Masjid Baitul Qohar Kotagede Foto Trisno Ady
Masjid Baitul Qohar Kotagede Foto Trisno Ady
Kolom

Muhammadiyah Mempercantik Kotagede

Catatan Mustofa W Hasyim

Pintu-pintu masuk Kotagede ‘dijaga’ oleh gedung Muhammadiyah. Misal mau masuk Kotagede lewat barat, lewat Tegalgendu, disini berdiri Masjid Baitul Qohhar yang sekaligus menjadi Kantor PCM Kotagede. Masjid ini cukup cantik, perpaduan arstitek lawas, berbau indis karena menyesuaikan dengan bangunan kuno di sekitarnya.

Pada tahun 1960an, tempat ini berupa pendapa dan gedung SD Muhamamdiyah Kleco 2. Karena Muhammadiyah itu merupakan keluarga besar yang satu, maka hampir setiap tahun, pada tahun-tahun itu, dipakai untuk acara kenaikan kelas dan tutup tahun murid-murid SD Muhammadiyah Bodon yang gedungnya sempit dan tidak punya pendapa.

Dari tempat ini ke timur, menyusuri jalan menurun, lewat jembatan kali Gajah Uwong, naik, ketemu dengan MTS dan MA Ma’had Islamy yang dulunya adalah PGAL Ma’had Islamy, yang dulunya lagi adalah Pesantren Ma’had Islamy yang didirikan oleh Kiai Amir, anggota Majelis Tarjih PP Muhammadiyah. Ke timur dikit, ada mulut gang, Bodon, kalau masuk gang akan ketemu SD Muhamamdiyah Bodon Kotagede yang berdiri tahun 1935. Sekolah ini melahirkan tokoh-tokoh Muhammadiyah kaliber nasional dan internasional seperti aktivis perdamaian dunia Habib Chirzin, Jenderal polisi Zainuri, dan ekonom perempuan nasional, Prof Dr Hendri Saparini.           .

Langsung ke timur lagi, akan ketemu dengan bekas Sekolah kapsul Muihammdiyah yang sekarang menjadi kompleks sekolah Masjid Perak, sekarang dipakai oleh SMA Muhamamdiyah IV Yogyakarta.

Inti kompleks gedung ini adalah Masjid Perak, masjid yang didirikan oleh penggerak Muhammadiyah periode awal yang kebanyakan pengusaha perak. Masjid ini dulu dikenal sebagai pusat kegiatan anak-anak muda pengajian Qomariyah, karena guru ngajinya adalah Kiai Abdullah Qomari bin Kiai Amat Idlhar. Sekarang PCM Kotagede dipimpin oleh alumni pengajian Qomariyah itu, yaitu Pak Darwinto Nawawi.

Kembali ke jembatan kali Gajah Uwong tadi, kalau naik lalu berbelok ke utara akan ketemu dengan makam Prof Dr Rasyidi, Menteri Agama pertama Republik Indonesia, yang tokoh nasional Muhammadiyah. Terus ke utara, ada Pondok Pesantren Fauzul Muslimin yang merupakan binaan Yayasan M’ahad Islamy yang didirikan oleh keluarga Kiai Amir. Terus ke keutara, ketimur melewati pinggir Lapangan Karang, akan ketemu dengan SD Muhammadiyah Kleco 1, yang berdiri tahun 1920an, dan Pak AR Fakhrudiin, Ketua Umum PP Muhammadiyah, pernah bersekolah disini. SD Muhamamdiyah ini pun banyak melahirkan tokoh-tokoh Muhammadiyah, bahkan tokoh NU ada yang ketika kecil sekolah disini, yaitu KH Abdul Muhaimin.

Menyusuri jalan depan SD Muhammadiyah Kleco, ke arah timur, mentok, akan ketemu RSIA PKU Muhammadiyah sebuah rumah sakit tua, dulu Balai Pengobatan, berdiri di tahun 20an, jauh sebelum Republik Indoensia ada dan berdiri. Rumah sakit bersalin ini menjadi pilihan seniman dan sastrawan Yogyakarta ketika isterinya melahirkan anaknya. Sebab suasana tenang, biaya terjangkau, dan bagi yang keluarga, mudah mendapatkan makanan dan minuman di malam hari. Tidak repot.

Dari depan PKU Kotagede, terus ke selatan, hampir sampai ujung jalan, akan ketemu dengan Musholla Aisyiyah Kotagede yang juga berdiri di tahun 1920an. Di kompleks musholla ada TK Aisyiyah Bustanul Athfal paling tua di Kotagede, pernah hadir SKKP Muhammadiyah, dan gedung pertemuan yang teletak di belakang musholla yang memiliki arsitektur cantik ini merupakan gedung pertemuan legendaris bagi anak-anak muda Kotagede.

Di gedung pertemuan ini perah dilakukan latihan pencak silat bagi anggota KOKAM KOtagede yang bergabung dalam perguruan pencak silat Senopati. Gedung ini juga menjadi tempat latihan anak-anak muda berlatih drama, mereka bergabung dalam Teater Melati, yang setiap bulan menyelenggarakn malam apresiasi seni.

Bagi anak putri, di tempat ini juga menjadi tempat latihan angklung, denga pelatih Kang Bachrun Nawawi dan Yu Sumirahatun (Yu Atun). Dan kader NA setiap Jum’at mengaji disini. Mengaji dan nyanyi-nyanyi. Gedung Musholla Aisyiyah berikut gedung pertemuan ini sudah sangat tua, karena ibu-ibu yang sekarang berumur 80 tahun, 90 tahun, 70 tahun atau 60 tahun dulu ketika kecil akrab dengan Musholla Aisyiyah ini. Termasuk Ketua PCA Kotagede yang sekarang ini, Ibu Muftiyah Hidayati.

Lebih-lebih pada saat Idul Fitri dan Idul Adha, Musholla menjadi tempat berkumpul anak-anak Muhammadiyah yang akan pawai drum band Idul Fitri dan Idul Adlha, sekaligus menjadi tempat berkumpul mereka ketika pulang, saat anggota KOKAM yang bertugas mengawal pawai, istirahat sambil menikmati segelas teh dan roti plenuk yang lembut dan manis.

Pintu sebelah timur Kotagede juga dijaga oleh jejak Muhamamdiyah berupa gedung SD Muhamamdiyah Purbayan yang sekarang merupakan SD unggulan, SMP Muhammadiyah VII Kotagede yang hampir setiap tahun mengirim muridnya ke luar negeri. Di sebelah barat Purbayan ada kampung Selakraman, tempat lahirnya banyak Kiai-kiai Muhamadiyah termasuk Kiai Humam yang anaknya, Kiai As’ad Humam menciptakan sistem belajar huruf al-Qur’an yaitu sistm iqra’, lengkap dengan cara mengorganisasikanya lewat TPA dan TQA yang sekarang menebar ke seluruh Indonesia.

Buya Ahmad Syafii Maarif pun pernah nyantri dan tinggal di Selokraman dan mendapatkan NBM dari PRM Alun-alun Utara Kotagede. Di utara Selakraman ada kampung Boharen, yang makamnya menjadi tempat peristirahatan terakhir Pahlawan Nasional, KH Abdul Kahar Muzakkir, yang memang asli Kotagede.

Pada awal Muhammadiyah hadir berdiri di Kotagede hanya punya modal Masjid Perak, jaringan langgar dhuwur dan langgar endhek (rendah), Sekolah Dasar, Pesantren, Balai Pengobatan, dan Musholla Aisiyah itu. Sekarang di lingkungan PCM Kotagede hadir lebih dari 50 masjid yang semua berada di bawah koordinasi Bidang Tabligh PCM Kotagede. Muhammadiyah menerbitkan jadwal khatib dan materi pokok khutbah di masjid-masjid yang awalnya adalah langgar atau surau, atau musholla itu.

Jadi, kalau tepat waktu shalat wajib datang, terdengar suara adzan menggema dari 50 masjid itu, bersahut-sahutan dengan suara indahnya. Suara-suara indah juga ini dapat dinikmati setahun dua kali, yaitu waktu anak-anak Muhammadiyah Kotagede bepawai takbiran keliling kota.

Baru-baru ini media pemberitaan internasional yang berbasis di Amerika Serikat, CNN memasukkan Kotagede ke dalam daftar salah satu kota terindah di Asia. Selamat untuk Kotagede.

Mustofa W Hasyim, Warga Kotagede, Yogyakarta