Pengukuhan Guru Besar Haedar Nashir

Pidato Pengukuhan Guru Besar Haedar Nashir Dok BHP UMY/SM

BANTUL, Suara Muhammadiyah – Haedar Nashir dikukuhkan sebagai guru besar Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) setelah menyampaikan pidato dengan pembahasan “Moderasi Indonesia dan Keindonesiaan: Perspektif Sosiologi”, di Sportorium Kampus Terpadu UMY, Kamis (12/12).

Pengukuhan guru besar Haedar Nashir tersebut tertuang dalam Surat Keputusan Kenaikan Jabatan Akademik Dosen dari Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi Republik Indonesia Nomor 35528/M/KP/2019 16 Oktober 2019 lalu.

Guru Besar merupakan tingkatan jabatan fungsional tertinggi dalam dunia akademik. Menurut Direktur Jenderal Sumber Daya Iptek dan Dikti, Ali Ghufron Mukti, Profesor bukan merupakan gelar, melainkan adalah jabatan akademik tertinggi di Perguruan Tinggi. “Profesor adalah jabatan akademik yang dirintis dari Asisten Ahli, Lektor, Lektor Kepala hingga Profesor,” katanya.

Ali Ghufron Mukti berhadap dengan dikukuhkannya Haedar Nashir menjadi Profesor dapat menjadi teladan bagi peningkatan jumlah profesor dan mampu meningkatkan produktivitas dosen Indonesia. Kemudian dapat mengatasi kelemahan dosen saat ini terutama pada budaya menulis serta memberikan manfaat yang lebih bagi bangsa dan umat.

Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah Dahlan Rais menyebut Haedar Nashir dapat menjadi contoh bagi warga Muhammadiyah dan Aisyiyah dalam hal akademik dan menuntuk ilmu. “Ada ceritanya, suatu hari kami bersama Pak Haedar pergi ke suatu daerah, oleh panitia kami disediakan suatu ruangan, Pak Haedar kelihatan seperti merasa gelisah karena ternyata beliau setiap saat kemanapun tidak pernah lepas dari laptop yang dibawanya,” tutur Dahlan Rais.

“Jadi kesempatan-kesempatan yang ada, meskipun misalnya sedikit, beliau selalu menulis dan menulis baik itu untuk warga Muhammadiyah maupun hal-hal yang berkaitan dengan masyarakat secara umum. Maka kami menyampaikan, disamping bahagia, gembira, juga rasa takzim kami. Sekali lagi, di tengah kesibukan yang luar biasa, beliau bisa meraih jabatan akademik yang tertinggi,” tambahnya.

Tercatat Nashir telah menerbitkan sebanyak 30 judul buku termasuk buku Islam Syariat (2007) yang menjadi magnus opus (karya besar) Haedar Nashir. Kemudian, karya Haedar Nashir pun ada yang telah diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris dan Turki. Selain itu, Haedar Nashir juga aktif menulis artikel ilmiah, jurnal dan di media massa termasuk Suara Muhammadiyah.

Mantan Wakil Presiden Indonesia Jusuf Kalla dalam sambutan singkatnya mengucapkan selamat dan turut bangga atas pengukuhan guru besar Haedar Nashir. Jusuf Kalla setuju dengan paparan yang disampaikan Haedar Nashir dalam pidato pengukuhan guru besar, bahwa radikalisme memang tantangan yang harus dihadapi di tengah masyarakat Indonesia saat ini.

“Kita semua sepakat apa yang disampaikan Pak Haedar adalah hal yang sangat penting, karena ketika berbicara tentang isu yang sedang hangat di kalangan masyarakat tentang radikalisme. Radikalisme adalah pemikiran baru yang dianggap mereka genting, bisa diambil contoh reformasi juga suatu proses radikalisme, orde baru juga sama. Dengan pembahasan yang disampaikan tadi, semoga membuat kita berpikir dan menerapkan moderasi sebagai jalan tengah menghadapi radikalisme. Saya ucapkan selamat kepada Pak Haedar atas pengukuhan guru besar ini,” tutur Jusuf Kalla.

Sejumlah tokoh hadir dalam pengukuhan guru besar Haedar Nashir, seperti mantan Wakil Presiden Jusuf Kalla, mantan Ketum PP Muhammadiyah Buya Ahmad Syafii Maarif, Mantan Menteri Kelautan dam Perikanan Susi Pudjiastuti, dan Mantan Menkominfo Rudiantara.

Hadir pula Menko PMK Muhadjir Effendy, Menag Fachrul Razi, Menteri Koperasi dan UKM Teten Masduki, Ketum PAN sekaligus wakil Ketua MPR RI Zulkifli Hasan, Sekjen PDI Perjuangan Hasto Kristiyanto, Politikus PAN Hanafi Rais, Wagub DIY KGPAA Paku Alam X, dan Kapolda DIY Irjen Pol Ahmad Dofiri.(Riz)