31.1 C
Yogyakarta
Senin, September 28, 2020

Suburnya Masjid dan Masa Depan Islam di Jepang

By Suara Muhammadiyah

- Advertisement -

Berita Terbaru

Mataf UMY, Haedar Nashir: Jadilah Cendekiawan Berintegritas

YOGYAKARTA, Suara Muhammadiyah - Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) menggelar kegiatan Masa Ta’aruf (Mataf) sebagai agenda yang wajib diikuti oleh para mahasiswa baru...

‘Aisyiyah Bangunjiwo Barat Gelar Cek Kesehatan Gratis

BANTUL, Suara Muhammadiyah - Ketua Pimpinan Ranting Muhammadiyah (PRM) Bangunjiwo Barat pada Ahad, 27 September 2020 membersamai ibu-ibu Pimpinan Ranting 'Aisyiyah (PRA)...

Pengkajian PDM Solok Bangkitkan Ghirah Bermuhammadiyah

SOLOK, Suara Muhammadiyah - Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kabupaten Solok melakukan pengkajian Muhammadiyah bagi PCM/PCA, organisasi otonom dan Amal Usaha, di MtsM Muhammadiyah,...

Lindungi Guru dari Covid-19, LLHPB ‘Aisyiyah Riau Bagikan 80 Paket APD

PEKANBARU, Suara Muhammadiyah - Lembaga Lingkungan Hidup dan Penanggulangan Bencana (LLHPB) pimpinan wilayah 'Aisyiyah (PWA) Riau pada Jumat (25/9/2020) pagi membagikan Alat...

Banjir Bandang Sukabumi, Muhammadiyah Bantu Warga berbasis Prokes

SUKABUMI, Suara Muhammadiyah– Satu pekan pasca banjir bandang yang menerjang Sukabumi, Muhammadiyah tetap taati aturan protokol kesehatan dalam memberikan bantuan pelayanan bagi...
- Advertisement -

Beberapa tahun terakhir ada peningkatan jumlah pelajar dan pekerja Muslim dari berbagai negara Islam yang datang ke Jepang. Bersamaan dengan itu, kini banyak masjid yang sedang di bangun di sejumlah daerah di Jepang.

Berdasarkan penelitian seorang profesor teori sosial Asia dari Fakultas Ilmu Pengetahuan Manusia Universitas Waseda, Hirofumi Tanada, pada 2018 terdapat 105 masjid di 36 prefektur di Jepang.

Dan Masjid pun bukan hanya sebagai tempat ibadah Muslim, melainkan juga sebagai tempat pelayanan bagi komunitas, bersosialisasi dan pendidikan. Lalu dengan semakin banyak masjid di Jepang, bagaimana umat Muslim bisa hidup berdampingan dengan masyarakat Jepang.

Suara azan shalat Jumat baru saja menggema di Islamic Research Center (IRC) Jepang. Masjid itu berada di lantai empat sebuah bangunan di pinggiran Yawata, Prefektur Kyoto.

Ada sebanyak 50 sampai 100 umat Muslim yang tinggal di wilayah itu. Ramzan Mirza (53 tahun) adalah Muslim yang membeli bangunan itu sepuluh tahun lalu. Setelah itu dia kemudian menggunakannya untuk masjid. Ramzan berasal dari Bangladesh. Dia telah tinggal di Jepang tiga dekade lalu.

Ramzan pun membuka usaha di sekitar banguan yang kini menjadi masjid. Di daerah itu, terdapat banyak perusahaan yang bergelut pada bisnis mobil bekas, dan secara bertahap kini semakin banyak umat Muslim dari berbagai negara menempati daerah itu.

“Bisnis saya telah stabil, jadi saya memutuskan ingin membuat ruang yang bisa membantu umat Islam di sini,” kata Ramzan seperti dilansir the Mainichi pada Selasa (3/12).

Sementara Muslim lainnya, Muhammad Ali (37 tahun), yang juga berasal dari Bangladesh telah tinggal di Jepang sejak enam tahun lalu. Ali juga bekerja di perusahaan penjualan mobil bekas di Kyoto.

“Saya pulang ke negara saya setahun sekali, sangat jauh dari istri dan anak-anak tapi saya merasa lebih tenang bisa datang ke tempat ini, dekat rumah saya,” katanya.

Khalid Sultan (30 tahun) juga bekerja di perusahaan yang sama. Ia berasal dari Suriah. Sultan datang ke Jepang tujuh tahun lalu bersama saudara laki-lakinya yang berusia 25 tahun. Keduanya melarikan diri ke Jepang lantaran konflik perang saudara di negaranya.

Sementara mayoritas keluarganya memilih tinggal di Turki. “Menyedihkan, tetapi saya tak bisa kembali ke negara saya. Namun bila saya bertemu dengan teman-teman saya di sini, masalah itu hilang,” kata Sultan.

Sebelum Masjid IRC Jepang dibuka, umat Muslim di wilayah itu harus naik kereta hampir dua jam untuk ke Masjid Muslim di Kobe tepatnya di kota Kobe Prefektur Hyogo.

Sementara Mirza pun berencana mendaftarkan Masjid IRC Yawata sebagai pusat keagamaan dan juga menjadikannya sebagai pusat penelitian Islam melalui kerjasama dengan Universitas Jepang.

Untuk diketahui, Masjid pertama yang berdiri di Jepang adalah Masjdi Muslim Kobe. Masjid ini didirikan pada 1935 oleh warga Turki dan India. Menurut penelitian profesor Tanada, hanya ada tiga masjid di Jepang pada akhir 1980-an.

Namun pada paruh dekade kedua, banyak orang-orang Muslim yang datang dari Iran, Pakistan, Bangladesh, dan lainnya datang ke Jepang. Ada yang menjadi buruh dan banyak juga yang bekerja di sektor bisnis konstruksi dan lainnya.

Setelah itu, ada gelombang kedatangan para trainer dan pekerja dari Indonesia dari 1990 dan 2000-an, bersamaan dengan itu terjadi peningkatan jumlah Masjid. Pada waktu itu jumlah pelajar dan yang mengikuti pelatihan  dari berbagai daerah mayoritas Muslim pun meningkat.

Tercatat pada 2014 hanya ada 80 masjid, jumlahnya melonjak pada 2018 menjadi 105 masjid. Dulu, kebanyakan Muslim yang datang dari berbagai negara itu berada di daerah pusat industri, seperti Tokyo, daerah metropolitan Chukyo di sekitar Nagoya di Prefektur Aichi, hingga Kansai. Namun baru-baru ini terjadi peningkatan jumlah Muslim terutama di kalangan mahasiswa yang tinggal di ibu kota prefektur.

Profesor Tanada memperkirakan ada sekitar 200 ribu Muslim tinggal di Jepang. Di mana 43 ribu diantaranya berkebangsaan Jepang termasuk mereka yang pindah agama untuk menikah dengan seorang Muslim.

Seperti Masjid terbesar di Jepang yakni Tokyo Camii di ibukota Shibuya Ward, tercatat ada sekitar 700 hingga 800 orang yang datang ke masjid itu untuk melakukan shalat Jumat. Jamaah berasal dari berbagai negara di Asia tenggara, Arab dan negara-negara Afrika. Masjid ini juga mempunyai kelas Alquran dan Arab.

“Orang-orang mukmin datang dari seluruh Kanto seperti halnya turis dari negara-negara Islam. Bagi umat Muslim, ini seperti tempat berlindung,” kata kepala Humas Muslim Jepang, Shigeru Shimoyama. (Andrian Saputra/Nashih Nashrullah)

Tulisan ini pernah dimuat republika online, mitra suaramuhammadiyah

- Advertisement -
- Advertisement -
- Advertisement -
- Advertisement -

More articles