Ka'bah
Ka'bah
Tafsir

Hikmah Diutusnya Rasul (2); Surat Al-Baqarah Ayat 213-214

Menurut Sayyid Quthub, (Sayid Quthb, Fī Zhilal al-Qur`ān, (Kairo: Dār al-Syurūq, cet ke-2, 2003), jilid I, hlm. 217) kata alkitāb, yang dalam ayat ini berbentuk mufrad (tunggal), mengindikasikan bahwa prinsipprinsip ajaran Allah yang dibawa oleh para nabi dan rasul itu serta yang tercantum dalam kitab-kitab yang diturunkan, pada hakikatnya sama sehingga seakan-akan ia hanya satu kitab. Semua nabi membawa ajaran tauhid, menyuruh kebaikan, dan mencegah kemunkaran.

Kitab yang diturunkan bersama diutusnya para nabi itu membawa ajaran yang dapat memberi jalan keluar terhadap persoalan-persoalan yang diperselisihkan di antara manusia apabila mereka mau menjadikan Kitab itu sebagai tuntunan. Allah akan memberi petunjuk atau jalan kebenaran melalui al-Kitab yang diturunkan bersama nabi kepada orang-orang yang beriman. Salah satu fungsi al-Kitab itu adalah untuk menyelesaikan berbagai persoalan yang mereka perselisihkan.

Perselisihan mereka pada umumnya disebabkan oleh kedengkian (al-baghyu) dan hawa nafsu yang melampaui batas dan seringkali menimbulkan berbagai konflik yang mengakibatkan berbagai tindak kekerasan bahkan peperangan.

Dalam kehidupan kita saat ini, banyak fakta menunjukkan bahwa masyarakat sebagai satu kesatuan sosial, sering mengalami konflik karena adanya berbagai kepentingan yang dalam pemenuhan kepentingan tersebut mengabaikan hak-hak orang lain, baik dalam pemenuhan kebutuhan yang bersifat materi maupun non-materi.

Hal ini sesuai dengan ayat sebelumnya, yang menjelaskan bahwa kehidupan dunia dijadikan indah bagi orang-orang kafir dan mereka meremehkaan orang-orang yang beriman. Orang-orang yang memandang kehidupan dunia sebagai tujuan utamanya cenderung bersikap dengki dan melampaui batas dalam mengejar kehidupan dunia. Hal inilah yang kemudian memunculkan perselisihan karena adanya berbagai kepentingan.

Di sisi lain, sebelum diutusnya nabi, manusia tidak mengetahui sepenuhnya bagaimana cara mereka memenuhi kebutuhan-kebutuhannya, tata cara berhubungan antara mereka, dan cara menyelesaikan perselisihan atau perbedaan pendapat yang mengakibatkan perpecahan di antara mereka.

Oleh karena itu, Allah menurunkan nabi yang bertugas menyampaikan berita gembira bagi siapa saja yang mematuhi perintah Allah, dan memberi peringatan bagi mereka yang mengingkari ketentuan Allah. Penyampaian kabar gembira dan peringatan berupa aturan-aturan yang disampaikan oleh para nabi dimaksudkan agar manusia dapat hidup secara teratur dan tertib sehingga mencapai kesejahteraan dan kebahagiaan.

Diutusnya para nabi ini terus berlanjut sepanjang hidup manusia sampai diutusnya nabi terakhir, yakni Nabi Muhammad saw. Sehubungan dengan itu, mematuhi perintah Nabi Muhammad saw merupakan suatu kewajiban supaya manusia memperoleh kebahagiaan dan kesejahteraan di dunia maupun di akhirat. Mayoritas ulama sepakat bahwa taat dan mengikuti (ittibâ›) nabi adalah suatu kewajiban.

Kesepakatan ulama tersebut didasarkan pada ayat-ayat Al-Qur’an dan hadis yang menunjukkan kewajiban taat baik kepada Allah maupun Rasul-Nya. (Al-Kandahlawi dalam kitabnya Hayāt al-Shahābah menunjukkan beberapa ayat AlQur’an dan hadis yang menjelaskan tentang taat kepada Allah dan Rasul-Nya.

Ayat-ayat alQur’an yang menjelaskan ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya antara lain surah al-A’raf ayat 157, surah al-Nisā’ ayat 59 dan 64, surah al-Anfāl ayat 20, 46, 1, surah Ali ‘Imran ayat 31, 32, surah al-Ahzab ayat 21, surah alHasyr ayat 7.

Untuk lebih jelasnya lihat Muhammad Yusuf alKandahlawi, Hayāt al-Shahābah Radliya Allāhu ‘Anhum wa Radlū ‘Anhu, bāb al-Āyāt alQur’āniyyah fî Thā’atillāhi wa Thā’ati Rasūlihi Shalla Allahu ‘alaihi wa Sallam, juz 1, (Beirut: Dar al-Fikr, 2002), hlm. 15-18.

Dalam pembahasan ini al-Kandahlawi memunculkan 18 ayat dalam surah yang berbeda yang menurutnya berisi tentang taat kepada Allah dan Rasul-Nya. Qādli ‘Iyādl juga mengemukakan ayat-ayat yang sama dalam kaitannya kewajiban ittiba’ dan taat terhadap Allah dan RasulNya. Lihat ‘Ali al-Qāriy, Syarh al-Syifā li al-Qādli ‘Iyādl, juz 2, (Beirut: Dār al-Kutub al-’Ilmiyyah, t.t.), hlm. 12-21).

Secara ringkas, ayat ini menginformasikan kepada manusia bahwa pada awalnya manusia merupakan satu komunitas yang solid, terikat satu dengan yang lain baik secara emosional, kultur maupun ideologi. Keutuhan komunitas ini kemudian pada perkembangan berikutnya menjadi terpecah karena adanya berbagai kepentingan yang dipenuhi dengan kedengkian dan hawa nafsu yang melampaui batas.

Pada kondisi ini Allah mengutus nabi yang bertugas memberi berita gembira dan peringatan bagi mereka yang beriman. Selain mengutus nabi, Allah juga menurunkan al-Kitab yang di dalamnya berisi berbagai petunjuk kebenaran untuk dijadikan acuan oleh mereka yang beriman dalam menyelesaikan berbagai masalah termasuk perselisihan yang diakibatkan oleh berbagai kepentingan yang melampaui batas.

Terkait dengan ayat ke-214 surah AlBaqarah di atas, terdapat sejumlah pendapat mengenai waktu turunnya ayat tersebut. Pertama, ayat tersebut turun ketika perang Khandaq yang penuh dengan penderitaan karena cuaca dingin dan panas. Kedua, ayat ini turun ketika perang Uhud. Ketiga, ayat ini turun ketika perang Ahzab yang pada waktu itu Nabi Muhammad saw beserta para sahabatnya dikepung oleh musuh sehingga mengalami penderitaan yang luar biasa. Keempat, ayat ini disampaikan kepada kaum Muhajirin ketika mereka meninggalkan tempat tinggal, keluarga dan harta bendanya untuk berhijrah demi menjalankan dan menegakkan ajaran Islam(At-Thabari, Jāmi’ul Bayān ‘an Ta’wīl Āyi Al-Qur`ān, (Kairo: Dar al-Hijr, 2001), Jilid 3, hlm. 636-637).

Ketika dalam kondisi penderitaan inilah kemudian para sahabat menanyakan kepada Nabi Muhammad saw tentang datangnya pertolongan Allah. Pertanyaan itu dijawab oleh Allah dalam ayat ini bahwa pertolongan Allah amatlah dekat.

Ayat ini menjelaskan kepada manusia bahwa Allah akan memberi ujian kepada hamba-Nya dengan berbagai ujian, baik berupa kesenangan maupun penderitaan, sebagaimana umat terdahulu. Menurut Al-Sa’di,(Al-Sa’di, Taisīr al-Karīm al-Rahmān Fī Tafsīr Kalām al-Manān, (Beirut: Mu`assasah Arrisalah, 2002), hlm. 96), ujian maupun cobaan ini merupakan suatu keniscayaan yang tidak berubah sampai kapan pun.

Ujian ini merupakan keniscayaan untuk meraih ketinggian derajat keimanan. Hal ini yang harus disadari sepenuhnya bagi orang-orang yang beriman, bahwa ujian itu tidak selamanya berupa kesengsaraan, tetapi dapat berupa kenikmatan duniawi yang dapat melenakan, seperti saat manusia bergelimang harta dan mendapat kesenangan materi. Sebagian orang menduga bahwa mereka dapat masuk surga tanpa melalui ujian terlebih dahulu. Mereka yang beranggapan seperti ini diperingatkan oleh Allah akan adanya ujian-ujian sebagaimana yang telah dialami oleh umat sebelumnya.

Pada saat ini, barangkali bentuk ujian kepada mereka yang menegakkan kebenaran bisa jadi tidak seberat umat-umat terdahulu. Akan tetapi, ujian itu tetap akan datang terutama bagi mereka yang berjuang menegakkan kebenaran. Mereka pasti senantiasa akan mengalami berbagai rintangan dan ujian yang dengan berbagai bentuknya, bahkan dalam bentuk ancaman kehilangan nyawa.

Hal ini harus disadari sepenuhnya bagi mereka yang memilih perjuangan sebagai jalan hidupnya. Sinyal akan adanya ujian ini kemudian disertai dengan kabar gembira bahwa pertolongan Allah sangat dekat apabila manusia mau minta pertolongan dan benar-benar berjuang untuk menegakkan ajaran-Nya, sebagaimana yang disebutkan dalam surah Al -‘Ankabut ayat 69:

QS Al Ankabut ayat 69

Orang-orang yang berjuang untuk (menegakkan ajaran) Kami, Kami akan tunjukkan kepada mereka jalan Kami. Sungguh Allah beserta orang-orang yang berbuat baik.

Dengan kesadaran penuh akan konsekuensi dari perjuangan dan ujian, maka seseorang menjadi tidak mudah berkeluh kesah dan putus asa ketika menghadapi ujian dan rintangan dalam hidupnya. Ayat ini sangat berkaitan dengan ayat sebelumnya, bahwa tugas diutusnya seorang Nabi adalah memberi berita gembira dan peringatan bagi orang-orang beriman. Hal ini terlihat ketika Nabi Muhammad memberi kabar gembira kepada para sahabat yang sedang gelisah menunggu pertolongan Allah, bahwa pertolongan Allah SwT sangatlah dekat.

Tafsir Tahlily ini disusun oleh Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat Muhammadiyah dengan naskah awal disusun oleh Dr Athiyatul Ulya

Tulisan ini pernah dimuat di Majalah SM Edisi 8-9 Tahun 2017