi moral justru jika dimanfaatkan dengan baik bisa menjadi salah satu upaya sistematis untuk monitoring, preventif, maupun intervensi penyimpangan perilaku immoral. Media sosial sebagai pengekspos atau bahkan memfasilitasi maksiat, hoaks, pengalihan isu dan pendidik an kriminal bisa juga menjadi media dakwah yang sangat efektif.

Hukum yang biasanya celahnya dimanfaatkan bisa diperkuat regulasi dan memilih (bahkan menjadi) pemangku kebijakan hukum yang baik. Pemerintah yang justru malah memberi teladan dan panutan yang meremehkan perilaku immoral jangan dicontoh. Lembaga pengadilan yang kotor ibarat sapu kotor dipaksa membersihkan lantai yang kotor. Dan tentunya pemuda selaku bagian dari penentu aktor pemerintah harus juga memiliki pendidikan moral yang baik agar pemerintah yang terpilihpun adalah benar benar orang yang terbaik bermoral tinggi.

Pembuat kartun anak bisa menyelipkan pesan akhlak yang baik. Penulis cerita bisa menyelipkan hikmah. Sutradara bisa menghasilkan film yang bermanfaat, mendidik, dan menginspirasi.

Pendakwah bisa menyelipkan humor agar mudah diterima jamaah. Designer baju agar membuat baju syar’i yang indah sehingga layak menjadi tren. Selebritis muda bisa berhenti mencari sensasi lebih fokus menghasilkan karya yang baik dan menjadi contoh panutan yang pantas. Yang di media massa bisa menghasilkan tontonan yang berfaedah. Orang tua muda mendidik dan membekali anaknya dengan baik.

Paling tidak kontribusi paling minimal yaitu berusaha menjaga diri sehingga menjadi contoh. Saling mengingatkan dan menjalankan kewajiban untuk mematuhi aturan Allah SwT dan aturan pemerintah yang berlaku, selagi itu untuk kebaikan. “Siapa saja yang melihat kemungkaran hendaknya ia mengubah dengan tangannya. Jika dengan tangan tidak mampu, hendaklah ia ubah dengan lisannya; dan jika dengan lisan tidak mampu maka ubahlah dengan hatinya; dan ini adalah selemah-lemah iman.” [HR. Muslim].

Dan yang terlihat seperti cahaya senja itu ternyata adalah cahaya fajar untuk hari depan.

Faisal Agha Farseen. Mahasiswa Magister of Science, International Islamic University of Islamabad Pakistan

Artikel ini adalah, adalah juara 1 Lomba Menulis Opini yang diadakan oleh PCIM Pakistan, telah dimuat di Majalah SM Edisi 23 Tahun 2018